Alhamdulillah, saya sangat gembira sekali membaca tulisan Ulil Anshar dari Amerika. Apa yang dijelaskan oleh Ulil Abshar adalah benar adanya.
Kami dari Islam berpaham liberal hanya mengeritik idiologi kekerasan dan ingin mendirikan negara Syariat islam di Indonesia oleh segolongan Islam dari Transnational (istilah PBNU)yang Radikal.Yang tidak radikal sudah tentu tidak akan tersinggung dgn keritikan2 kami dari Islam Liberal..Islam liberal sangat sependapat dengan pemahaman2 ulama2 NU, sesepuh NU, diantaranya adalah; a)anti kekerasan, toleransi dgn banyak perbedaan2 keyakinan agama, dan tidak mudah mengkafirkan keyakinan orang lain seperti Ahmadiyah dan Syiah yang dikafirkan oleh Gol Islam Transnational b)Anti mendirikan negara agama, mempertahankan NKRI danpanca sila dasar negara yang bersumber dari Al Quran. c)Bank2 konventional bukanlah Haram/Riba yang dimaksud oleh gol islam Transnational. Bank2 konventional sangat bermanfaat bagi semua pihak dan tidak terdapat perbuatan yang merugikan. Definisi Riba sudah dijelaskan oleh Wahyu ALLAH kepada Nabi Musa seperti berikutdibawah ini; Exodus 22:21 If you lend money to one of my people among you who is needy, do not be like a moneylender charge him no interest. Dari ayat diatas ini dapat kita simpulkan bahwa memberikan pinjaman kepada seseorang yang membutuhkan tapi bukan untuk berniaga,maka dilarang memberikan bunga. Hukumnya haram. Kalau seseorang meminjam uang untuk keperluan niaga,mencari keuntungan,maka di bolehkan memberikan bunga.Tidaklah haram. Sebab akan memberikan keuntungan kedua belah pihak dan bermanfaat untuk masarakat. http://latifabdul.multiply.com/journal/item/305 d).Anti Diskriminasi atas agama, suku, bahasa, gender dan umur. e) Cara menegakan amar makruf nahi mungkar dengan santun dan baik2. Tidak pernah dengan cara kasar dan kekerasan...atau dgn paksaan f).Ingin menjalin persahabatan dengan semua bangsa, termasuk Amerika dan negara2 barat, dan berlaku adil dan berkasih sayang dgn orang2 kafir yang baik2 yang tidak memusuhi islam. Kesimpulan. Islam berpaham Liberal sejalan dengan tujuan NU dalam bernegara dan beragama..Orang2 yang bersimpatisan dgn perjuangan gol Islam Transnational mereka menuduh JIL mengesahkan segala cara, dan semua agama adalah benar. Itu adalah Fitnah2 yang di propagandakan oleh mereka, kita semua tahu itu. Semoga dengan penjelasan2 dari Ulil Abshar diatas itu awan2 gelap yang menutup sebahagian umat NU dapat di usir, dan mudah2an cahaya islam yang benar akan menerangkan kita semua.amien Mari kita sokong Ulil abshar untuk memimpin NU di abat Informasi ini. Hikmah dari peristiwa 9/11, banyak sekali, selain apa yang di kemukakan oleh Ulil, adalagi dimana Amerika di pimpin oleh seorang president MUDA yang Berkrisma, OBAMA, dari golongan monoritas-Liberal. Inspirasi pemikiran2 Obama menyebar keseluruh dunia untuk; "CHANGE" DARI GENERASI tua, kemuda, dari generasi Konservatif menjadi Liberal, dari bangsa putih menjadi Black Amerika. Begitu pula di Japan, partai tertua Demokrat di kalahkan oleh partai opposisi yang juga Demokrat yang lain. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS 13:11 Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".QS 27:19. Wassalam http://www.islamliberal.net/ --- In [email protected], saidiman saidiman <idhi_man...@...> wrote: > > Majalah Tempo, 31 Agustus - 6 September 2009 > Ulil Abshar Abdalla: > Pengawasan Ceramah Perlu > "SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah âorganismeâ yang > hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan > manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, > lalu dianggap sebagai âpatungâ indah yang tak boleh disentuh tangan > sejarah.â > Alinea itulah yang membuka tulisan Ulil Abshar Abdalla bertajuk > âMenyegarkan Kembali Pemahaman Islamâ dan dimuat di Kompas, 18 November > 2002. Tulisan Ulil, ketika itu dia Koordinator Jaringan Islam Liberal, > memantik reaksi keras dari sebagian kelompok Islam. Forum Ulama Umat Islam, > misalnya, mengetuk palu fatwa mati bagi menantu KH A. Mustofa Bisri, pengasuh > Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien, Rembang, itu. > Empat tahun âmenghilangâ ke Amerika Serikat, Ulil pulang ke Indonesia dan > melempar kejutan: dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar > Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Ke-32, Januari mendatang. Menurut Ulil, > Nahdlatul Ulama sudah berubah dan saatnya dipimpin orang yang lebih muda. > âTentu dengan dukungan kiai-kiai senior,â katanya. > Kepada para senior di Nahdlatul Ulama ini, Ulil juga siap menjelaskan > berbagai pendapatnya yang dianggap kelewat liberal. Dia mengatakan pikiran > dan kritiknya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke Nahdlatul Ulama, tapi > dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. > Menjelang buka puasa Kamis pekan lalu, di Teater Utan Kayu, Jakarta, kandidat > doktor dari Universitas Harvard, Amerika, ini membeberkan pandangannya soal > Islam radikal, Nahdlatul Ulama, dan kehidupan keberagamaan di Amerika kepada > Sapto Pradityo, Yos Rizal Suriaji, Yophiandi, dan Irfan Budiman. > Apa modal Anda maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama? > Bukannya sombong, saya rasa modal saya memadai. Saya punya pendidikan > pesantren yang baik, mengaji fikih sesuai dengan hierarki pesantren, punya > pemahaman kitab kuning cukup baik. Saya lulus dari LIPIA (Lembaga Ilmu > Pengetahuan Islam dan Arab) dan punya pendidikan Barat. Saya juga lahir dari > keluarga NU dan berkiprah di NU cukup lama. > Untuk maju sebagai ketua umum, bukankah perlu restu kiai, seperti kiai > Langitan, Tebuireng, dan Asembagus? Bagaimana penerimaan pesantren-pesantren > itu terhadap Anda? > Saya memang baru pergi ke Asembagus, Situbondo. Itu pun baru ketemu beberapa > kiai. Tapi, insya Allah, saya bisa mendapat restu pesantren-pesantren itu. > Memang ada yang beranggapan saya punya pikiran terlalu bebas. Tapi saya yakin > mereka bisa paham kalau saya jelaskan. > Sebagian kalangan NU merespons negatif Jaringan Islam Liberal. Ini jelas tak > menguntungkan pencalonan Anda. > Pencitraan negatif itu datang dari luar NU dan merembes ke NU. Saya ingin > mengubah citra itu. Pikiran dan kritik saya selama ini sebenarnya tak > diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. > Bagi saya, liberal juga bukan berarti bebas tanpa batas. Saya akan berusaha > mendekatkan ide-ide saya dengan bahasa NU. Di NU sendiri sebenarnya banyak > sekali tradisi liberal. Dalam kasus bunga bank, misalnya, tak ada keputusan > final bahwa bunga bank termasuk riba yang haram. Ada tiga pendapat di NU. > Apa yang perlu direformasi di tubuh NU? > Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya > adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana > berhadapan dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah > sedemikian luas, tak hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah > mereka besar. Banyak juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari > Mesir, Saudi, Pakistan, hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus > diperhatikan NU di masa depan. Dan saya kira untuk merangkul mereka > dibutuhkan pemimpin muda (tertawa). > Bagaimana Anda melihat kecenderungan NU yang kerap tergiur terjun ke politik? > Itu memang masalah besar. Aura partai memang merusak langgam NU. NU memang > sulit berpisah dengan politik karena, sebagai ormas besar, bobot politiknya > juga besar sekali. Idealnya sih kiai memang tidak berpolitik. Seperti kata > Arief Budiman, mereka harusnya menjadi cendekiawan di atas angin. Tapi > okelah, tantangan ke depan, bagaimana NU menempatkan diri secara > proporsional. > Soal terorisme dan kelompok radikal yang sering menjadi kritik Anda. Aksi > teror belakangan marak lagi di Indonesia. Bagaimana sebetulnya memahami > ideologi terorisme mereka? > Fenomena terorisme itu kompleks sekali. Tapi faktor utamanya ideologi. Dan > ideologi tak bisa diindoktrinasikan kalau tak ada kondisi sosial politik yang > kondusif. Ini bisa ditelusuri dari awal abad ke-20, sejak pendirian Ikhwanul > Muslimin di Mesir oleh Hassan al-Banna pada 1928. Mulanya mereka tak radikal, > tapi kemudian semakin radikal sejak 1950-an ketika ditekan dan aktivisnya > banyak ditangkap pemerintah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Salah satu > ideolog yang paling berpengaruh adalah Sayyid Qutb. Saat di dalam penjara, > sekitar 1954, Qutb menulis pamflet Maâalim fiâl Tariq atau Rambu-rambu di > Jalan. Tulisan ini menjadi inspirasi bagi aktivis muslim di berbagai negara > untuk melakukan perubahan radikal. > Ideolog lainnya? > Tokoh lain adalah Syed Abul Aâala Maududi, wartawan dan pemikir Islam dari > Pakistan. Dia banyak sekali menulis buku dan pamflet dalam bahasa Urdu. Salah > satunya Al-jihad fiâl Islam pada pertengahan 1930-an. Dalam pamflet itu, > dia mengajukan penafsiran ulang atas doktrin jihad yang baru sama sekali. > Semula jihad di kalangan ulama Islam dimaknai sebagai doktrin defensif. Di > kalangan Nahdlatul Ulama, misalnya, jihad dipahami bahwa kalau negara atau > tanah Islam diserang oleh umat nonmuslim, umat Islam berhak membela diri. > Salah satu contoh jihad defensif ini, ketika pada akhir 1940-an Belanda > melancarkan agresi pertama, pendiri NU, Kiai Hasyim Asyâari, menyerukan > resolusi jihad melawan Belanda di Jawa Timur. > Seperti apa jihad versi Maududi? > Maududi memaknai jihad sebagai perang ofensif yang sah. Artinya, umat Islam > boleh berdakwah dengan cara perang. Qutb juga bilang, kalau orang-orang lain > di luar Islam tak mau menerima kebenaran Allah, mereka boleh diperangi. Nah, > tafsir itu yang menginspirasi anak-anak muda bergairah kembali mempelajari > Islam, terutama setelah revolusi Iran pada 1979. Mereka mengharapkan > kebangkitan Islam melalui revolusi baru yang dapat mengubah tatanan dunia > melawan dominasi Amerika Serikat. > Siapa lawan mereka sebenarnya: zionis, Amerika, negara Barat, atau kafir? > Lawan utama mereka adalah kafir. Makanya mereka memakai konsep Darul Islam, > negara di mana Islam dijalankan, dan Darul Harb, negara tempat Islam > dimusuhi. Pembagian seperti itu menjadi pembenaran mereka mengumandangkan > perang terhadap negara lain yang dianggap memusuhi Islam. Amerika dianggap > sebagai ikon musuh Islam, melambangkan sekularisme, sementara Amerika sendiri > melakukan petualangan berbahaya seperti mendukung Israel, menjatuhkan > Taliban, dan menginvasi Irak. > Berbeda dengan Ikhwanul, bukankah Al-Qaidah tak mengkampanyekan pendirian > negara Islam? > Fokus mereka saat ini memang mengusir pasukan kafir dan salibis dari > tanah-tanah Islam: Irak, Afganistan, Indonesia. Tapi cita-cita akhir mereka > jelas, yakni mendirikan negara Islam. Tokoh Al-Qaidah, Ayman al-Zawahiri, > berasal dari Mesir, dipengaruhi tokoh Ikhwanul, terutama Qutb. Menurut Qutb, > walaupun umat Islam saat ini membaca syahadat, menjalankan salat, dan > membayar zakat, Islam mereka tak berarti apa-apa karena hanya menjalankan > ritual formal Islam. Mereka hidup di era jahiliyah. Tugas umat Islam saat > ini, kata Qutb, mengislamkan kembali orang Islam dan menumbangkan rezim > sekuler. > Ada yang mengatakan terorisme berakar pada persoalan ekonomi. Menurut Anda? > Itu analisis yang dipaksakan. Sebab, kalau diteliti bahasa dan retorika > mereka, tak ada indikasi sedikit pun mereka peduli pada masalah kemiskinan. > Bagi mereka, masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, dan urusan duniawi hanya > urusan remeh-temeh. > Walaupun kemudian dibantah, polisi berniat mengawasi ceramah di masjid. > Apakah Anda setuju? > Pengawasan memang perlu, tapi tak perlu diungkap ke publik. Kelompok ini kan > tidak banyak, jadi yang diawasi tidak setiap masjid seperti zaman Orde Baru. > Yang diawasi hanya kelompok yang ditengarai terkait dengan jaringan teroris. > Masjid NU, Muhammadiyah, atau Betawi tak usah diawasi. Tapi kalau polisi mau > mengawasi semua masjid, ya, harus ditentang. > Polisi juga memeriksa Jemaah Tabligh. Apa benang merahnya dengan kelompok > radikal? > Jemaah Tabligh sama sekali tak ada hubungannya dengan gerakan radikal. > Ciri-ciri kelompok radikal itu sangat khas, yakni doktrin jihad dengan > kekerasan. Dalam Jemaah Tabligh, tak ada ajaran seperti itu. > Bagaimana dengan ide deradikalisasi teroris? Apakah mungkin? > Ada dua bentuk. Pertama terhadap mereka yang sudah terpapar ideologi ini. > Program seperti ini sudah pernah dilakukan negara seperti Mesir dan Yaman. > Orang-orang yang pernah bergabung dengan organisasi radikal dengan metode > kekerasan, tapi kemudian bertobat, dipakai pemerintah Mesir untuk menyadarkan > rekan-rekannya. Cara ini ada hasilnya. Polisi Indonesia sepertinya juga sudah > memakai metode ini. Yang kedua adalah melindungi orang-orang yang belum > terkena ideologi tersebut. Ulama muslim perlu membuat tafsir tandingan supaya > orang tidak terpukau dengan doktrin jihad kekerasan. > Anda sudah empat tahun di Amerika Serikat. Apakah fobia terhadap Islam di > sana masih ada? > Saya tak pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan. Setelah peristiwa 11 > September, memang muncul fobia terhadap Islam, tapi usaha untuk memahami > Islam juga besar sekali. Peristiwa 11 September seperti berkah di balik > bencana. Setelah kejadian itu, orang-orang berminat mempelajari Islam. Kursi > studi Islam di perguruan tinggi laku. Buku-buku tentang Islam laris sekali, > walaupun buku anti-Islam juga laris. Misalnya Robert Spencer, yang menulis > buku-buku anti-Islam, seperti The Invasion of Islam, jadi perbincangan dan > sering jadi narasumber di kanal Fox. Tapi kanal televisi utama seperti CNN, > PBS, dan NBC malah mempromosikan pemahaman terhadap Islam. > Tak pernah mengalami gangguan? > Sama sekali tidak. Istri saya mengenakan jilbab, bekerja sebagai juru masak. > Teman-temannya beragama Yahudi, Katolik, dan Protestan, dari Venezuela, > Israel, dan Jepang. Mereka malah bersimpati kepada istri saya. Mereka bilang, > âAnda pakai jilbab, tapi tidak merasa terhalang bersosialisasi dengan > kami.â Anak saya juga kalau bulan puasa berpuasa. Gurunya berusaha sebaik > mungkin menjelaskan soal puasa kepada murid yang lain dan mengajarkan > toleransi terhadap ritual muslim. Saat saya mengundang tetangga apartemen, > yang tak satu pun muslim, untuk buka puasa bersama, saya terkejut tetangga > saya yang Kristen hari itu ikut puasa untuk menghormati saya. > Bagaimana pengalaman di Harvard? > Suatu kali ada tuntutan dari beberapa muslimah yang tak nyaman berolahraga > bersama laki-laki. Mereka minta diberi waktu khusus fitness. Universitas > Harvard mengabulkannya. Memang ada yang memprotes keputusan itu, tapi > universitas jalan terus. > ULIL ABSHAR ABDALLA: > Lahir: Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967 > Pendidikan: > * Pondok Pesantren Mansajul âUlum, Cebolek, Kajen, Pati > * Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang > * Sarjana, Fakultas Syariâah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan > Arab, Jakarta (1993) > * Master, Perbandingan Agama, Boston University, AS (2007) > * Kandidat Doktor, Near Eastern Languages and Civilizations, Harvard > University, AS > Pekerjaan: > * Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul > Ulama, Jakarta > * Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace > * Koordinator Jaringan Islam Liberal > * Direktur Freedom Institute, Jakarta. > > > Get your new Email address! > Grab the Email name you've always wanted before someone else does! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
