Kalau ditanyakan tentang SPMA kepada orang asli Bogor, pasti sebagian besar
mengenalnya. Sekolah pertanian yang gedungnya saat ini berada di Cibalagung
Ciomas sangat dikenal di Bogor. Tapi, apabila ditanyakan, dimanakah gedung
SPMA yang pertama? Bakalan banyak yang tidak mengetahuinya.

Sebenarnya bukan yang pertama sekali, tapi pertama dalam bentuk sekolah
menengah pertanian yakni letaknya di Jalan Merdeka no.99. Saat ini, bangunan
yang masih kokoh ini digunakan sebagai Pusat Penelitian Tanaman Pangan.
Namanya pun awalnya adalah MLS (Middelbare Landbouw School), kemudian
berganti-ganti dan terakhir pada tahun 2001 sampai sekarang menjadi STPP
(Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian. Namun tetap yang terkenal di
masyarakat adalah nama SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) yang disandang
sejak tahun 1950

Kiprah Landbouw School bermula saat Dr. Melchior Treub (Direktur Kebun Raya
saat itu) membuka Land en Tuinbouw Cursus pada 6 Juli 1903 di Kebun Raya.
Walau muridnya baru belasan saja (awalnya hanya 13 orang) namun kepedulian
dan kedisiplinan akan keilmuan menjadi teladan. Sebagian besar siswanya
adalah pribumi yang pintar dan peduli akan kemajuan bangsa Indonesia.
Sehingga, saat kebangkitan nasional dihembuskan pada tahun 1908, sekolah ini
menjadi salah satu penyokongnya.

1913, namanya berubah menjadi Middelbare Landbouw School. Dan jenjangnya
sesuai dengan namanya sebagai pendidikan menengah atas pun diembankan
padanya. Sehingga mulailah dilahirkan dari sekolah ini para
penyuluh-penyuluh pertanian yang tangguh, para tenaga lapangan, serta
pengusaha-pengusaha pertanian yang mumpuni.

Barulah pada tahun 1916, MLS menempati gedung di Tjikeumeuhweg (sekarang
Jalan Merdeka No.99). Banyak alumni sekolah ini yang menjadi orang-orang
ternama, salah satunya Laksamana Soebijakto. Bahkan, salah satu alumni tahun
1919, menjadi kepala sekolah MLS pertama yang berdarah pribumi, yaitu: R.
Sodo Adisewojo. Mang Udel, seorang seniman serba bisa pun tercatat sebagai
lulusan sekolah ini.

Di Jaman penjajahan Jepang, MLS berubah namanya menjadi Nogyo Senmon Gakko
atau Sekolah Pertanian Menengah Tinggi (SPMT). Selain diajarkan ilmu
pertanian, pada masa Jepang diajarkan pula kemiliteran. Niatnya untuk
membantu Jepang sebagai saudara tua menggempur sekutu. Namun, dimanfaatkan
oleh para siswa untuk membantu perjuangan merebut kemerdekaan.

Salam,
Bagja

Foto jaman dulu dan foto saat ini silahkan dilihat di:
https://bagja2000.multiply.com/photos/album/113/Middelbare_Landbouw_School_te_Buitenzorg_1916_-_2008

Kirim email ke