--- Pada Jum, 28/11/08, suwandi ahmad <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: suwandi ahmad <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [airputih] Kaca Spion (Andy F Noya)
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Jumat, 28 November, 2008, 12:52 AM










    
            Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan

Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta.

Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke

sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar

perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun

baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh

dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat

sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini

gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya

juga masih sama.

Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya

ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi

ada hal lain yang membuat saya gundah.



Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu

mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit

saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari

buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan

buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya

melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku

baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum

meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado

di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam.

Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero

Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.

Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya

pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari

kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan

Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian

Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.

Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian

Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di

sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya

menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan

kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi

menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika

suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil

sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak

ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas

dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan

tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain

bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil.

Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer

saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah

saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang

sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah

garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya

disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar

yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.

Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya

tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar

keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. dengan suara

keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta

ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak

bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca

spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang

senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang

mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos

menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu

dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan

ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari

menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan

hidup sebulan.



Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk

mengambil uang.

Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan

uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir

bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu

ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah

artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat

kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?



Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat

wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci

pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya

benci orang kaya.



Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban

mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.

Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan

orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang

gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik,

diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya

bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya

puas. Ada dendam yang terbalaskan.



Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang

kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil

mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka

tidak punya hati nurani.



Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa

kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu

tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah

berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan

kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa

bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu

karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.

Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba

makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika

dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu

berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk

untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan

meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.



Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada

ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi

sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang

berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi

sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.



Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak

sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca

spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam

hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah

satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.

Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik,

ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat

untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor

yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang

dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain

karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam

sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa

dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.



Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.



Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta

maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia

berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut

ganti rugi.

Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas

segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada

saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.

Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan

begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang

itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti

yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman

hidup yang pahit.


         
        
        








        


        
        


      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke