Maaf,
sekedar promosi ya. 

 

SALAM TAPIAN

 

Desember sama dengan Kelahiran. Dengan K
besar, untuk mengingatkan kita pada Roh yang Kudus. Kelahiran dan proses tumbuh
menjadi besar dan dewasa identik dengan Ibu, kaum perempuan sanjungan kita
semua!  Dalam tatanan budaya etnis
tertentu, yang tak kenal kata tawar, peran Ibu bisa bukan apa-apa. Mereka
seperti dilahirkan hanya untuk mengabdi kepada keluarga. Pelayan! Dalam
pengertian kata itu yang sesungguhnya, mereka bisa membanting tulang untuk
membesarkan dan menyekolahkan anak-anak yang mereka lahirkan. Dan jika martabat
keluarga membubung tinggi, karena upaya perempuan, ironisnya yang dikenang
orang dengan cepat justeru ”sang suami.” Tanpa pamrih, belum merupakan ungkapan
yang pas untuk kebajikan hidup kaum Ibu.

            Di
bulan Desember ini manusia yang menjadi junjungan kita itu dirayakan secara
nasional dalam Hari Ibu. Untuk menghormati kaum Ibu, melalui rubrik Sudut
Pandang, TAPIAN menurunkan sebuah laporan tentang perempuan-perempuan ”perkasa”
yang tidak saja mengayomi keluarga mereka, tetapi juga memuliakan masyarakat
dan lingkungan. Wartawan majalah ini, yang jumlahnya terbatas, menongkrongi
Ibu-Ibu yang merawat Bumi dengan berjuang untuk mempertahankan kehidupan bakau
sebagai pelindung pantai kehidupan. Rekan kami juga berpeluh mengikuti seorang
Ibu yang bekerja sebagai tukang panggul, untuk menyebutkan satu-dua di antara
Ibu-ibu yang dahsyat tersebut. Laporan ini tentu masih jauh dari memadai. Dan
terasa, maaf,  terlalu Jakarta sentris.
Sebab, kita tak boleh lupa, ada perempuan yang bekerja sebagai kenek dan tukang
becak dayung di Medan. Mungkin juga pekerjaan lain, yang belum kita dengar dan
tak pernah terlintas di benak kita. Tulisan perempuan-perempuan perkasa dari
etnis batak ini kami beri judul, ”Boru-Boru Batak Inspirasi Kita Semua.”
Tulisan ini juga di analisis oleh seorang psikolog yang sering melakukan
pengamatan mengenai semangat ”survival” yang dimiliki oleh kaum
perempuan. Frieda Mangunsong memberikan penjelasan tentang hal itu.  

 

            Dalam
rubrik Legenda kami tampilkan Malin Kundang Batak, ”Sampuraga.” Disajikan
dalam tulisan ”Kolam Sampuraga Tempat Memuja Kemuliaan Kaum Perempuan, Ibu
Kita Semua.” Ada pula uraian (Kritik) yang kritis mengenai kaum perempuan
yang selalu dijadikan tumbal untuk merebut kekuasaan. Bagaimana rezim fasis
Suharto, dengan licik membohongi publik, menuduh perempuan menyileti kemaluan
para jenderal yang terbunuh dalam peristiwa G30S, sebagai bagian dari upaya
untuk menyusun kekuasaan baru di negeri ini, hampir setengah abad yang lalu.
Tulisan berjudul ”Merumuskan Kembali Keindonesiaan” ini merupakan
ringkasan naskah dari pidato kebudayaan yang disampaikan oleh I Gusti Agung
Ayu Ratih.  

            Sekarang
ini, terutama di kota-kota besar, tak sedikit anak-anak dari kaum Ibu kita yang
bisa menikmati hidup yang berbunga-bunga. Tapi, tak kurang jumlah mereka yang
papa sengsara, bagi siapa sesuap nasi adalah sebuah harapan yang begitu jauh.
Yang terkadang harus dibayar dengan nyawa. Seorang rohaniawan yang selama
bertahun-tahun berjuang untuk meningkatkan derajat anak-anak, dan tanpa pamrih
hidup bersama mereka, menulis tentang hak-hak anak yang hilang sementara Negara
tak kunjung datang untuk mematuhi janji kesejahteraan dan harga diri buat
mereka, sebagaimana yang diharuskan konvensi internasional di mana Indonesia
menjadi pihak. Semua tertuang melalui tulisan I Sandyawan Sumardi (Romo
Sandy) yang menyatakan ”Nyanyian Jiwa Merdeka.” 

Tak henti-hentinya juga kami menyajikan
rubrik spiritualitas yang berupaya  menyajikan
bahan-bahan refleksi demi peningkatan kualitas rasa kebersamaan dan kemanusiaan
di Indonesia. Kali ini Franz Magnis Suseno (Romo Magnis) menyampaikan
bahwa kritik harus disampaikan secara elegan, semua tertuang dari pesan yang
disampaikannya dalam perumpamaan “Paulus Menegus Petrus”.    

            Ngomong-ngomong,
apa kabar kampung halaman? Ada tujuh kabupaten yang saling bersinggungan dengan
Danau Toba. Malah, ketujuh kabupaten seperti menyusu ke Danau Toba. Tetapi,
mereka kelihatannya saling ”marbada.” Begitu sulitkah bersinergi untuk
bangun dan maju bersama?

            Di
rubrik musik, kami perkenalkan Ucok Munthe. Belum punya nama yang
melambung, memang, namun dia punya obsesi yang konsisten untuk menulis dan
memainkan rima dalam musik hip-hop, dengan menyerap pola pantun maupun
gurindam. Sementara Om Galung dengan setia mengajak Anda untuk menelaah
studi permainan akhir, sambil bersitatap dengan bidak-bidak di papan
catur.   

            Dan
tak lupa, kami, seluruh karyawan/karyawati majalah TAPIAN mengucapkan selamat
HARI NATAL dan TAHUN BARU 2009. Tombak ni
Sipinggan di dolok ni Sitapongan/ Didia pe hita tinggal, sai tong ma hita
masihaholongan. Di mana pun kita tinggal, kita tetap saling mengasihi.         

 

 

Majalah TAPIAN,

Kami berangkat
dari budaya batak menuju budaya untuk kemanusiaan.

Dengan semangat
keberagaman dan toleransi antar setiap etnis    

Dalam terus
merawat  “Bhinneka Tunggal Ika”   

   

 

Chris 
Poerba

Wartawan dan
Penggiat 

Majalah TAPIAN

http://kritikdiri.blogspot.com/


      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke