http://www.facebook.com/?q=#/notes/yahya-cholil-staquf/gus-durku-bung-karnoku-selamat-jalan/226087933226

GUS DURKU, BUNG KARNOKU… SELAMAT JALAN…
by Yahya Cholil Staquf
Mantar Jubir Presiden Gus Dur
Yesterday at 8:16pm

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti 
formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika 
suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di 
Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari 
dalam dan Gus Dur ada didalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada 
sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur 
tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah strokenya yang 
pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan 
fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak 
terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah 
salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi 
ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan 
fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang 
pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti 
percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur 
sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, 
wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Aku telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diriku sendiri 
sebagai murid beliau sejak aku masih remaja. Tapi memang Gus Dur telampau 
besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang 
berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh 
gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya.

Ketika datang kesempatan bagiku untuk benar-benar mendekat secara fisik 
dengan tokoh idolaku, yaitu saat aku ditunjuk sebagai salah seorang juru 
bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan 
karena aku melompat dari santri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot 
kamera para wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi 
inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari 
penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Presiden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali 
pada kitab DBR (Dibawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas 
satu SMP dulu. Mengingatkanku pada “Nawaksara”, mengingatkanku pada 
“Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi 
negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan 
kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang 
beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. 
Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, 
sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka 
presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari 
sumbernya tanpa makelar Amerika. Venezuela mengipor seratus persen belanja 
rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen 
rempah-rempah kita kesana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli 
rempah-rempah langsung dari kita. Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hasanal 
Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunaei Darussalam, lalu 
melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari 
bank-bank di Singapura kesana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi sungguh yang terbetik 
dibenakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menmpuh jalan 
menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung 
Karno. Yaitu mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan 
hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu bahwa masalah-masalah bangsa 
ini hanya bisa dituntaskan apabila berbagai ketidakadilan dalam tata dunia 
yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu bahwa dalam perjuangan semesta itu harus 
tergalang kerjasama diantara bangsa-bangsa tertindas menghadapi 
bangsa-bangsa penindas.

Hanya saja, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. 
Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan 
langkah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir 
politiknya sendiri memang menjadi andalannya. Yang bagi banyak orang 
terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati 
pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik didalam negeri maupun 
diluar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan 
terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku layaknya Deng Xiao Ping 
terhadap Mao Tse Tung.

Tapi pahlawanku bertempur ditengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman 
di hutan-hutan gerilyanya. Maka nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan 
itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, ketimbang ngotot 
seolah terus-menerus mencari-cari posisi ditengah silang-sengkarut dunia 
yang kian semrawut saja. Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang 
terlalu mencintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. 
Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga 
rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih 
hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, 
selama hayat masih dikandung badannya.

Kini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya 
untuk hambaNya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia 
tempat ia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula 
kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini, agar dapat 
beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. Gus Durku, Bung 
Karnoku… Selamat jalan…. 



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke