Menyisir Reruntuhan Benteng Somba Opu

Jumat, 17 Oktober 2008 | 07:32 WIB
MAKASSAR, KAMIS -
Jika anda ke Makassar, Sulawesi Selatan, sempatkan sejenak untuk mampir
ke Benteng Somba Opu. Konon kabarnya, benteng yang dibangun Sultan Gowa
ke IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna pada tahun 1525 ini,
dibangun dari tanah liat dan putih telur sebagai pengganti semen. 

Secara
arsitekturial, benteng ini berbentuk segi empat, dengan panjang sekitar
2 kilometer, tinggi 7-8 meter, dan luasnya sekitar 1.500 hektar.
Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. 

Pada
abad ke 16 benteng ini sempat menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan
rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa.
Sayangnya, tanggal 24 Juni 1669 benteng ini dikuasai oleh VOC dan
kemudian dihancurkan hingga terendam ombak pasang. 

Kini,
benteng Somba Opu lebih tepat disebut sebagai reruntuhan. Kegagahan
benteng yang ada di masanya dulu, seakan lapuk dimakan usia. Kedua
bastion yang dulu ada di atas benteng, kini hanya tinggal onggokan
puing saja. Sebagai gantinya, di atas bekas bastion tersebut dibangun
saukang yang digunakan untuk tempat berdoa dan pemujaan bagi masyarakat
setempat. 

"Kami biasanya ke saukang bersama keluarga besar setiap setahun sekali," kata 
Hamid De Nyondrik (41), warga Sarombe, Gowa.

Adatnya,
warga datang ke saukang membawa sesaji seperti nasi putih, nasi merah,
atau nasi kuning, ayam bakar, dan bunga. Setelah dibacakan doa, sesaji
tersebut dimakan besama keluarga. 

Relokasi 300 Warga

Benteng
Somba Opu ditemukan sejumlah ilmuwan tahun 1980-an. Sekitar tahun 1990,
bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi sehinga tampak lebih
indah. Dahulu, di atas benteng tersebut terdapat pemukiman warga.
Karena itu, seiring adanya rekonstruksi tersebut sekitar 300 warga
direlokasi ke Taeng dan Sapiria sebelah utara untuk pengembangan
benteng. 

Selain reruntuhan benteng Somba Opu, di dalam
kompleks benteng terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi
Selatan, seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Kajang. Selain itu, juga
terdapat sebuah meriam bernama Baluwara Aung sepanjang 9 meter dengan
berat 9.500 kg, dan sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah
peninggalan Kesultanan Gowa. 

Pengunjung cukup membayar biaya retribusi Rp 1.700 untuk dapat masuk ke 
kompleks benteng Somba Opu.


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke