Legenda Sangkuriang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(http://id.wikipedia.org/wiki/Legenda_Sangkuriang)
Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut
berkisah tentang penciptaan danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung
Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul.
Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda
hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan
fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak
beribu tahun sebelum Masehi. Kejadian-kejadian alam di sekitar danau Bandung
termasuk terbentuknya dan mengeringnya danau tersebut diceritakan secara lisan
turun-temurun.
Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai
legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang
berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskha
tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau
Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan
pulau Bali pada akhir abad ke-15.
Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang
sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali
menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai
berikut:
Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)
Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)
Kesesuaian dengan fakta geologi
Legenda Sangkuriang sesuai dengan fakta geologi terciptanya danau Bandung dan
Gunung Tangkuban Parahu.[1]
Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah
berumur 125 ribu tahun. Danau tersebut mengering 16000 tahun yang lalu.
Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda purba dengan tipe letusan Plinian
masing-masing 105000 dan 55000-50000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua
telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda purba sehingga menciptakan Gunung
Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung
Bukit Tunggul.
Adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah menempati dataran tinggi
Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah
barat sungai Citarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada
55000-50000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari
sisa-sisa Gunung Sunda purba. Masa ini adalah masanya homo sapiens; mereka
telah teridentifikasi hidup di Australia selatan pada 62000 tahun yang lalu,
semasa dengan Manusia Jawa (Wajak) sekitar 50000 tahun yang lalu.