Sebut Dia Herdjuno Darpito!
                
                        By                       beritaseni on 
                         November 14th, 2008
                                        

                
                        

Oleh TM. Dhani Iqbal
Kenapa
Ikrar Nusa Bhakti tidak memberikan judul lengkap pada tulisannya yang
berjudul Kesengsem kepada Sultan (Kompas, 1/11)? Mengingat banyaknya
sultan di negeri ini, bukankah seharusnya Ikrar memberikan judul
Kesengsem kepada Sultan Jawa?
 

Niat
mengeliminir eksistensi seluruh kesultanan di Indonesia tampak dari
judul yang diberikan oleh Ikrar Nusa Bhakti ini. Dan niat itu
diperbesar dengan menyatakan jumlah orang yang mengikuti proses
pencalonan Sultan Jawa sebagai presiden di Yogyakarta pada 28 Oktober
lalu adalah 220 ribu dengan 1000 koordinator. Namun, melihat banyaknya
manusia yang hadir saat pencalonan tersebut, Ikrar menaikkan angka
manusia yang hadir menjadi 350 ribu orang.
 

Sebagai
seorang wartawan yang biasa meliput peristiwa demonstrasi, sulit bagi
saya ada orang yang dapat memastikan jumlah manusia dalam sebuah
perhelatan massal, apalagi dengan menambahkan angka 50 dibelakangnya.
Para wartawan, biasanya, menyebut angka seratusan, seratusan ribu, atau
lima ratusan ribu untuk jumlah peserta demonstrasi yang sulit
terhitung, dan tidak pernah menyebutnya 200 ribu atau 350 ribu orang.
Jika itu dilakukan, sulit untuk dipungkiri bahwa penulisnya memiliki
maksud politik atau kesukuan yang tidak transparan.
 

Ada
adagium bahwa angka genap selalu berbohong. Dan demikianlah adanya
dalam konteks ini. Ikrar mungkin terperangkap (dengan senang hati?)
dengan pemberitaan media massa mengenai jumlah peserta acara tersebut.
Padahal, sebenarnya media massa sendiri berbeda-beda dalam jumlah ini.
Ada yang menyebut angka 200 ribu, 150 ribu, dan ada juga yang menyebut
kurang dari 10 ribu orang. Selain itu, ada juga informasi yang
berkembang di sejumlah milis bahwa orang-orang Jakartalah yang berperan
penting dalam penyediaan transportasi dari daerah-daerah sekitar
Yogyakarta ke lokasi acara.
 
Sedari
awal, proses pencalonan Hamengkubuwono X yang dikemas dalam acara
bernama Pisowanan Ageng, yang artinya adalah Rakyat Mengadap Raja,
mengandung masalah. Panitia acara mengatakan bahwa acara itu akan
dihadiri oleh 45 raja seantero nusantara. Dan satu diantaranya berasal
dari Kesultanan Ternate.
 

Namun
saat dikonfirmasi, Permaisuri Sultan Ternate Mudaffar Sjah, Boki Nita
Budhi Susanti Mangaloa, membantah adanya dukungan Ternate kepada Sultan
Jawa. Selain tidak ada undangan yang diterimanya, forum komunikasi
keraton yang diketuai kesultanannya pun tidak pernah melakukan
pembahasan tentang siapa mencalonkan siapa.
* Jika kawan-kawan ingin kembali membongkar isi kepala tentang perpektif 
postkolonial, tulisan ini bisa dijadikan salah satu sumber. Iqbal mengambilnya 
dari sesuatu yang dekat dengan kita, yakni MEDIA MASSA. Dan lagi kasusnya pun 
masih hangat, pencalonan presiden. Baca aja deh di http: 
http://beritaseni.com/?p=435#comment-2671
salam hangatfrino bariarcianur



      

Kirim email ke