Luka ini lebih sakit dibanding gegar gempa 7.6 skala Richter, sakitnya ini 
sebab:

1) Para insinyur telah menjadi penipu... bahkan dari kalangan organisasi jasa 
pembangunan ada yang berkata "Belum ada pedoman untuk bangunan". Saya 
melihat...betapa dia masih berkelit...menunjukkan betapa sampahnya dia. Di era 
informasi ada dimana-mana, dia masih bilang "tidak ada pedoman"... Yang sudah 
ada saja sengaja dikelabui... Saya berharap ada mekanisme hukum atas gelar 
keteknikan dan profesi. Orang seperti ini perlu dicabut keinsinyurannya dan 
dikenai hukum yang berat atas kesengajaan mengkhianati asas keilmuan di bidang 
teknologi.

Bayangkan, mana boleh bangunan bertingkat bisa menjadi "kua lapis"...masak ada 
lantai-lantai gedung bisa menjadi berdempetan menjadi seperti kue lapis?!!

2) Kelakuan orang-orang yang tak mengerti apa yang harus dikerjakan...mereka 
hilir mudik seperti wartawan yang me-"lalat"...menyebabkan jalan macet, proses 
pekerjaan evakuasi terganggu... Kita bisa saksikan mereka nongkrong di seputar 
proses evakuasi dilangsungkan... Apakah ini sudah budaya rakyat kita??? Kita 
sudah tidak mengetahui dengan baik apa yang mesti kita kerjakan pada hari 
ini... Sebuah budaya yang bodoh dan memalukan!!!

3) Baca berita berikut ini. BUMN PT Angkasa Pura, atau oknumnya, sudah perlu 
diseret ke pengadilan rakyat, demi keadilan.

From: Dedi Afriadi <[email protected]>
Date: 2009/10/7
Subject: [muhammadiyah-KL] Hambatan Bantuan Gempa Di Bandara Minangkabau
To: [email protected], Muh KL <[email protected]>, org mg 
<[email protected]>



  
Hambatan Bantuan Gempa Di Bandara Minangkabau
Beberapa hari yang lalu Presiden SBY telah memerintahkan untuk mengurangi 
proses birokrasi dalam menyikapi gempa yang berlaku di Sumatera Barat.
Akan tetapi Akan tetapi ada pihak-pihak yang diduga memanfaatkan situasi dengan
> menangguk  di air yang keruh untuk mencari keuntungan dibalik penderitaan
> rakyat yang sedang menangis.
> 
> Sebuah pesawat yang membawa bantuan untuk gempa di Sumatera Barat pernah
> diminta dan mereka terpaksa harus membayar uang RM 50.000 (150 Juta) kepada
> oknum di Bandara.
> 
> Sebuah Bank swasta yang menyewa sebuah pesawat yang penuh dengan bantuan
> gempa untuk dibagikan di Sumatera Barat diminta uang RM 5000 (15 juta) oleh
> pihak Bandara. Setelah dibayar hampir saja bantuan itu tidak bisa
> dikeluarkan dari pesawat. Untuk mengeluarkan bantuan itu juga memerlukan
> proses birokrasi dan bayaran sejumlah uang tertentu kepada oknum. Akhirnya
> dengan melalui proses dialog yang cukup lama bantuan bisa dikeluarkan. Pihak
> Bank juga menyewa polisi untuk memawa dan mengawal bantuan itu.
> 
> adira...@...
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke