Purwaning Baskoro
Tetap safety riding, patuhi rambu lalulintas yang ada dengan didukung oleh
akhlak yang baik, sopan dan tidak arogan | KOSTER - Parung
--- On Thu, 2/7/09, Benny The Great <[email protected]> wrote:
Kamis, 02/07/2009 10:30 WIB
Cerita Si Lampu Merah
Yhusanti Pratiwi Sayogo - suaraPembaca
Jakarta - Seperti yang kita tahu lampu merah atau yang biasa disebut dengan
traffic light merupakan alat otomatis pengatur lalu lintas. Keberadaan lampu
merah di tengah kita sudah ada sejak lama. Sayangnya kini kehadirannya sudah
banyak orang yang mengabaikannya. Namun, terkadang masih pula ada yang merasa
sangat membutuhkannya.
Di kota besar seperti Jakarta (seharusnya) memiliki ratusan lampu merah yang
tersebar dan berfungsi baik di setiap persimpangan jalan. Tapi, sayangnya kini
saya melihat banyak lampu merah yang hanya berdiri sebagai pajangan. Baik itu
masih berfungsi maupun tidak.
"Ah, kan ngga ada yang lewat ... "
Kata-kata itu mungkin sering anda dapatkan dari pengendara anda yang
"kebetulan" menerobos lampu merah. Atau bahkan itu menjadi alasan anda? Ya,
keberadaan lampu merah terkadang diabaikan secara sengaja oleh beberapa
pengemudi di beberapa titik terutama ketika jalanan sepi dan malam hari.
Jika menggunakan logika secara "normal" mungkin alasan tadi ada benarnya. Lampu
merah diciptakan dan digunakan manusia untuk mengatur lalu lintas di
persimpangan sebagai pengganti tenaga pengatur (baca: polisi).
Tapi, jika kita berbicara sebagai manusia yang taat pada aturan dan hukum yang
berlaku maka alasan yang masuk akal tadi akan menjadi gugur. Kita adalah warga
negara yang terikat oleh hukum dan aturan yang berlaku. Termasuk aturan lalu
lintas. Maka sudah seharusnya kita secara suka rela sadar dan taat pada aturan
yang berlaku di sekitar kita.
Bukan ingin menyalahkan pengendara motor. Tapi, bagi saya pengendara motor
merupakan insan yang paling sering menerobos "si mata tiga" ini. Berpuluh
pertanyaan mengendap di otak saya. Salah satunya adalah mengapa orang lebih
patuh pada lampu merah di jalan protokol dari pada di jalan biasa. Apakah
perbedaannya. Bukankah keduanya sama lampu merah.
Yang saya lihat hingga sekarang banyak pengendara yang mematuhi lampu merah
karena takut pada sanksi yang diberikan akibat pelanggaran lalu lintasnya. Dan,
itu pun terjadi di jalan-jalan besar yang dijaga oleh petugas. Ya, alasan yang
klasik memang "cari aman".
Budaya cari aman ini sebenarnya bukan budaya yang baik karena kita seolah
melakukan sesuatu dengan terpaksa (mungkin karena hukum memang sifatnya
memaksa) dan bukan kesadaran kita. Mungkin sebagian orang bisa dengan santai
menerobos lampu merah saat ia masih berfungsi. Nah, bila lampu merah sudah
ngambek rasakan akibatnya.
Si Lampu Merah Ngambek
Diabaikan saat ada. Dicari saat tiada. Mungkin itu adalah ungkapan yang cocok
untuk keberadaan lampu merah di sekitar kita. Mungkin apa bila lampu merah
adalah makhluk hidup maka bisa jadi ia ngambek karena keberadaannya yang sering
kali diabaikan.
Wujud nyata lampu merah ngambek adalah saat ia tidak lagi berfungsi. Tidak
menyalanya salah satu lampu, pengaturan waktu yang tidak beres, hingga lampu
merah yang mati total bisa jadi adalah wujud protes lampu merah pada kita yang
sering melanggar aturannya.
Sudah bisa terbayangkan jika terjadi gangguan terhadap "si mata tiga" ini. Ya,
macet itulah dampak pertama yang kita hadapi. Saat semua kendaraan dipertemukan
di sebuah persimpangan maka sering kali tidak ada yang mau mengalah dan
terjadilah keruwetan di tengah persimpangan.
Saya sudah merasakan bagaimana rasanya bila beberapa lampu merah padam. Salah
satunya adalah lampu merah yang berada di sepanjang Jalan Panjang Jakarta. Di
sana terdapat dua persimpangan yang lampu merah nya padam. Sungguh saat manusia
dikuasai keegoisan mereka di jalan raya. Kehadiran lampu merah dirasa sangat
berguna untuk mengatur insan-insan yang egois tersebut.
Bayangkan saja apabila dalam satu jalan kita menemukan beberapa lampu merah
yang padam maka berapa banyak waktu kita yang terbuang untuk kemacetan yang
diakibatkannya. Jika dihitung-hitung kerugian (waktu) yang kita rasakan akan
jauh lebih besar daripada kita membuang sedikit waktu untuk menunggu lampu
lampu merah berubah dari merah ke hijau.
Jujur saja saya tidak tahu harus melapor ke mana mengenai masalah padamnya
beberapa lampu merah. Sempat terpikir untuk melapor ke petugas polisi lalu
lintas namun saya melihat ada beberapa lampu merah yang padam tidak jauh dari
pos polisi lalu lintas. Bahkan, ada pula yang tidak jauh dari sekolah polisi.
Lampu merah di atas under pass perempatan lebak bulus telah lama saya lihat
padam. Padahal lokasinya tidak jauh dari sekolah polisi. Apakah karena lampu
merah ini tidak terletak di jalan protokol sehingga seolah-oleh lampu merah
tersebut diabaikan.
Bayangkan saja dengan matinya lampu merah di sana. Maka tercipta kesan bahwa
persimpangan tersebut hanya milik kendaraan dari arah terminal lebak bulus.
Sedangkan kendaraan dari arah Pondok Cabe Karang Tengah harus bersabar untuk
melintasi persimpangan tersebut.
Padamnya lampu lampu merah di persimpangan tersebut juga menimbulkan masalah
lain yaitu angkot yang sembarangan ngetem. Dapat dibayangkan bagaimana macet
yang diciptakan oleh padamnya lampu merah di jalan yang tidak terlalu besar
tersebut namun memiliki volume kendaraan yang cukup besar.
Siapa yang Harus Bergerak?
Pertanyaan itu mungkin sempat meluncur di benak beberapa orang. Termasuk saya.
Bagi saya kesadaran masyarakat dapat menjadi titik awal untuk mengatasi masalah
yang cukup klasik ini. Bila setiap orang dengan sukarela mematuhi aturan yang
berlaku maka jalan pun menjadi tertib.
Setelah masyarakat, pemerintah, dan pihak yang berwenang masalah lalu lintas
pun harus turun tangan membereskan masalah kerusakan teknis pada lampu merah
yang ada sehingga masyarakat dapat menyalurkan kesadaran patuh aturannya.
Masalah ini sebenarnya masalah yang cukup sederhana. Namun, dapat menjadi
masalah yang rumit jika masyarakat dan pihak yang berwenang belum muncul
kesadaran untuk menghormati si lampu merah. Jadi saatnya kita menghormati dan
mematuhi lampu merah, kuning, hijau tersebut.
Yhusanti Pratiwi Sayogo
Mahasiswa Jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Padjadjaran yang juga pengguna jalan raya.
__
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-----------------------------------------------------------------------------------------
Share the Road !!!!
Untuk posting: [email protected]
Untuk keluar dari grup: [email protected]
Website: www.rsa.or.id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---