Dialog Publik "KEDAULATAN EKONOMI NASIONAL : Sudahkah Indonesia Merdeka
?"Bagikan Kemarin jam 17:33Pengantar
Berada dalam kumparan sistem ekonomi global yang kapitalistik dengan pergerakan
arus modal yang semakin cepat dan canggih, Indonesia sesungguhnya berada pada
situasi yang kritis ketika jumlah populasi yang begitu besar dianggap sebagai
pangsa pasar yang sangat potensial serta kekayaan alam yang begitu melimpah
dianggap sebagai sumber bahan mentah dan bahan baku yang dengan mudah
diekplorasi dan dieksploitasi. Sementara tenaga kerja yang melimpah dan relatif
murah (termasuk ketersediaan lahan) dianggap sebagai faktor pendukung dunia
usaha yang mendorong masuknya arus modal dari luar, baik berupa direct foreign
investment maupun indirect foreign investment.
Perhatikan juga, bagaimana sejumlah kontrak karya pertambangan dan penguasaan
hutan oleh swasta telah menguras sumber-sumber kekayaan alam Indonesia (belum
lagi yang illegal). namun tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat
sekitar. Rakyat tetap dalam keadaan miskin dan papa. Mereka hanya menikmati
remah-remah kekayaan alam tanpa dapat berbuat banyak untuk merubah keadaan dan
nasib mereka. Demikian juga dengan laut dan pesisir di Indonesia yang juga
mengalami nasib yang sama.
Di sisi lain, pengiriman TKI ke sejumlah negara (dengan segala tragedi
kemanusiaannya) semakin menunjukkan fakta bahwa di dalam negeri Indonesia telah
gagal meyediakan lapangan kerja yang layak bagi warga negaranya. Kemiskinan
secara struktural dan pengangguran merupakan salah satu faktor utama yang
membuat para TKI mau menerima pekejaan apapun yang ditawarkan kepada mereka.
Dengan modal pendidikan dan skill yang rendah, mereka akhirnya hanya diterima
sebagai tenaga pembantu rumah tangga dengan posisi tawar yang sangat lemah
dalam menentukan syarat-syarat kerja dan nilai upah yang layak/wajar.
Privatisasi yang terus dilancarkan terhadap sejumlah BUMN telah membuat
kekuatan modal asing semakin leluasa menguasai sektor-sektor strategis di
negeri ini. Belum lagi persoalan hutang dari lembaga-lembaga keuangan
internasional (Bank Dunia/ADB) yang tidak jarang membuat Indonesia bertekuk
lutut dalam cengkaraman negara-negara kapitalisme global. Sementara perdagangan
saham di lantai bursa (sebagai indikator ekonomi kapitalis) seringkali
dipermainkan oleh pemilik modal besar yang menentukan naik-turunnya indeks
saham. Sejarah membuktikan bagaimana seorang spekulan bernama George Soros di
tahun 1997 dengan kekuatan uangnya mampu mengguncang perekonomian di sejumlah
negara Asia. Menjatuhkan nilai tukar terhadap dolar dan merontokkan harga saham
di sejumlah bursa efek. Jadilah ketika itu Indonesia sebagai negara yang
terparah dalam jurang krisis moneter.
Dalam situasi seperti ini, mampukah Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara
mengendalikan dan menentukan sendiri arah kebijakan ekonominya secara bebas
tanpa didikte leh kekuatan modal asing dari negara lain sehinggga segala
kekayaan sumber daya alam dapat sepenuhnya dikelola dengan kekuatan sendiri dan
dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesejahteraan rakyat semata. Adakah tawaran
ideologi ekonomi yang mampu membebaskan dan menjadikan Indonesia sebagai negara
yang berdaulat dan merdeka secara ekonomi ?
Untuk mengupas sekaligus menjawab persoalan di atas, Indonesia Strategic
Institute bermaksud menggelar Dialog Publik dengan thema :
“Kedaulatan Ekonomi Nasional : Sudahkah Indonesia Merdeka ?”
Pembicara : Faisal Basri (Ekonom-UI), Hendri Saparini (ECONIT),
Yanuar Rizky (Analis Pasar Modal-Presiden OPSI)
Moderator : Chalid Muhammad (WALHI)
Rabu, 26 Agustus 2009,
Pukul 15.00 WIB s/d acara buka puasa bersama
@ Hotel Maharani Lt.2, Mutiara Room, Jl. Mampang Prapatan Raya No.8,
Jakarta Selatan, Telp. 79183855/44
RSVV : Ina (0813-11465694)