Setuju sekali.
Seperti Al Gore bilang,"Plant tree, lot of trees."
Apa sih susahnya menanam pohon, menyisihkan sepetak tanah untuk pohon? 
Ada rumah baru di dekat rumah saya yang menyulap rumah lama (bangunan tahun 
70an yang teduh dengan halaman depan dan tengah yang asri) menjadi model tinggi 
(sok) mediterania. Halaman depan dipasang keramik dengan struktur miring, 
sehingga bila hujan air akan langsung ke got. Hanya sedikit petak kecil 
disisakan untuk tanaman kamboja dan lantana. 
Di bagan depan pagar, pohon besar digantikan 3 buah palem. What the heck? Ia 
memiliki 3 orang anak dan tidak berpikir untuk 'menabung' air hujan? Apa ia 
pikir air bersih dapat keluar dengan sendirinya kalau siklus air ia patahkan?

Hal kecil ini yang harus kita pikirkan. Di negara maju seperti Jepang dan 
Eropa, mereka mencari alternatif 'menabung' air dengan membuat tampungan air, 
di negara kita, orang tidak peduli karena masih beranggapan air toh melimpah. 
Padahal, pelan-pelan masalah air menjadi sengketa di banyak negara. 
Saya lihat kalangan arsitektur sudah banyak menyarankan penghindaran pembetonan 
ruang untuk garasi (luar). Alternatifnya adalah conblok dengan lubang di tengah 
yang memungkinkan air hujan dan bekas cucian mobil dapat terserap tanah. Ini 
juga membantu pendinginan kala kemarau.

'Penyakit' lain masyarakat kita adalah lebih hobi mengkoleksi 'tanaman mahal' 
dan melupakan pohon multi guna (sehingga nggak peduli lahan resapan berkurang, 
pohon bertumbangan). Kasus longsor di Karanganyar tahun lalu ditengarai karena 
area2 yang awalnya ditanami pohon besar, disulap menjadi nursery anthurium, 
yang didewa2kan sebagai tanaman jutawan. Padahal semua itu cuma gorengan 
pedagang.
Lebih baik kalau kita tanami pohon. Pohon produktif (buah) tentu akan memberi 
banyak kegunaan: daun menyerap karbondioksida dan buah yang dapat dikonsumsi.

Semoga bermanfaat.



      

Kirim email ke