Titip info ini buat para Ibu, dan Istri di rumah

Say No to RS OMNI Internationa :
http://www.facebook.com/pages/Say-No-To-RS-OMNI-Internasional-Tangerang/87380835097


 

 
 

--- On Fri, 5/6/09, TuffMSM <[email protected]> wrote:


From: TuffMSM <[email protected]>
Subject: [agronursery] Kenali Deterjen yang Anda Gunakan Apakah Mencemari 
Lingkungan dan Kesehatan
To: "Insan Peternakan" <[email protected]>, "agro nursery" 
<[email protected]>
Date: Friday, 5 June, 2009, 11:11 AM













http://www.pom- obat.go.id/ v2.0/articles. php?id=8
 
 
DETERJEN

Kebersihan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan masyarakat. Untuk 
menjaga kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal serta tempat umum dibutuhkan 
produk pembersih yang dapat diandalkan. Ibu rumah tangga, rumah sakit, sarana 
umum lain hingga hotel berbintang lima pasti menjadikan produk yang satu ini 
sebagai bagian kehidupan sehari-hari untuk mencuci pakaian maupun peralatan 
rumah tangga.

 Pengertian deterjen dan manfaatnya
Produk yang disebut deterjen ini merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari 
bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, 
deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik 
serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. 

Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut: 
1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang 
mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka 
lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga 
dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. 
Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu: 
a. Anionik : -Alkyl Benzene Sulfonate 
-Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS) 
-Alpha Olein Sulfonate (AOS)
b. Kationik : Garam Ammonium 
c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle
d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines 

2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan 
dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. 
a. Phosphates : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Acetates : - Nitril Tri Acetate (NTA)
- Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silicates : Zeolith 
d. Citrates : Citrate acid 

3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai 
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. 
Contoh : Sodium sulfate 

4. Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih 
menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan 
langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud 
komersialisasi produk. 
Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dalam 
bentuk produk-produk seperti: 

1. Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, 
sabun cuci tangan, dll.
2. Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling 
populer di masyarakat.
3. Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk 
penggunaan manual maupun mesin pencuci piring.
4. Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, 
pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.

Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada kain 
atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang menyebabkan 
infeksi dan meningkatkan umur pemakaian kain, karpet, alat-alat rumah tangga 
dan peralatan rumah lainnya, sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena banyaknya 
manfaat penggunaan deterjen, sehingga menjadi bagian penting yang tidak dapat 
dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern. 

 Dampak negatif dibalik manfaat deterjen

Tanpa mengurangi makna manfaat deterjen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, 
harus diakui bahwa bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat menimbulkan 
dampak negatif baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting 
dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai 
pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.

Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami 
yamg ada pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. 
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki 
toleransi kontak dengan bahan kima dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan 
akibat iritasi ‘sedang’ pada kulit. Surfaktan kationik bersifat toksik jika 
tertelan dibandingkan dengan surfaktan anionik dan non-ionik. Sisa bahan 
surfaktan yang terdapat dalam deterjen dapat membentuk chlorbenzene pada proses 
klorinisasi pengolahan air minum PDAM. Chlorbenzene merupakan senyawa kimia 
yang bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan.

Pada awalnya surfaktan jenis ABS banyak digunakan oleh industri deterjen. Namun 
karena ditemukan bukti-bukti bahwa ABS mempunyai risiko tinggi terhadap 
lingkungan, bahan ini sekarang telah digantikan dengan bahan lain yaitu LAS. 

Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk kimia aman di 
lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai (biodegradable) . ABS 
dalam lingkungan mempunyai tingkat biodegradable sangat rendah, sehingga 
deterjen ini dikategorikan sebagai ‘non-biodegradable’. Dalam pengolahan limbah 
konvensional, ABS tidak dapat terurai, sekitar 50% bahan aktif ABS lolos dari 
pengolahan dan masuk dalam sistem pembuangan. Hal ini dapat menimbulkan masalah 
keracunan pada biota air dan penurunan kualitas air. LAS mempunyai 
karakteristik lebih baik, meskipun belum dapat dikatakan ramah lingkungan. LAS 
mempunyai gugus alkil lurus / tidak bercabang yang dengan mudah dapat diurai 
oleh mikroorganisme. 

Dalam laporan lain disebutkan deterjen dalam badan air dapat merusak insang dan 
organ pernafasan ikan yang mengakibatkan toleransi ikan terhadap badan air yang 
kandungan oksigennya rendah menjadi menurun. Keberadaan busa-busa di permukaan 
air menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga 
menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air 
kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian. 

Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam deterjen adalah 
phosphate. Phosphate memegang peranan penting dalam produk deterjen, sebagai 
softener air. Bahan ini mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion 
kalsium dan magnesium. Berkat aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci 
deterjen meningkat. Phosphate yang biasa dijumpai pada umumnya berbentuk Sodium 
Tri Poly Phosphate (STPP). Phosphate tidak memiliki daya racun, bahkan 
sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. 
Tetapi dalam jumlah yang terlalu banyak, phosphate dapat menyebabkan pengkayaan 
unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di badan air, sehingga badan air 
kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae (phytoplankton) yang 
berlebihan yang merupakan makanan bakteri. Populasi bakteri yang berlebihan 
akan menggunakan oksigen yang terdapat dalam air sampai suatu saat terjadi 
kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya
 justru membahayakan kehidupan mahluk air dan sekitarnya. Di beberapa negara, 
penggunaan phosphate dalam deterjen telah dilarang. Sebagai alternatif, telah 
dikembangkan penggunaan zeolite dan citrate sebagai builder dalam deterjen. 

 Pemilihan produk 

Kesadaran masyarakat pengguna deterjen akan dampak dibalik manfaat deterjen 
perlu ditingkatkan. Peran serta masyarakat dalam mengurangi dampak negatif yang 
ditimbulkan oleh penggunaan deterjen sangat diharapkan. Banyaknya pilihan 
produk yang diinformasikan melalui iklan memang bisa menguntungkan konsumen. 
Tetapi konsumen tetap perlu berhati-hati, karena kesalahan memilih produk akan 
merugikan konsumen sendiri. 

Sebaiknya konsumen memilih deterjen yang pada kemasannya mencantumkan penandaan 
nama dagang, isi / netto, nama bahan aktif, nama dan alamat pabrik, nomor ijin 
edar, nomor kode produksi, kegunaan dan petunjuk penggunaan, juga tanda 
peringatan serta cara penanggulangan bila terjadi kecelakaan. Selain itu 
dianjurkan bagi konsumen untuk memilih produk yang mencantumkan bahan aktif 
yang lebih aman dan ramah lingkungan. Informasi mengenai produk ramah 
lingkungan dapat dilihat pada label baik berupa logo hijau maupun klaim ramah 
lingkungan. Selain itu produsen sebaiknya memberikan informasi yang lebih 
lengkap mengenai produknya. 




 Takaran penggunaan deterjen 

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam menggunakan deterjen 
adalah cara penggunaan yang benar. Pada beberapa deterjen bubuk ternyata 
terdapat petunjuk yang tidak tepat. Yaitu ketika konsumen dianjurkan 
menggunakan takaran genggam. Hal ini sungguh berisiko karena deterjen bersifat 
basa yang berarti korosif terhadap kulit. Apalagi jika kulit pengguna bersifat 
sensitif, maka takaran deterjen yang menggunakan istilah ‘genggam’ tersebut 
akan langsung memberikan reaksi pada kulit berupa gatal, mengering dan 
pecah-pecah. Selain itu, takaran genggam bukan ukuran yang bersifat pasti, 
karena hanya berupa kira-kira yang sangat tergantung kepada ukuran tangan 
seseorang. Jadi kecenderungan konsumen untuk menggunakan berlebihan memang 
besar. Disamping itu, karena slogan-slogan pada iklan produk deterjen baik di 
media elektronik maupun media cetak, timbul persepsi konsumen bahwa busa banyak 
bisa mencuci lebih bersih. Padahal busa yang terlalu banyak
 bukan berarti deterjen menjadi lebih efektif, malah sebaliknya, daya cucinya 
terhambat. Selain itu keberadaan busa-busa di permukaan badan air menjadi salah 
satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen 
terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan 
dapat menyebabkan kematian. 

Oleh karena itu sebaiknya konsumen menggunakan takaran khusus untuk deterjen 
dan produsen menyediakan alat takar tersebut di dalam kemasan produknya


 
Sent from my MbakBerry® 
Powered by Kenyal  Kuat :::: Keeesat 

 
 
Download Pengetahuan Beternak Domba & Kambing 
 
in english version clik this one



Dalam Bahasa Indonesia klik disini
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
















      

Kirim email ke