http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9249:2009-09-17-09-40-36&catid=74:cermin&Itemid=85
Untung Ditangkap Taliban, Bukan Militer AS
Thursday, 17 September 2009 05:16

Hidayah bisa datang di tempat dan saat yang tidak terduga, termasuk ketika 
seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang pernah dianggap kejam dan 
menyeramkan

Hidayatullah.com--28 September 2001, tujuhbelas hari setelah peristiwa 
runtuhnya gedung World Trade Center di New York. Pemimpin reporter Sunday 
Express, seorang single mother berusia 43 tahun, dikirim ke Islamabad untuk 
meliput “perang melawan teroris” yang baru saja dimulai oleh George W. Bush, 
presiden Amerika Serikat kala itu.

Yvonne Ridley mengenakan pakaian khas wanita Afganistan lengkap dengan 
burkanya, ia berusaha masuk ke Afganistan secara ilegal lewat perbatasan 
Pakistan. “Untuk meliput krisis kemanusiaan dan berbicara dengan orang-orang 
Afganistan yang tidak bisa atau tidak mau meninggalkan negara itu,” katanya 
memberi alasan mengapa ia ingin masuk ke negara itu.


***

Bukankah tindakannya itu sangat berbahaya, apalagi untuk seorang wanita dan 
ibu dari seorang putri? “Tapi jurnalis memang mengambil resiko ketika mereka 
memburu berita … Para jurnalis akan pergi (meskipun) ke daerah berbahaya, 
karena sifat dasar mereka pergi ke tempat di mana ada berita baru,” 
tegasnya.

Dalam perjalanan pulang, hanya dua mil dari perbatasan, ketika melewati pos 
pemeriksaan Taliban dekat Jalalabad, keledai yang ditungganginya tidak 
terkendali. Ia pun terjatuh dengan disaksikan lusinan mata tentara Taliban. 
Yvonne berusaha segera mengatasi keadaan, namun kamera yang ia sembunyikan 
di balik jubahnya jatuh.

Seorang tentara Taliban dengan wajah geram karena marah datang 
menghampirinya. “Wow..., kamu tampan sekali,” katanya dalam hati, demi 
memandang seorang pria muda Afganistan bermata hijau dan berjenggot lebat 
itu.

“Tapi kemudian rasa takut menghampiri,” katanya. Ia pikir dirinya pasti akan 
diperkosa beramai-ramai atau dilempari batu hingga mati. “Saya membayangkan 
rasa sakit yang akan saya derita, dan saya berdoa, apapun yang terjadi 
semoga saya mati dengan cepat.”

“Saya sangat takut. Tidak hanya karena saya ditangkap oleh rejim yang paling 
brutal dan kejam di dunia--itu kata-kata Presiden Bush, bukan saya-- tapi 
juga karena mereka membenci wanita! Saya tidak pernah berpikir bahwa saya 
akan bisa melihat matahari lagi sejak saat ditangkap.”

Yvonne lalu dibawa ke markas intelijen di Jalalabad. Di sana ia ditempatkan 
dalam sebuah ruangan ber-AC. “Saya bisa ke toilet yang nyaman dan mandi. Di 
sana saya cukup nyaman kondisinya.”

Setelah enam hari berada di tempat itu, ia pun dipindah ke Kabul. Kondisi di 
sana berbeda dengan di Jalalabad. “Tidak air kran yang mengalir. Jika Anda 
perlu air, maka harus memompa air di luar,” katanya.

“Beberapa kali saya mengira akan dipukuli atau dieksekusi. Satu ketika di 
Kabul, saya tidak bisa mengendalikan emosi lalu meludah, bersikap kasar, dan 
mengumpat mereka.” Yvonne juga mogok makan. “Saya pikir tindakan itu akan 
memicu reaksi keras dari mereka, tapi ternyata mereka kelihatan seperti 
terluka dan berkata bahwa saya adalah 'tamu' dan 'saudara perempuan' 
 mereka.”

Pengalaman Yvonne ditahan oleh Taliban selama 10 hari itu ia tulis dalam 
buku hariannya. “Mereka (Taliban) terus mengatakan bahwa saya adalah tamu 
mereka, dan mereka sedih jika saya sedih. Tak bisa saya percaya … Saya 
mengharap semua orang di rumah tahu bagaimana saya diperlakukan. Saya tebak 
orang-orang pasti berpikir bahwa saya disiksa, dipukuli dan dilecehkan 
secara seksual. Sebaliknya, saya bahkan diperlakukan dengan baik dan hormat. 
Sungguh sulit dipercaya.”

“Perlakuan yang saya terima dari rejim yang dianggap paling brutal dan kejam 
di dunia ini, sama sekali berbeda dengan perlakuan yang diterima oleh para 
pria yang ditahan di Camp X-Ray (Guantanamo),” katanya dalam sebuah 
wawancara.

Ketika masih ditahan di markas intelijen di Jalalabad, Yvonne diyakini 
sebagai seorang mata-mata. “Mereka bilang kepada saya bahwa mereka yakin 
saya adalah seorang mata-mata Amerika. Hal itu membuat saya ketakutan. 
Mereka juga memberikan saya sebuah gaun pengantin sebelum seorang pemuka 
agama menanyai apakah saya mau pindah agama memeluk Islam. Sungguh 
menakutkan.”

Siapa sangka, justru kejadian itulah yang akhirnya menggiringnya untuk masuk 
Islam. “Saya pikir jika saya menjawab ya, orang itu akan mengatakan bahwa 
saya seorang wanita yang cepat berubah pendirian. Dan jika saya jawab tidak, 
maka itu akan menjadi penghinaan besar terhadap Islam. Jadi saya berjanji, 
jika mereka membebaskan saya, maka saya akan mempelajari Islam setibanya di 
London.”

Yvonne tidak melupakan janjinya. Ia pun mempelajari Islam setelah dibebaskan 
Taliban. Kabar mengenai dirinya yang akan masuk Islam diliput dan ditulis 
sebagai berita di banyak media massa internasional. Di tahun 2002 banyak 
yang menuliskan bahwa ia telah masuk Islam, padahal ia belum benar-benar 
masuk Islam.

Seorang da'i terkenal di Inggris, Abu Hamza Al-Masri, bahkan menghubunginya 
lewat telepon. Ia mengucapkan selamat dan memanggil Yvonne dengan sebutan 
“saudari.”

“Saya jelaskan (padanya) bahwa saya belum benar-benar mengucapkan ikrar. Dan 
ia berkata, 'Jangan merasa ditekan atau dipaksa, seluruh komunitas (Muslim) 
selalu ada jika kamu membutuhkan bantuan, hubungi saja salah seorang 
Muslimah.'”

“Ketika itu saya akan segera menutup telepon saat ia berkata, 'Ada satu hal 
yang ingin saya ingatkan. Besok, jika kamu mengalami kecelakaan dan mati, 
kamu akan langsung masuk ke api neraka.'”

“Saya sangat ketakutan, sampai-sampai saya membawa terus salinan janji saya 
di tas, hingga saya benar-benar berpindah agama bulan pada Juni.”

Akhirnya saat musim panas tahun 2003, Yvonne secara diam-diam berikrar 
mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi bagian dari apa yang disebutnya 
“keluarga terbesar dan terbaik di dunia.”

Setelah ia masuk Islam, lagi-lagi media Barat memberitakan hal yang keliru, 
salah satunya BBC. Banyak yang mengira Yvonne menderita Stockholm Syndrome. 
Sebuah keadaan mental di mana seorang korban penyanderaan menunjukkan 
simpati kepada orang yang menyanderanya.

“Masalah Stockholm Syndrome selalu membuat saya tertawa. Saya ini tawanan 
dari neraka. Saya meludah, mengumpat, melempari orang yang menangkap saya 
dan bahkan mogok makan. Agar terkena SS, maka Anda harus berhubungan erat 
dengan para penyekapmu sejak awal. Orang-orang yang berhubungan erat dengan 
saya (ketika itu), dan masih saling kontak hingga sekarang, adalah para 
tahanan bule lainnya. Masalah sindrom ini sering dipakai oleh mereka para 
tukang fitnah yang tidak bisa menjelaskan mengapa seorang wanita Barat 
profesional tertarik memeluk agama Islam.” katanya.

Bagi orang yang mengenal Yvonne sebagai seorang jurnalis tangguh yang 
berjuang layaknya pria--agar bisa mencapai posisi editor--dan sebagai 
seorang wanita yang menuntut persamaan gender, melihat kenyataan bahwa 
dirinya memilih Islam, agama yang dipandang Barat sebagai penindas wanita, 
memang mengejutkan. Ironis, demikian tulis seorang jurnalis di Guardian.

“Sebaliknya,” tampik Yvonne. “Al-Quran jelas menyebutkan bahwa wanita setara 
dalam urusan agama, kekayaan dan pendidikan. Yang sering dilupakan banyak 
orang adalah bahwa Islam itu sempurna, sedangkan pengikutnya tidak.”

“Mereka selalu saling tolong dalam urusan seperti mengasuh anak, menggalang 
dana dan pendidikan. Mereka ingin berbuat baik terhadap sesama. Saya tidak 
menyangka hal itu sebelumnya. Di Barat, kita semua sibuk merebut pacar / 
pasangan orang lain, dan saling mengkritik pakaian dan berat badan,” katanya 
membandingkan wanita Muslim dengan wanita Barat.


Bukan Amerika

Yvonne Ridley lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga penganut Kristen 
Protestan. “Saya anggota paduan suara gereja dan guru sekolah Minggu di desa 
saya di wilayah utara Inggris,” katanya bercerita.

Tidak ada yang ia ketahui tentang Islam sebelumnya, kecuali ia menyakini 
mitos bahwa para wanita Muslim ditindas, dan Islam merupakan agama setan dan 
kejam yang penuh dengan orang-orang fanatik.

Keluarganya di Durham, yang merupakan jemaat Church of England terkejut 
ketika mendengar ia akan pindah agama. “Mereka pikir saya akan mencalonkan 
diri jadi pemimpin besar Ku Klux Klan.”

“Tapi mereka sekarang bisa melihat bahwa saya lebih bahagia, lebih sehat. 
Dan ibu saya senang karena saya berhenti minum minuman keras.”

Tantangan terbesar setelah masuk Islam, bagi wanita yang pernah bercita-cita 
menjadi artis ini, adalah menjalankan shalat lima waktu dan menghentikan 
kebiasaan merokok.

Putri seorang pekerja tambang itu sangat terkesan dengan Al-Quran. “Saya 
benar-benar terpukau dengan apa yang saya baca, tidak setitik atau satu 
coretan pun berubah selama 1.400 tahun.”

“Hal pertama yang saya cermati ketika membaca Al-Quran adalah masalah 
kepemilikan dan hukum perceraian. Saya sangat kagum. Menurut saya, isinya 
seperti ditulis oleh pengacara perceraian di Hollywood saja! Bahkan mungkin 
justru mereka yang terinspirasi dari sana (Al-Quran). Saya begitu bahagia 
melihat bahwa wanita memiliki hak yang sama dalam agama dan pendidikan. 
Bahkan Al-Quran mengakui bahwa kami (wanita) memiliki beban lebih dalam hal 
melahirkan, menyusui dan menstruasi. Menurut saya, kami ini contoh istimewa 
dari mahluk bernama manusia, karena kami memiliki begitu banyak fungsi 
tambahan!”

Menurut wanita yang ikut berperan dalam proses pembuatan situs Al-Jazeera 
edisi bahasa Inggris ini, hal yang istimewa dalam Islam adalah setiap orang 
punya akses langsung terhadap Tuhan-nya. “Anda tidak perlu seorang 
perantara.” Sesuatu yang sangat berbeda dengan agama-agama lain.

Kini sehari-hari Yvonne berbusana seperti layaknya Muslimah, mengenakan baju 
yang menutupi seluruh tubuhnya dan berkerudung. Mungkin yang agak berbeda 
adalah gaya berpakaiannya yang seperti “pejuang wanita.”

“Mengenakan hijab adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Hukumnya wajib dan 
tertulis secara jelas dalam kitab suci kita Al-Quran. Ini merupakan perkara 
yang saya kaji secara mendalam dan saya bicarakan secara panjang lebar 
dengan para ulama dan syaikh, yang latar belakang, garis keturunan dan 
pendidikannya tidak diragukan lagi. Saya tidak mengenakan hijab secara 
tiba-tiba, saya perlu waktu. Dan saya yakin, seorang wanita yang benar-benar 
Muslimah pasti akan memakainya. Mereka para ulama tidak bisa mengatakan 
bahwa hijab merupakan sebuah pilihan. Mereka yang mengatakan demikian (hijab 
adalah pilihan), saya menjulukinya dengan 'ulama untuk uang', mereka yang 
manut kemauan pemerintah. Mereka tahu siapa mereka itu, dan mereka sadar apa 
yang dikatakannya itu salah. Oleh karenanya, menurut saya keputusan seorang 
Muslimah untuk mengenakan hijab adalah urusan pribadi. Ia tahu apa yang 
menjadi kewajibannya, dan akan menjawab sendiri apa saja yang telah ia 
perbuat di hadapan Allah satu hari nanti.”

Suatu hari di bulan November 2007, Yvonne Ridley menjadi pembicara dalam 
sebuah acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Mahasiswa Muslim di 
University of California. Di hadapan para hadirin ia mengatakan bahwa orang 
Islam yang menangkapnya pada bulan September 2001 telah memperlakukannya 
“dengan sopan dan hormat.” Ia membandingkan pengalamannya dengan apa yang 
dialami oleh orang Irak yang menjadi tahanan dan disiksa oleh tentara 
Amerika dalam penjara Abu Ghraib tahun 2004.

“Terima kasih Tuhan, saya ditangkap oleh rejim yang paling brutal dan kejam 
di dunia, dan bukan oleh militer Amerika Serikat,” ujar Yvonne. [Dija, dari 
berbagai sumber/www.hidayatullah.com]


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4447 (20090922) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke