Penasehat Obama, Hizbut Tahrir, Dan Krisis Demokrasi
Oleh: Dr Maher Al-Ja’bari*)
 
Dalia Mogahed, Penasehat Presiden AS Urusan Agama (Islam) beberapa hari ini 
sedang menghadapi serangan sapu bersih (hujum[un] kâsih[un]) di berbagai media 
dan situs-situs informasi Barat, yang dilakukan karena dua alasan, namun bisa 
jadi keduanya berangkat dari satu alasan, yaitu mengenai kisah baru di antara 
berbagai kisah demokrasi Amerika.. 
 
Sementara orang yang mengamati ulasan pemberitaan dari berbagai liputan media 
dapat melihat bahwa demokrasi di Amerika memiliki makna menurut bangsa Amerika 
sendiri, di samping maknanya yang bersifat pemikiran yang begitu mengagungkan 
kebebasan berkepribadian, kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, dan 
kebebasan berkepemilikan. Ini adalah makna yang menonjol dan yang terlihat 
jelas ketika masalahnya terkait dengan politik Islam, khususnya hal-hal yang 
secara umum maupun terperinci menentang dan menolak Amerika, peradabannya, 
budayanya, dan politiknya. 
 
Ini adalah problem tentang kisah dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Islam 
Channel, yang disiarkan secara live dari London dalam bahasa Inggris. Diskusi 
itu merupakan bagian dari sebuah program “krisis dan masalah perempuan”, yang 
membahas isu-isu perempuan dari perspektif Islam, yang dipandu oleh Ibtihal 
Ismail, namun pada episode hari Ahad, 4/10/2009, krisis yang dibahas berubah 
dari judul program ke salah satu tamu yang berpartisipasi dalam acara tersebut, 
yaitu seorang perempuan yang menjadi penasihat Obama, Dalia Mogahed.  
 
Surat kabar The Daily Telegraph dalam headlinenya menyoroti hal di atas dengan 
judul “Penasehat Presiden Obama Berkata: Syariah Islam Dipahami Dengan Salah”, 
di mana laporan itu mengkritik partisipasi Penasehat Obama dalam program yang 
dikemas oleh aktivis Muslimah Hizbut Tahrir (menurut koran itu), dan 
dipertemukan dengan Dr Nazreen Nawaz sebagai representatif media Muslimah 
Hizbut Tahrir di Inggris. Dalam pandangan surat kabar The Daily Telegraph 
Hizbut Tahrir adalah “kelompok yang meyakini akan kehancuran demokrasi Barat, 
dan terwujudnya kembali negara Islam yang akan menerapkan syariah Islam di 
dunia, tanpa melalui kekerasan.” 
 
Laporan dalam surat kabar The Daily Telegraph menyimpang dari pokok 
permasalahan, dengan mengatakan: “Sepanjang perdebatan, yang berlangsung selama 
45 menit itu, dua aktivis Muslimah Hizbut Tahrir menyerang undang-undang 
positif sekuler, kapitalisme, dan liberalisme Barat, kemudian keduanya menuntut 
agar syariah Islam dijadikan sebagai sumber perundang-undangan…. Sedangkan 
penasehat Obama tidak menyerang keduanya dengan apa yang dilontarkan oleh 
keduanya.” 
 
Di sinilah letak krisis dalam konteks ini, serta problem dari kisah demokrasi 
Amerika tersebut. Sebab, bagaimana penasehat Presiden itu dikatakan diam atas 
serangan sapu bersih (hujum[un] kâsih[un]) terhadap sekularisme Barat, bahkan 
sebelum dan sesudah itu; bagaimana ia berpartisipasi dalam program yang 
ditawarkan kepadanya, sementara dalam program itu ada partisipasi dua aktivis 
Muslimah Hizbut Tahrir yang keduanya selalu mempublikasikan syariah Islam. 
 
Bahkan laporan surat kabar The Daily Telegraph itu menggunakan cara mengutip 
ucapan dari penasehat presiden yang mengatakan: “Saya yakin bahwa alasan 
dukungan dari banyak perempuan (yang ia maksud adalah kaum Muslimah) terhadap 
syariah Islam adalah karena adanya pemahaman lain di sisi mereka terhadap 
syariah yang berbeda dari apa yang beredar umum di media Barat,” dan bahwa 
mayoritas wanita di dunia “menghubungkan antara keadilan jenis kelamin (gender) 
atau keadilan bagi perempuan dengan kewajiban syariah.”  
 
Jadi, dalam hal ini ada masalah yang kompleks dan berkembang pada Dalia 
Mogahed, oleh karena ia tidak berhasil dalam memerangi penentang demokrasi dan 
sekularisme, sehingga ia menerima berdialog di televisi dengan aktivis Muslimah 
Hizbut Tahrir yang jelas-jelas menolak ideolgi Amerika dan turunannya baik 
global maupun terperinci. Kemudian dari sinilah ia berbicara dengan berbagai 
pernyataan yang memberikan kesan positif tentang syariah Islam. Dan tidak 
diragukan lagi bahwa media Barat tidak akan terima jika pernyataan-pernyataan 
itu justru datang dari seorang penasehat presiden Amerika, meski hal itu berada 
di bawah panji-panji demokrasi, yang diharapkan dari Dalia Mogahed untuk 
membelanya. 
 
Tentu saja, ulasan pemberitaan krisis ini tidak hanya pada surat kabar Inggris, 
The Daily Telegraph, tetapi juga disampaikan dan dibicarakan oleh banyak situs 
lainnya seperti headline pada situs “Counter Terorism News”, situs “Jihad 
Watch”, situs “Defending Crusader”, situs “Liberty Republican Forum”,  situs 
“The Jawa Report”, situs “Responsible for Equality And Liberty (R.E.A.L.)”, dan 
situs “The Investigative Project on Terorism”, bahkan kisah itu tidak hanya 
disampaikan oleh situs-situs berbahasa Inggris, melainkan disampaikan juga 
dengan bahasa lain seperti situs “Nieuw Religieus Peil”.  
 
Bahkan sebagian situs-situs ini melakukan provolasi melebihi apa yang 
dilontarkan surat kabar The Daily Telegraph. Situs itu telah mengganti 
pernyataan “penghancuran demokrasi Barat” ketika menggambarkan tentang Hizbut 
Tahrir menjadi “penghancuran Barat,” seperti yang terdapat dalam situs “The 
Jawa Report”. Adapun situs “Harry’s Place” benar-benar telah memprovokasi atas 
penasehat presiden melalui judul berita “Penasehat Obama dan Promosi Hizbut 
Tahrir”.  
 
Laporan surat kabar The Daily Telegraph menghubungkan antara orientasi Obama 
untuk memperbaiki citra Amerika di dunia Islam dengan mengangkat Dalia Mogahed 
untuk bekerja di Gedung Putih. Dalia Mogahed adalah seorang perempuan berjilbab 
keturunan Mesir. Ia pindah dan menetap di Amerika sejak ia berusia lima tahun. 
Laporan mengutip darinya bahwa ia di Gedung Putih berperan dalam “menyampaikan 
aspirasi umat Islam ke Presiden Amerika dan badan-badan lainnya” melalui 
pengamatannya terhadap opini umum di dunia Islam. 
 
Untuk melengkapi cerita di sini harus melihat kontribusi penasehat, Dalia 
Mogahed dalam melakukan penelitian opini umum untuk membantu pemerintah 
Amerika, dan di antaranya adalah buku barunya yang berjudul “Who Speaks for 
Islam?: What a Billion Muslims Really Think?”. Buku ini merupakan usaha bersama 
antara penasehat presiden, sebagai Direktur Eksekutif Center for Muslim Studies 
Gallup World Poll bersama dengan koleganya John L. Esposito, seorang profesor 
agama, urusan internasional, dan kajian  Islam di Georgetown University. 
 
Surat kabar Al-Madinah berbicara tentang buku itu pada hari Jum’at, 9/10/2009, 
dengan mengatakan bahwa buku itu merupakan solusi bagi “masalah berbicara atas 
nama Islam antara mereka yang berada di dunia Islam dengan para pengamat, dan 
mungkin saja mereka yang menunggu Islam ada di Barat,” kemuadia ia memaparkan 
“Sejauh ini, hasil jajak pendapat internasional terbesar….. yang didasarkan 
pada hasil penelitian ilmiah dan lapangan untuk polling internasional adalah 
yang telah dilakukan oleh lemabag “Gallup” yang sudah terkenal dalam pengukuran 
opini umum.” 
 
Lembaga Penelitian Gallup beberapa tahun yang lalu menjadi pusat ulasan berita 
oleh beberapa liputan media Arab. Beberapa media Arab mengutip sesuatu dari 
hasil penelitian  lapangan yang mengkonfirmasikan tentang arah dan 
kecenderungan opini umum di dunia Islam terhadap penerapan syariah Islam, 
seperti dikutip situs “moheet.com” pada 3/3/2004, misalnya. 
 
Tidak diragukan lagi bahwa Barat sedang mengalami krisis demokrasi dalam 
menghadapi Islam politik. Sebab jika Barat menerapkan demokrasi seperti yang 
dianutnya, maka Barat telah membuka pintu untuk mempromosikan Islam sebagai 
peradaban alternatif, membuka jalan untuk aktivitas Islam politik (seperti 
aktivitas Hizbut Tahrir) yang pada realitasnya sebagai proyek kebangkitan 
global, dan membuka medan untuk mengukur opini umum yang sebenarnya. Sehingga, 
tidak diragukan lagi bahwa hal itu bertentangan dengan kepentingan demokrasi 
sebagai lawan dari proyek global ini.
 
 
Jika Barat membolehkan para peneliti dan politisi membicarakan tentang hasil 
analisis-analisis mereka terkait realitas umat Islam, maka realitas itu 
menunjukkan bahwa mereka menginginkan syariah Islam sebagai solusi komprehensif 
untuk masalah-masalah mereka. Sehingga, sebagai akibatnya, Barat tidak berdaya 
selain memfokuskan pada konflik peradaban yang sebenarnya antara Islam dan 
demokrasi, dan Barat akan menolak setiap praktek informasi, riset atau karya 
tulis yang menunjukkan fakta-fakta ini, Barat tidak akan diam selain 
menyerangnya. Dengan demikian, krisis Dalia Mogahed adalah contoh nyata dalam 
hal ini. 
 
Ini adalah krisis yang menimpa demokrasi Barat di depan Islam politik, 
sementara krisis yang dialami oleh media Arab di depan krisis ini adalah bahwa 
matanya masih juling dari melihat semua kenyataan ini. Sekali lagi, muncul 
pertanyaan dan berkembang: Di mana pandangan media Arab dalam masalah-masalah 
ini, serta di mana sikap media Arab terkait dengan Khilafah dan perencanaannya? 
Sampai kapan media Arab akan menghindar dari mengamati apa yang berkenaan 
dengan Hizbut Tahrir dan rencananya hanya dengan mata juling? Pertanyaan tetap 
dilontarkan pada setiap para pekerja media yang mengklaim objektivitas dan 
profesionalisme, dan membawa slogan “pendapat dan pendapat lain”, dan jika 
belum melihat berbagai sikap dengan sebenarnya, maka harus mengecualikan dari 
slogannya, kemudian menambahkan kalimat: “kecuali yang berkaitan dengan Hizbut 
Tahrir dan Khilafah.”
 
Sumber: hizb-ut-tahrir.info
Tanggal: 20 Syawal 1430 H/09 Oktober 2009 M 
 
*)  Dr Maher Al-Ja’bari adalah Anggota Biro Informasi Hizbut Tahrir Palestina 
 
 
 
 

KEDIRI (Arrahmah.com) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH 
Hasyim Muzadi menilai, banyaknya liberalisasi pemahaman melahirkan gerakan yang 
berujung ekstrem.
"Gerakan liberalisme dan ekstremisme di Indonesia perlu disikapi, oleh karena 
itu kami akan membahasnya dalam muktamar mendatang," katanya di Kediri, Jawa 
Timur, Ahad kemarin.

Hasyim yang ditemui dalam kegiatan silaturahmi dan halalbihalal para Masyaikh, 
PWNU dan PCNU se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tersebut 
mengatakan, berbagai gerakan liberal tersebut perlu diwaspadai. "Dikhawatirkan, 
ke depan dapat mengganggu kestabilan negara," katanya.

Menyikapi masalah tersebut, saat ini pihaknya sedang merumuskan konsep tentang 
antisipasi gerakan liberalisme serta ekstremisme, dan saat itu masih dibahas 
oleh PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebagai bahan dalam Muktamar ke-32 pada 
Januari 2010 di Makassar.

Sementara itu, Ketua PWNU PWNU Jatim Kiai Mutawakil Alallah yang juga datang ke 
lokasi mengatakan, berbagai gerakan liberal dan ekstrem tersebut perlu 
diwaspadai, sehingga, diperlukan upaya untuk proteksi, terutama segi akidahnya.

"Saat ini, diperlukan upaya proteksi dan perumusan kaderisasi yang tepat dengan 
melakukan doktrinasi, bukan hanya orientasi saja," katanya menegaskan.

Ia mengatakan, dampak yang disebabkan karena pemahaman yang cenderung liberal 
tersebut, sangat hebat, di antaranya dapat merusak moral maupun akidah umat. 
Bahkan, dampak yang perlu dihindari aliran tersebut dapat merusak konstitusi.

"Jika itu dibiarkan, dampaknya juga dapat merusak tatanan konstitusi yang dapat 
mengancam NKRI," katanya.

Selain melakukan upaya doktrinasi, pihaknya juga akan intensif melakukan 
pencerahan, di antaranya dengan pembuatan buku, sosialisasi ke media, terjun 
langsung untuk memberi pencerahan ke cabang-cabang, serta agenda lainnya.

Melanggar Khittah NU

Sebelum ini, KH Hasyim Muzadi juga mengatakan, visi dan pola perjuangan NU 
menggunakan garis moderat, tidak ekstrim. Karena itu, ekstremisasi agama dan 
liberalisasi pemikiran juga bertentangan Khittah NU, bahkan keluar dari 
prinsip-prinsip ajaran NU.

”Jadi, melanggar Khittah itu nggak hanya rangkap jabatan di partai politik atau 
soal politik. Yang liberal dan ekstrim kanan juga bertentangan dengan khittah,” 
kata Hasyim di Jakarta, Agustus lalu.

Menurut dia, khittah NU terdiri dari tiga bagian penting, yakni, pertama, 
bagian yang mengatur jati diri NU. ”NU menganut ajaran Islam Ahslusunnah wal 
Jamaah. Fikihnya menganut salah satu dari  Imam empat. Dalam bidang tasawuf 
mengikuti Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali. Dalam bidang Akidah mengikuti Al 
Asy’ari dan Al Maturidi,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, ekstremisasi agama dan liberalisasi pemikiran 
KEDIRI (Arrahmah.com) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH 
Hasyim Muzadi menilai, banyaknya liberalisasi pemahaman melahirkan gerakan yang 
berujung ekstrem.
"Gerakan liberalisme dan ekstremisme di Indonesia perlu disikapi, oleh karena 
itu kami akan membahasnya dalam muktamar mendatang," katanya di Kediri, Jawa 
Timur, Ahad kemarin.

Hasyim yang ditemui dalam kegiatan silaturahmi dan halalbihalal para Masyaikh, 
PWNU dan PCNU se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tersebut 
mengatakan, berbagai gerakan liberal tersebut perlu diwaspadai. "Dikhawatirkan, 
ke depan dapat mengganggu kestabilan negara," katanya.

Menyikapi masalah tersebut, saat ini pihaknya sedang merumuskan konsep tentang 
antisipasi gerakan liberalisme serta ekstremisme, dan saat itu masih dibahas 
oleh PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebagai bahan dalam Muktamar ke-32 pada 
Januari 2010 di Makassar.

Sementara itu, Ketua PWNU PWNU Jatim Kiai Mutawakil Alallah yang juga datang ke 
lokasi mengatakan, berbagai gerakan liberal dan ekstrem tersebut perlu 
diwaspadai, sehingga, diperlukan upaya untuk proteksi, terutama segi akidahnya.

"Saat ini, diperlukan upaya proteksi dan perumusan kaderisasi yang tepat dengan 
melakukan doktrinasi, bukan hanya orientasi saja," katanya menegaskan.

Ia mengatakan, dampak yang disebabkan karena pemahaman yang cenderung liberal 
tersebut, sangat hebat, di antaranya dapat merusak moral maupun akidah umat. 
Bahkan, dampak yang perlu dihindari aliran tersebut dapat merusak konstitusi.

"Jika itu dibiarkan, dampaknya juga dapat merusak tatanan konstitusi yang dapat 
mengancam NKRI," katanya.

Selain melakukan upaya doktrinasi, pihaknya juga akan intensif melakukan 
pencerahan, di antaranya dengan pembuatan buku, sosialisasi ke media, terjun 
langsung untuk memberi pencerahan ke cabang-cabang, serta agenda lainnya.

Melanggar Khittah NU

Sebelum ini, KH Hasyim Muzadi juga mengatakan, visi dan pola perjuangan NU 
menggunakan garis moderat, tidak ekstrim. Karena itu, ekstremisasi agama dan 
liberalisasi pemikiran juga bertentangan Khittah NU, bahkan keluar dari 
prinsip-prinsip ajaran NU.

”Jadi, melanggar Khittah itu nggak hanya rangkap jabatan di partai politik atau 
soal politik. Yang liberal dan ekstrim kanan juga bertentangan dengan khittah,” 
kata Hasyim di Jakarta, Agustus lalu.

Menurut dia, khittah NU terdiri dari tiga bagian penting, yakni, pertama, 
bagian yang mengatur jati diri NU. ”NU menganut ajaran Islam Ahslusunnah wal 
Jamaah. Fikihnya menganut salah satu dari  Imam empat. Dalam bidang tasawuf 
mengikuti Junaid Al Baghdadi dan Imam Ghazali. Dalam bidang Akidah mengikuti Al 
Asy’ari dan Al Maturidi,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, ekstremisasi agama dan liberalisasi pemikiran sama-sama 
melanggar Khittah, karena bertentangan dengan visi NU dan pola perjuangan NU. 
Bahkan, jika tidak sesuai dengan dengan jati diri NU, bisa keluar dari 
prinsip-prinsip ajaran NU. (hdytlh/arrahmah.com)
sama-sama melanggar Khittah, karena bertentangan dengan visi NU dan pola 
perjuangan NU. Bahkan, jika tidak sesuai dengan dengan jati diri NU, bisa 
keluar dari prinsip-prinsip ajaran NU. (hdytlh/arrahmah.com)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke