Suatu Sore Menjelang ''Semanggi Berdarah'' Catatan Redaksi: Tulisan ini dibuat oleh beberapa wartawan Pembaruan yang menyaksikan dan mendengar langsung dari jarak dekat, sekitar satu meter, dialog antara seorang komandan dengan para anak buahnya sebelum terjadi tragedi 13 November 1998 di Semanggi, Jakarta. JAKARTA - Suatu sore sekitar pukul 17.00 di sebuah halte di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat 13 November 1998. Awalnya hanya ingin mengorek sisi kemanusiaan dari rangkaian demonstrasi yang tidak pernah sepi selama Sidang Istimewa (SI) MPR berlangsung. Mahasiswa adalah rakyat, demikian halnya prajurit yang hampir tidak pernah beranjak dari kawasan Senayan, tempat diselenggarakannya SI MPR. Layaknya manusia, penat dan jenuh dalam menjalankan tugas pengamanan tentu menjadi cerita menarik tersendiri. Asumsi itulah yang mendasari Pembaruan melakukan wawancara ringan diselingi canda tawa dengan aparat keamanan yang kebetulan bersiaga di depan halte di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di ujung Jembatan Semanggi, di bawah papan reklame LG. Wawancara ringan itu tengah berlangsung, ketika tiba-tiba seorang prajurit datang melapor. Dan terjadilah dialog yang dapat kami simak dengan jelas. Apa makna percakapan itu, tidak mudah untuk menganalisanya. Kami hanya bisa menceritakan pengalaman dari menit ke menit, sampai akhirnya terjadi ''Semanggi Berdarah,'' Jumat 13 November, yang menewaskan 4 orang mahasiswa, sedangkan 300 mahasiswa lainnya luka-luka. Dari kalangan masyarakat 8 orang meninggal dan 244 lainnya luka-luka. Dari pihak aparat keamanan satu orang meninggal dan 44 orang luka-luka. Saat itu perbincangan dengan aparat keamanan, yang kemudian diketahui seorang komandan berpangkat kapten, disaksikan anak buahnya yang duduk di depan halte memblokir jalan. Dengan membawa peralatan lengkap, mereka sesekali melontarkan sentilan ke arah kami. Pembicaraan terhenti ketika tiba-tiba seorang prajurit berlari dari arah jalan di balik halte. Dengan terburu-buru dan ekspresi agak gugup, prajurit itu melapor kepada sang komandan. Berikut isi laporan dan dialog singkat antara komandan (K) dengan prajurit (P) itu. P : Lapor, Pak, .... kita diserang, di BRI! (Sambil mengarahkan jari manisnya ke arah gedung BRI) K : Apa? P : Kita kena, kaca dan tempat tidur.... lima! K : Di mana? P : BRI, perlu bantuan! K : Apa? P : Kaca dan tempat tidur, lima, Pak! K : Sepuluh orang cukup? P : (Diam) K : Kirim sepuluh orang! (Pada saat itu beberapa tentara yang sedang duduk-duduk spontan berdiri). K : Sepuluh saja, sepuluh! (Lalu tentara yang lain mengisyaratkan kepada teman-temannya yang sudah berdiri dan mengambil perlengkapannya, bahwa yang dikirim cukup sepuluh orang. Kemudian sekitar sepuluh orang berdiri di depan komandan dalam posisi siap). K : Kalian bawa peluru tajam? P : Bawa, Pak! K : Tajam? P : Tajam! K : Benar, peluru tajam, bukan karet? P : Benar, Pak, tajam! (Ada beberapa di antara mereka mengangguk) K : Benar ya, bukan karet, ya! (Komandan memberi kode dengan tangan supaya beberapa tentara itu segera berangkat). *** Dialog tersebut mengusik nurani kewartawanan kami. Keingintahuan spontan muncul, maka kami mengikuti ke arah mana para prajurit tersebut menuju. Ternyata mereka berjalan menyusuri jalan di belakang gedung GKBI, kemudian masuk ke gedung BRI yang terletak di sebelahnya. Sayang, kami kehilangan jejak karena gerak mereka jauh lebih sigap dan cepat, di samping kami rancu dengan banyaknya ratusan tentara yang ada di sekitar gedung GKBI dan BRI. Ribuan mahasiswa yang sudah berkumpul di depan Universitas Atma Jaya (UAJ) telah mengalihkan perhatian kami. Menyaksikan aksi demonstrasi ribuan mahasiswa, saat itu jauh lebih menarik sehingga dialog yang baru saja kami dengarkan tidak lagi mengusik pikiran. Perhatian kami malah tertuju pada seorang pemuda yang mengenakan hem kotak-kotak warna biru. Pemuda yang berada di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, kemudian diketahui berasal dari Masyarakat Profesional untuk Demokrasi (MPD) bernama Bimo Nugroho, menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Ia baru saja menggotong dengan tandu, seorang mahasiswa yang tertembak di kepala bagian belakang. Sayang, ia tidak sempat mencatat identitas korban karena keburu korban tidak sadarkan diri. "Kemungkinan besar dia meninggal, karena tembakan tepat mengenai kepala bagian belakang, antara telinga dan leher bagian atas. Dia sempat mengatakan: 'Teruskan perjuangan!', lalu dia terdiam, tidak bergerak, dan dimasukkan ke mobil ambulans. Saya sedih, sedih mendengar kata-kata itu... Tapi mau apa, saya tidak boleh larut dalam kesedihan. Saya harus terus berjuang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Menurutnya, semula ia keluar dari UAJ sekitar pukul 15.00 saat para mahasiswa bernyanyi-nyanyi. Pukul 15.20 terdengar letusan senapan ke atas dan semburan gas air mata. Ia tidak tahu asal mula kejadiannya karena terjadi begitu mendadak. Senapan menyalak dan gas air mata menyebar, lalu massa dikejar-kejar, ada yang lari tunggang langgang masuk ke UAJ. Tapi sayang, pemuda itu tercecer di garis belakang karena tidak bisa berlari kencang. Saat berlari itulah seorang mahasiswa di sampingnya tertembak dan jatuh. Begitulah cerita pemuda yang kacamata minusnya terjatuh entah ke mana saat berlari. Tentunya ia tak ingin peristiwa serupa terulang kembali. Ternyata harapan pemuda itu jauh dari kenyataan karena beberapa jam kemudian, sekitar pukul 18.30 WIB tembakan beruntun yang diarahkan ke mahasiswa terjadi lagi bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Dua buah selongsong peluru yang ditemukan Bimo saat itu, menjadi saksi bisu dan kenangan getir dalam hidupnya. Namun, mungkin orang lupa bahwa selongsong peluru itu justru akan semakin menggelorakan semangat perjuangannya. *** Setelah peristiwa ''Semanggi Berdarah'' berakhir, banyak selongsong peluru ditemukan berserakan di jalanan dan halaman kampus UAJ. Beberapa di antaranya adalah selongsong peluru hampa, peluru karet, tapi ada pula peluru tajam. Memang sebelum pelaksanaan SI MPR, Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto menegaskan bahwa ABRI akan menindak tegas setiap upaya sekelompok masyarakat yang ingin memaksakan kehendak menggagalkan pelaksanaan SI MPR. Pangab juga melakukan peninjauan ke tiga lokasi yang menjadi "markas" prajurit Polri dan ABRI pengaman SI MPR, yaitu di lapangan Monas, lapangan Parkir Timur Senayan, dan lapangan gedung DPR/MPR. Di lokasi itu Wiranto menanyakan peluru apa saja yang dibawa oleh pasukan, yang dijawab mereka membawa peluru hampa dan peluru karet. Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Noegroho Djajoesman, juga mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mengarahkan jajarannya untuk menggunakan peluru tajam. "Tapi sedang diselidiki asal usul peluru tajam itu," katanya melalui wawancara TVRI, Kamis (19/11). Keterangan terakhir yang disampaikan Menhankam/Pangab Wiranto menjelaskan bahwa korban yang jatuh di depan Unika Atma Jaya Semanggi, yaitu 4 orang akibat tembakan peluru tajam. Dan saat ini pihak rumah sakit telah menyerahkan kepada pihak penyidik logam-logam yang ditemukan masih bersarang di tubuh korban. (Pembaruan, 24 November) Beberapa mahasiswa pun berkeras bahwa mereka melihat kilatan-kilatan cahaya dari laras senapan yang keluar dari lantai atas gedung BRI. Beberapa fotografer yang saat itu mengambil gambar dari atas jembatan Semanggi juga mengungkapkan hal serupa. Mereka menyebut tembakan itu datang dari para sniper (penembak jitu tersembunyi) di lantai atas BRI. Hasil otopsi forensik juga menunjukkan adanya peluru tajam yang bersarang di tubuh korban luka atau meninggal. Hal itu diperkuat dengan sejumlah proyektil peluru laras panjang, tabung gas air mata, dan helm berlubang karena tertembus peluru, yang diperlihatkan Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ketika mengadu ke Komisi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Rabu (18/11). Komnas HAM pun mengatakan bahwa selama ini pemerintah menyatakan tidak menggunakan peluru tajam. Maka Komnas HAM akan membentuk Komisi Penyelidik Nasional yang independen, apabila pengumuman pemerintah nanti berbeda dengan temuan Komnas HAM. Tidak mudah memang untuk menarik kesimpulan tentang digunakannya peluru tajam dalam peristiwa tersebut. Di awal tulisan ini tertulis kata "kaca dan tempat tidur." Kalau "kaca dan tempat tidur" merupakan kata sandi bagi aparat keamanan, yang entah apa artinya, apakah juga "peluru tajam" yang diucapkan sang komandan kepada anak buahnya sebelum menuju gedung BRI juga merupakan kata sandi? - Tim Pembaruan SUARA PEMBARUAN DAILY 11/25/98 --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
