Perlu ada garis merah antara golongan islam fundamentalis dan islam Liberal.

Golongan islam berpaham Fundamentalis ingin mendirikan negara Syariat Agama
Sedangkan Islam Liberal itu menntang berdirinya negara Syariat agama.

Jadi sesungguhnya, jangan ragu2, mengatakan bahwa NU itu adalah Islam berpaham 
liberal semenjak berdirinya NU untuk melawan penjajah dan wahabi.

Jadi petinggi2 NU harslah konsekwen,jangan takut dgn ulama2 yg condong kpd 
funadamentalis wahabi.

Dengan demikian umat NU akan bersatu dan tidak bisa dipecah belah oleh ulama2 
Fundamentalis Wahabi.

Wassalam

--- On Mon, 10/26/09, myaang <[email protected]> wrote:

From: myaang <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] NU Hadapi Aneka Krisis
To: [email protected]
Date: Monday, October 26, 2009, 8:15 PM






 




    
                  NU Hadapi Aneka Krisis

Sesepuh Justru Asyik Berpolitik dan Abaikan Umat

Minggu, 25 Oktober 2009 | 03:59 WIB



Bogor, Kompas - Sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul 
Ulama menghadapi aneka krisis yang bisa mengancam eksistensi lembaga dan 
merugikan bangsa. Perkembangan sosial, politik, dan ekonomi semakin menekan 
massa tradisional NU.



Massa NU yang berada dalam kelompok profesional dan menengah atas cenderung tak 
terberdayakan.



Hal itu mengemuka dalam curah pendapat pengurus dan mantan pengurus cabang 
istimewa NU di luar negeri dalam Konferensi Internasional NU di Bogor, Sabtu 
(24/10). Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU umumnya adalah mahasiswa yang 
belajar di berbagai negara dalam berbagai bidang, mulai dari agama hingga 
teknik.



M Faqih, mantan PCI NU Inggris, mengatakan, nahdliyin (warga NU) sulit maju 
karena selalu terbelah antara warga pedesaan dengan kiainya dan kaum 
intelektual yang umumnya berada di perkotaan. Akibatnya, massa NU yang diklaim 
mencapai 80 juta jiwa terkumpul pada kelompok massa tradisional yang umumnya 
berkutat dalam persoalan agama dan kemiskinan. Sebaliknya, warga NU yang berada 
di kelompok profesional cenderung ingin mengabaikan identitas ke-NU-annya. "NU 
tidak siap maju ke dunia intelektual non-agama sehingga warga NU yang 
berkecimpung di dunia non-agama cenderung meninggalkan identitas NU," katanya.



Aang Asy'ari dari PCI NU Mesir menambahkan, di tengah gencarnya serangan 
terhadap tradisi keagamaan NU, tradisi keilmuan pesantren dan kiai justru 
menurun. Jiwa kejuangan mereka pun kian melemah. Padahal, keilmuan mereka 
sangat diperlukan untuk membendung penyebaran ideologi Wahabi.



"Para sesepuh NU justru lebih asyik berpolitik dan kurang memerhatikan umat," 
ujarnya.



Di pihak lain, kata Asy'ari, NU juga dicap publik terlalu liberal. Kondisi ini 
membuat sebagian warga NU justru melirik faham keagamaan yang sebenarnya 
bertentangan dengan ideologi keagamaan NU.



Berbagai sisi



Ketua Pengurus Besar (PB) NU Masdar F Mas'udi menambahkan, tekanan terhadap NU 
datang dari berbagai sisi. Tekanan dari sisi kanan berupa merabaknya faham 
fundamentalisme dan radikalisme yang tidak dipahami secara utuh warga NU. 
Desakan dari kiri berupa maraknya pemahaman agama secara liberal yang umumnya 
diminati kaum muda NU.



Tekanan dari atas berupa kuatnya represi penguasa dalam politik praktis. 
Dorongan dari bawah berupa semakin rendahnya loyalitas warga NU terhadap 
kiainya. "Di internal organisasi pun terjadi pertarungan antarelite NU," 
katanya.



M Zainal Aziz dari PCI NU Lebanon mengatakan, komunikasi elite NU dengan massa 
di bawah terputus. Karena itu, banyak kebijakan PBNU yang tidak 
terimplementasikan dengan baik karena ulama lokalnya membuat kebijakan yang 
berbeda dengan kebijakan pusat.



Faqih menambahkan, sebagian besar warga NU masih terjebak dalam kemiskinan. 
Namun, sangat minim upaya yang dilakukan PBNU dalam mengatasi kemiskinan 
umatnya.



Dalam bidang pendidikan, mantan PCI NU Jepang, Agus Zainal Arifin, berharap ada 
peningkatan kualitas pendidikan NU, baik yang ada di pesantren maupun 
madrasah/sekolah yang dikelola Ma'arif NU. (mzw)




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke