salam koster

bro rivo thanks about sharing nya...wah mengugah banget bro...
jadi intinya emang kita kudu sabar, tawakal dan senantiasa berdoa ....
insya allah akan ada solusi dari permasalahan hidup yg sedang kita hadapai..

NB : Bro Rivo nanti malam kopdar di Kospad - Parung yak..
       di Depan PPPTK/PENJAS...ok
       Hp nya no berapa bro ?? thanks.

BRAVO KOSTER !

bst rgds,
Gerry - Koster039
The real thunder bear
081511571171
www.suzuki-thunder.net
Humas Koster pusat

--- Pada Jum, 6/3/09, Rivo Yudhistira - SPC <[email protected]> 
menulis:

Dari: Rivo Yudhistira - SPC <[email protected]>
Topik: [www.suzuki-thunder.net] Blessing In Disguise
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 6 Maret, 2009, 8:47 AM











    
            







Salam
Koster 

   

Blessing
In Disguise



Dalam sebuah e-mail dari teman pernah ada kisah sepasang suami-istri 

dan anaknya. Ceritanya kira-kira begini. Adalah sepasang suami-istri 

yang sudah lama tidak mempunyai anak. 



Suatu hari sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak 

laki-laki. Semua tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang 

beruntung. Anaknya laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa, 

bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat orang tuanya? Sungguh 

beruntung mereka punya anak laki-laki. 



Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki 

seekor kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan 

tersebut. Semua orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial 

karena miskin, sehingga tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya, 

kan bisa beli kuda? Sial benar. 



Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang 

sering membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda. 

Semua orang mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh 

ada yang memberi kuda. Beruntung sekali. 



Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu 

hari, ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk, 

sehingga anak itu terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia 

menjadi pincang apabila berjalan. 



Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya 

kuda, kan dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang. 

Sial. Mengapa punya kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial 

sekali. 



Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut 

pecah perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu. 

Anak pasangan suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya 

khawatir kalau anak satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga 

merasa kasihan dan menyesali mengapa dulu tidak lahir anak perempuan 

saja. Kalau anak perempuan kan tidak harus berangkat berperang. 

Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu melahirkan anak laki-

laki? 



Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini 

sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu 

karena kakinya cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia 

tidak harus berperang. Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia 

pasti harus ikut berperang. Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu 

dia jatuh dari kuda. Untung kakinya pincang. Sungguh beruntung dia. 



Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan 

seorang disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak 

laki-laki yang lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus 

berperang, orang-orang mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak 

perempuan saja? 



Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang 

karena jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa 

punya kuda. Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, 

kata orang dia beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung 

dulu punya kuda. Untung dia pincang. 



Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung? 

Apakah karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita 

katakan sial atau kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan 

keinginan kita, lalu musibah tersebut bisa berubah menjadi 

keberuntungan? Kapan kita menyesali sesuatu? Kapan kita mensyukuri 

sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial atau musibah hari ini, 

mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa depan. 



Melihat berkah 



Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in 

disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang 

dilihat sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru 

kita sadari bahwa hal itu mengandung berkah. 



Kisah berikut ini pernah saya tulis dari sudut pandang yang berbeda. 

Sekali waktu ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai 

penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia 

bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke 

tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru. 



Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa 

membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang 

ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa 

tidak bisa bekerja lagi. 



Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani 

langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu 

isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan. 



Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin 

membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah 

mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual 

tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir "Tembakau sangat perlu. Tapi di 

sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau 

saja ah." 



Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk 

berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali 

nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun 

membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras. 



Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun 

kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat 

lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses. 



Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka 

rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi 

formulir. Karyawan bank berkata "Wah, Bapak yang buta huruf saja 

bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan 

menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi." Dengan tersenyum dia 

berkata "Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih 

menjadi penjaga gereja." 



Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin 

menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, 

dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi 

seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat. 



Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan 

keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah 

dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik 

musibah. Do not give up! See the blessings in disguis 

   

Best Regards, 

   

RIVO YUDHISTIRA 

   

   

   







 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke