Salam rekan-rekan NU.. Tolong cermati para penanda tangan isi Seruan Keprihatinan ini... adakah orang NU? Biasanya Gus Dur selalu ada wara wiri dengan Buya Maarif... tapi karena sakit, mungkin beliau tidak disoani..
Artinya apa... yang peduli dengan keadaan bangsa dari kaum pembesar nahdliyin selama ini ya Gus Dur aja (ini dalam arti publisitas lho..saya percaya kalau dari sisi batin dan doa..para kiai NU adalah pakubumi Indonesia... tapi dalam ranah syiar lahir ke publik... terbukti tidak ada dari seorangpun penanda tangan Seruan ini) Jadi jelas... keprihatinan Alumni UGM itu sangat beralasan... Tapi mungkin ada yang bilang... mereka lagi sibuk mempersiapkan muktamar... Ini artinya kualitas manajemen di organisasi NU sangat lemah..sehingga pos-pos syiar menjadi terlupakan gara-gara mau hajatan... Walhasil...saya prihatin... dengan sakitnya Gus Dur... kepedulian Nahdliyin turut sakit... Karena memang selama ini yang kerja untuk ranah ini hanya Gus Dur... Tolonggggg.... ________________________________ From: M Supriadi <[email protected]> To: Junaidi <[email protected]>; [email protected]; KAHMI <[email protected]>; JIL KAMPUS <[email protected]>; Iwan KARANGAN BUNGA <[email protected]>; METRO TV KARINA <[email protected]>; ICAL KAWAN DAHLIA <[email protected]>; KARTIKA KAWAN DAHLIUT <[email protected]>; KBR 68 H <[email protected]>; ALIANSI KEBEBASAN <[email protected]>; KEDAULATAN RAKYAT <[email protected]>; ASMUL KHAIRI <[email protected]>; FURNITURE KHARISMA <[email protected]>; KICKANDY <[email protected]>; [email protected]; PERCETAKAN KOKO <[email protected]>; [email protected]; KOMPAS <[email protected]>; KOMPAS <[email protected]>; [email protected]; Benang Komunikasi <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; David Krisna alka <[email protected]>; [email protected]; Luky Kurniawan <[email protected]>; Budhi Kurniawan <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; MAARIF TIM LAMPUNG <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; METRO TV LATIEF <[email protected]>; [email protected]; LENSA NTB <[email protected]>; LENSA NTB <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; lmee lmee <[email protected]>; [email protected]; syafii maarif <[email protected]>; Syafii Maarif <[email protected]>; Supriadi MAARIF <[email protected]>; TGH HASANAIN JUAINI MAARIF AWARD 2008 <[email protected]>; Syafii Maarif Black Barry <[email protected]>; Handi MAARIF METRO <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; [email protected]; FURNITURE MALINDA <[email protected]>; [email protected]; Maria <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; Marmansyah Ucok <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; MEDIA INDONESIA <[email protected]>; Media Indonesia <[email protected]>; Merdy <[email protected]>; SPANDUK MERHAN <[email protected]>; spanduk 2 merhan <[email protected]>; METRO TV <[email protected]>; METROTV <[email protected]>; [email protected]; Muhammadiyah_Society Moderator <[email protected]>; kmnu2000 Moderator <[email protected]>; alumni-ipm-irm Moderator <[email protected]>; [email protected]; BARORI MUHAMMADIYAH <[email protected]>; [email protected]; Muhlasin <[email protected]>; AHMAD IMAM MUJADID RAIS <[email protected]>; Munir Mulkhan <[email protected]>; MUQOWIM <[email protected]>; Indah Mustikawati <[email protected]>; [email protected]; NA <[email protected]>; [email protected]; Tonno Nathadiharja <[email protected]> Sent: Wednesday, September 30, 2009 12:57:17 PM Subject: [kmnu2000] “Seruan Keprihatinan” GERAKAN PENEGAK MORAL BANGSA “Seruan Keprihatinan” GERAKAN PENEGAK MORAL BANGSA Setelah 64 tahun Indonesia merdeka, keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan masih merupakan cita-cita luhur yang belum tercapai. Korupsi dan perilaku kotor birokrat merupakan halangan terbesar pencapaian cita-cita tersebut. Reformasi telah memberikan harapan baru dengan lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang independen dan memberikan harapan kepada publik bahwa korupsi bukan satu hal yang mustahil untuk dibasmi di negeri ini. Kami melihat, beberapa kejadian terakhir, termasuk terbitnya Perppu No 4 Tahun 2009 tentang Revisi Undang-undang KPK dan pengesahan RUU Tipikor kemarin di DPR memberikan indikasi kuat adanya usaha sistimatis memperlemah KPK yang merupakan institusi penting dalam negara demokratis. Dalam konteks inilah, kami para agamawan ingin menyampaikan beberapa hal berikut ini: 1. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ada karena kebutuhan publik untuk mengembalikan kepercayaan kepada institusi keadilan yang selama ini mudah dipermainkan oleh kekuatan uang dan kekuasaan. Dengan berdirinya KPK, institusi peradilan memiliki kekuatan untuk memaksa koruptor masuk dalam penjara. Hal ini memberikan harapan bagi masyarakat untuk memiliki optimisme bahwa korupsi di negara ini bisa dibasmi. Peranan yang begitu besar untuk menegakkan keadilan dan kebenaran memberikan kepercayaan kepada publik Internasional bahwa bangsa Indonesia bisa menegakkan otoritas hukum dimata publik. Hal ini memberikan harapan bahwa demokrasi bisa ditegakkan dengan membangun sistem yang transparan, kridibel serta membawa efek jera kepada para koruptor. Tanda suatu bangsa yang beradab bila dana-dana publik bisa dikelola demi kesejahteraan masyarakatnya dan ini merupakan cita-cita dari amanah pendiri bangsa. 2. Memperlemah KPK dengan alasan apapun berarti menghianati semangat konstitusi yang didalamnya tercantum cita-cita masyarakat yang adil dan makmur serta cerdas bangsa. Cita-cita itu selama ini sudah ditunjukkan oleh KPK untuk memerangi korupsi karena dengan korupsi membawa bangsa ini pada kebangkrutan. Maka lembaga KPK harus diselamatkan dengan alasan mendasar untuk menyelamatkan keadaban publik yang saat ini mengalami kehancuran karena terjadi perselingkuhan penguasa dan modal. Hancurnya keadaban publik ini ditandai dengan dirusaknya institusi KPK. Demi martabat bangsa kami datang kesini untuk memberikan kekuatan moral kepada semua orang yang masih memiliki hati nurani untuk menyelamatkan KPK dari kekuatan hitam yang saat ini merasuki elit politik kita. 3. Kami menghimbau dengan serius agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para pemimpin partai politik agar mempergunakan kekuasaan dan otoritas yang mereka miliki untuk memberikan dukungan politik untuk memperkuat independensi KPK. Kekuasaan harus dipergunakan secara arif dan bijaksana untuk kepentingan rakyat Indonesia bukan untuk kepentingan keluarga, kroni, dan kepentingan citra politik jangka pendek. Demikianlah ”Seruan Keprihatinan” ini kami sampaikan, sebagai dorongan moral bagi tegaknya institusi KPK. Jakarta, 30 September 2009 Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Pendiri MAARIF Insitute) Kardinal Julius Darmaatmadja (Keuskupan Agung/KWI) Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera (Pemimpin Vihara Mendut/ Vice President of World Budhis Sangha Council-WBSC) Dr. Pdt. Richard Daulay (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia-PGI) Dr. Abdul Mu’ti (PP Muhammadiyah) Drs. Uung Sendana, SH. (Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia-MATAKIN) Drs. Nyoman Udayana Sangging, SH., MM. (Sekretaris Pimpinan Pusat Parisada Hindu Dharma Indonesia-PHDI) Romo Benny Susetyo (Konferensi Waligereja Indonesia-KWI) Raja Juli Antoni (Direktur Eksekutif MAARIF Institute) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
