Mirip dakwah mbah yai Kalijogo yang pada hakekatnya masih harus dilanjutkan 
hingga akhirul jaman dengan senantiasa mengikuti perkembangan jaman.
Saat ini dengan globalisasi banyak urgensi yang tidak bisa ideal seperti yang 
dipatok oleh madzhab tertentu. Banyak kekhususan2 sehingga sementara malah akan 
lebih luwes jika memadukan beberapa madzhab, tentunya hal ini adalah ranah 
seorang ulama yang memiliki santri.
Tetapi masih banyak juga yang menganggap urgensi lintas madzhab itu belum 
diperlukan sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya.
Jadi bukan suatu hal yang harus disesali dan alngkah baiknya jika berpikir 
positif bahwa harus ada sosialisasi terhadap kelanjutan metode dan perspektif 
pandang sementara para ulama kuno semacam mbah yai Kalijogo.
Tentunya hal ini hanya bisa dilakukan oleh ulama ber santri dan yang perlu 
digarisbawahi "Kharismatik".
Kharismatik tidak perlu berscope Nasional, Kharismatik dikampung juga sudah 
cukup asal terjadinya masal, di mana2 ada reformasi dakwah.
Memulainya tentunya marilah kita tidak "menyenjangkan diri" dengan ulama 
kampung, merapatkan barisan dan membina silaturahmi dengan sesering mungkin. 
Mari kita yang di mancanegara untuk tidak meninggalkan kampung-kampung dan 
ngerubung di ibukota dan tidak pulang hanya sekedar duduk di mimbar dan 
berdongeng atas negeri orang, mari kita sering pulang dan kongkow2 di pos2 
ronda dan di dalam rutinan diba'/yasinan/tahlil di kampung kampung.

Wasalam,
Rizky
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: sofwan nadi <[email protected]>
Date: Sun, 14 Mar 2010 21:21:52 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Pesantren and the Freedom of Thinking

Ma'had Aly...menyajikan perbandingan madzhab.. dan juga topik-topik hot yang 
lain. Hehmmm. bagus.bagus.

Ada satu yang masih menggelitik tentang madzhab-madzhab.

Dulu pernah baca buku yang membahas "allaa madzhabiyah..."
kebebasan bermadzhab... antara yang pro dan anti..

Kemarin... masih ada juga buku lebih baru mempersoalkan hal tersebut

Belum lagi persoalan sekitar talfiq dan tidak talfiq...

Saya tercenung. Orang lain sudah selesai dengan persoalan perbedaan 
tuhan-tuhan. Tetapi kita belum selesai dengan hanya pesoalan di sekitar 
madzhab-madzhab. Orang lain sudah atau hampir selesai dengan persoalan yang 
berat. Kita tidak selesai-selesainya dengan persoalan yang lebih ringan. 
Pergumulan kita di sekitar ini sebab apa.....? Ataukah sebab kita ini sakit? 





________________________________
From: Hatim Gazali <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, March 14, 2010 11:15:17 PM
Subject: [kmnu2000] Pesantren and the Freedom of Thinking

  
Pesantren and the Freedom of Thinking (Study of Ma’had Aly Pesantren Sukorejo 
Situbondo, East Java, Indonesia)

by: Hatim Gazali & Abd. Malik
Abstract
Various studies on Pesantren have been conducted through various
lenses and perspectives; however its attractiveness is still there. In
some positions, the pesantren is well known as a conservative
institution in which freedom of thinking is limited. This article is
willing to show that not all pesantrens limit their students’ freedom
of thinking. One of them is Ma’had Aly (higher education), one of the
education institution in Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo
Situbondo which focuses its teaching on fiqh. Fiqh, or islamic
jurisprudence, is one the branches of islamic science. In some
pesantrens, the teaching of fiqh is limited to one school or madhhab,
particularly school of Shafi’i. However, in Ma’had Aly, not only one
school of thought is taught, but fiqh of four schools of thought. It
shows a high tolerance and respect for differences. In order to seek a
new ingredient in formulating islamic law, the teaching of fiqh is
combined with other sciences such as philosophy, sociology, and
anthropology. This new ingredient produces a rich discourse of fiqh and
widens its scope of discussion to include to religious relationship,
gender, human right, ecology, and other contemporary issues such as
interfaith marriage, the possibility of a non-Muslim being presiden,
and the role of women in the public sphere. Looking from the
curriculum, the method of teaching, and the publication of bulletin of
Tanwirul Afkar, this article proves that freedom of thinking is
well-maintained at Ma’had Aly.

Key Words: Ma’had Aly, freedom of thinking, and Pesantren

Sources: Journal of Al-Jamia’ah, Vol. 47. No.2, 2009

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke