---------- Forwarded message ---------- From: E Puspitasari <[EMAIL PROTECTED]> Date: Mon, 1 Dec 2008 05:37:13 -0800 (PST) Subject: Jangan pernah berhenti berbuat baik pada orang lain... To: 34 milis <[EMAIL PROTECTED]>, my email <[EMAIL PROTECTED]>
Best regards, Endang Puspitasari [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] --- On Mon, 12/1/08, Risa A <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Risa A <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Jangan pernah berhenti berbuat baik pada orang lain... To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "team. dic" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED] Date: Monday, December 1, 2008, 2:27 PM Berbuat kebaikan (Acts of kindness) terkadang terlihat sebagai sebuah hal kecil yang sangat terlalu sederhana untuk dilakukan oleh seorang insan manusia. Dari berbagai pilihan 'kebaikan' yang dapat dilakukan, diantaranya ada 'tersenyum', menyapa orang dengan ramah, 'mengucapkan terima kasih', sabar dalam mengantri & tidak menyerobot, atau contoh klasik yang sering diajarkan dari kecil seperti membantu seorang nenek saat sedang menyeberang jalan. Membantu seorang nenek menyeberang jalan, walaupun terkesan 'basi' tapi sebenarnya merupakan sebuah simbol, dimana seorang insan manusia bisa membantu seseorang yang dianggap kurang berdaya untuk mencapai tujuan. Bisa dibayangkan 'sang nenek' yang mungkin memiliki kesulitan menyebrang jalan, karena takut tertarbrak kendaraan (terlebih lagi kalau akan menyebrang jalan di jakarta yang lumayan semrawut dan dilewati kendaraan bermotor yang cenderung kencang atau ugal-ugalan). Bukannya tidak mungkin, ramainya kondisi jalanan menyebabkan sang nenek butuh waktu lama untuk menyebrang. Memang belum tentu semua insan yang masuk ketegori nenek-nenek mengalami hal yang sama. Tapi bisa terbayangnya apabila seseorang yang takut menyebrang, dibantu tentu bisa lebih berani menghadapi rintangan yang ada. Karena perasaan kurang/ tidak berdaya pun bisa sirna karena adanya bantuan yang muncul akhirnya menimbulkan rasa berani untuk melintas dan menyebrang. Baru saja kurang dari 1 hari yang lalu, saya mengalami sebuah pengalaman yang akhrinya teratasi karena ada seseorang yang memberanikan diri untuk melakukan 'acts of kindness' / berbuat baik. Tindakan orang yang saya tidak tahu namanya telah menyelamatkan saya, istri dan anak dari sebuah potensi malapetaka bagi keluarga kami. Pada hari minggu lalu 30 November 2008, saya dan keluarga mendapatkan sebuah pengalaman yang mengerikan saat sedang berkendaraan menju rumah kami. Dalam sebuah perjalanan menuju kediaman kami, kami hampir mati akibat tindakan tidak bertanggung jawab dari sekumpulan massa dari sebuah ormas berbasis kesukuan di Jakarta. Insiden tersebut dimulai saat kami sedang menunggu antrian lampu lalu lintas di daerah perempatan lebak bulus. Karena lampu sedang merah, kami berhenti pas sebelum garis lampu lalu lintas, saat sedang menuju arah stadion lebak bulus. Ketika kami sedang tenang menanti lampu menjadi hijau, sekumpulan iring-iringan kendaraan roda dua lengkap dengan anggota berseragam, menggunakan ikat kepala dan membawa bendera berwarna hijau, berteriak-teriak , "Woi... Minggir!!! Minggir!!! Mau lewat nih!!!" Karena lampu sedang merah , dan kendaraan dari arah kanan masih banyak yang melintas, kami tidak menanggapi teriakan tersebut. Tapi kemudian dengan kasar, teriakan justru semakin menjadi, dan mobil yang kami tumpangi mulai dipukuli dari belakang dan samping. Dengan ramah saya berusaha memberitahu bahwa lampu masih merah. Tapi nampaknya hal itu tidak diperhatikan. Bahkan teriakan mereka semakin lantang, dan mulai mengatakan " Udah bab-blasin aja... Ga papa..." Namun berhubung saya tidak mau membahayakan keselamatan istri dan anak yang baru berusia 2 tahun, saya tidak menggubrisnya. Tapi toh, kondisi rusuh semakin menjadi, bahkan cenderung kasar. Nah, karena saya khawatir akan kondisi yang nampak semakin tidak bersahabat, saya berusaha mempercepat laju kendaraan untuk "kabur" dari situasi itu. Setelah melewati sebuah hypermart, kantor pemadam kebakaran, dan mengambil lajur disebelah kiri, kendaraan kami terjebak kondisi jalan yang macet. APES!!! Itu reaksi saya, karena ternyata motor-motor itu ternyata mengikuti kami. Dan hanya dalam hitungan detik, mobil kami sudah dirubung sekumpulan orang dari kelompok tadi. Teriakan mereka makin kasar dan tidak sopan, bahkan meminta saya untuk turun. Mereka memaki kami dengan kasar. Walaupun sudah saya coba jelaskan bahwa saya berkendaraan dengan anak dan istri, tapi itu tidak di gubris. Malah istri dan anak saya yang sedang berteriak-teriak ketakutan, turut dimaki. Saya kemudian dengan agak keras, meminta mereka untuk membri jalan. Tapi justru kami semakin dirubung, dan di teriaki, "Tabrak kalau berani... Turun lo, Bangsat... Dst, dst..." Saya memilih untuk tetap berdiam di mobil, sambil berpikir keras, mencari celah supaya mobil kami, bisa 'kabur' dari situasi itu. Yang menyeramkan kami, mobil kami dipukuli, di tendang, dan ke hantam bambu dari gagang bendera yang mereka bawa. Bahkan, walaupun berusaha nampak berani, kami sangat takut saat ada yang berteriak, " Udah bakar aja..." sambil turut berteriak istilah yang digunakan untuk mengaungkan Tuhan YME. Beruntungnya, ada sesosok malaikat yang kami yakin dikirim untuk menyelamatkan kami. Sesosok lelaki bercelana panjang loreng, sekejap muncul dan berteriak agar massa memberikan kami jalan. Seketika itu pula saya tancap gas dan meninggalkan tempat kejadian. Memang 'act of kindness' yang dilakukan Pria tersebut, telah menyelamatkan kami dari potensi amukan massa. Setiba dirumah, kami tidak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan, yang telah mengirimkan sosok lelaki tersebut. Pada kesempatan ini, ijinkan kami berterima kasih pada anda yang berani mengambil resiko ditengah kondisi massa yang berbahaya, dan berbuat kebaikan memberika jalan, sehingga kami terhindar dari situasi yang buruk yang kami pun tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Semoga, bapak... Siapapun anda, mendapatkan balasan dari Tuhan YME atas tindakan yang anda lakukan. -- Risa Alexander Karisma Recovery Society [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] -- ~Endang Puspitasari~ [EMAIL PROTECTED]
