Beginilah nasib ummat Islam. Selalu mengalami fitnah. Jika ada
kerusuhan, dan para ulama tidak bergerak untuk meredakannya,
maka mereka menuduh ulama sebagai lamban, mendiamkan
kerusuhan, dll. Tapi ketika ada ulama seperti Habib M. Rizieq
Syihab yang memberanikan diri untuk menenangkan massa
dengan resiko dilempar clurit seperti yang dialami
Komandan Kodim dan pembantunya, dia malah difitnah oleh
oknum aparat seperti Letkol Heri Susanto sebagai penggerak
kerusuhan.
Sungguh nasib para ulama ini sungguh berbeda dengan para
pastor dan pendeta seperti Romo Sandyawan yang kebal hukum
mesti terbukti menyembunyikan buronan pemerintah (Budiman
Sudjatmiko, antek2 yg selalu mengaku lulusan Muhammadiyah)
ataupun membuat fitnah seperti pertemuan di Makostrad tanggal
14 Mei sebagai pertemuan RAHASIA untuk merencanakan makar
dan kerusuhan oleh Prabowo, yang ternyata dibantah Fadli Zon,
Hashim, Fahmi Idris dll yang juga menghadiri pertemuan "rahasia"
itu. Para ulama kita seperti AM Fatwa, Dr Imaduddiin atau
KH Abdul Kadir Jaelani sangat rentan thdp fitnah, dan begitu
mudah dijebloskan ke penjara oleh oknum aparat keamanan
(apalagi waktu Pangab-nya Leonardus Benny Murdani).
Kita semua tahu bahwa kerusuhan itu begitu besar dan cepat.
Bahkan aparat keamanan yang bersenjata senapan dan panserpun
tidak bisa langsung meredakan kerusuhan tsb, karena itu menimpakan
kesalahan pada Habib M. Rizieq ini jelas tindakan oknum aparat
keamanan yang tidak bertanggung-jawab. Semoga atasannya mau
memecat Letkol Heri Susanto yang memfitnah ulama seenaknya.
Sebenarnya kerusuhan tsb berawal bukan karena SARA, tapi
karena ada seorang pemuda muslim Ketapang yang dianiaya oleh
preman Pemuda Pancasila (tau sendirikan kalo PP itu biang
keonaran?) yang berasal dari Ambon dan Batak Kristen. Para
preman ini seperti halnya anggota PP yang lain seperti Yorrys,
bekerja sebagai beking / tukang pukul tempat2 maksiat
seperti Diskotik / tempat judi.
Ketika Bapak pemuda tsb ingin datang menyelamatkan anaknya,
dia juga ikut dianiaya. Terhadap tindakan penganiayaan tsb,
aparat keamanan bukannya menyelesaikannya secara hukum,
tapi cuma "mendamaikan."
Anehnya setelah "didamaikan" RW setempat, sekitar 300 preman
Ambon dan Batak Kristen ini malah menyerbu perumahan warga
Ketapang dengan bersenjatakan samurai, merusak rumah,
sebuah masjid, dan menganiaya warga Ketapang.
Para Preman yang memang beragama Kristen ini bukan saja
merusak masjid (walaupun ditutup2 aparat keamanan), tapi juga
memprovokasi ummat Islam di Ketapang yang memang cuma
minoritas di daerah Pecinan tsb. Berikut kutipan Kronologis
dari Forum Warga Ketapang:
|4. Ahad, 22 Nopember, pukul 06.30
|Sekitar 300 preman yang kebanyakan bersuku Ambon (sebagian diantaranya
|ada yang bersuku Batak, bermarga Simatupang),dengan menggunakan 10
mobil
|menyerbu warga Ketapang. Mereka membawa senjata tajam seperti samurai.
|Seratus orang diantaranya merengsek ke pemukiman warga. Mereka lalu
|merusak masjid Khairul Biqa', dan rumah-rumah serta kendaraan milik
|warga setempat. Dengan arogan mereka menantang, "Mana orang-orang
|Betawi, mana orang-orang Islam, biar kita bantai!" Warga muslim yang
|kebetulan minoritas diwilayah tersebut (mayoritas warga keturunan
Cina), tidak menduga bakal diserang, sehingga banyak yang jadi korban.
Tercatat |2 warga mengalami kritis dan puluhan luka-luka.
Coba bayangkan kalau ada warga yang dianiaya dan diteror seperti itu dan
dihina serta dirusak tempat peribadatannya, apa tidak tersinggung?
Warga Ketapang sendiri sebenarnya cuma membakar lokasi perjudian yg
dijaga preman PP tsb, namun karena ada gereja yang menempel di tempat
perjudian tsb, tak heran jika ikut terbakar api.
Yang lebih parah adalah adanya provokator yang menyebar isu
bahwa ada masjid dibakar. Hal ini jelas membangkitkan amarah
ummat Islam yang lain, tak heran jika massa dari luar Ketapang juga
ikut campur. Nah mereka inilah yang akhirnya membakar gereja2
karena mengira ada pembakaran masjid.
Setelah para ulama seperti Habib M Rizieq turun langsung untuk
menenangkan massa, barulah kerusuhan dapat diredam tanpa
banjir darah. Jadi tidak pada tempatnya mengkambing hitamkan
ulama yang telah bersusah payah menenangkan massa hanya
karena ketidak becusan aparat.
Tapi yang harus dibereskan adalah para preman Pemuda Pancasila yg
bertindak seenaknya menteror penduduk. Setelah kerusuhan tsb,
mereka menteror warga Ketapang dan mengancam akan menghabisi
warga Ketapang. Akibatnya perumahan warga Ketapang banyak
yang kosong.
Jika ulah para preman seperti ini ditutup2 oleh warga Kristen
yang lain seperti mengatakan kerusuhan tsb cuma bentrok antar
warga (padahal antara preman teroris dengan warga), bukan tidak
mungkin para preman mengulangi lagi ulahnya untuk menteror warga
Ketapang dan merusak masjid di sana. Jika itu terjadi, meskipun
Islam mengharamkan perusakan tempat ibadah ummat lain seperti
gereja, dll, tapi masyarakat yang awam mana mau tahu hal itu. Jika
tempat ibadah mereka dirusak, maka mereka akan bereaksi
merusak tempat ibadah orang yang merusak masjid mereka.
Herannya, dari sekitar 185 preman yang diamankan aparat dengan truk,
ternyata lebih dari 100 preman telah dibebaskan, dan tinggal 56 orang
saja (mungkin si Yapto sudah "bernegosiasi" dengan aparat). Hal ini
sekali lagi membuktikan bahwa para preman Pemuda Pancasila seperti
Yorrys yang berkali2 ditangkap di tempat judi masih kebal hukum.
Berikut berita dari Jakarta Post yang ada di http://www.tempo.co.id
yang saya dapat tanggal 28 November 1998:
Habibie hits damage, arson of 22 churches
JAKARTA (JP): President B.J. Habibie has condemned as "unforgivable" the
burning and vandalization of 22 churches and five Protestant and
Catholic schools in the capital last Sunday.
In a meeting on Thursday with his economic advisor Frans Seda, the
President said he was outraged- because no religion tolerated such
shameful acts.
"This is truly an unforgivable act," Frans quoted the President as
saying at Merdeka Palace.
Frans, who is Catholic, said the meeting was held in his capacity "as
someone whose church was burned down" in the unrest which began in
Ketapang, West Jakarta.
"It is extremely painful for us because the incident took place on
Sunday when Protestants and Catholics are obliged to attend church".
Frans presented copies of international protests over the destruction,
including from the Vatican, to Habibie.
"Since 1996, more than 500 churches have been burned, " Frans said.
Meanwhile, 19 members of the Islamic Defender Front visited Jakarta city
councilors on Thursday to demand the resignations of Jakarta Police
chief Maj. Gen. Noegroho Djajoesman and Jakarta Military Commander Maj.
Gen. Djadja Suparman if they fail to uncover the ringleader behind the
Ketapang riots.
Head of the front Habib M. Rizieq Syihab said the authorities should
ascertain all the details of the case to prevent Moslems from being
unfairly blamed.
"The tendency to single out Moslems as the scapegoats is caused mainly
by the authorities' obscure remarks. We very much regret the fact that
some of the officials made remarks as though it was the Moslems who were
behind the vandalism and killings."
He presented three samurai swords, a wooden stick and four missiles from
the riots to the councilors.
Habib made the statement in response to media reports that West Jakarta
military district chief Lt. Col. Heri Susanto accused Moslem preachers
at the scene of the unrest of triggering the disturbance.
"It is slander toward the preachers," he said.
Habib conceded that members of the front were among the crowd during the
clashes but said they had sought to restrain people from committing
further destruction.
He argued the preachers intentionally delivered "fiery" remarks--such as
announcing the killing of Ambonese security guards at an amusement
center--in an attempt to gain the attention of the incensed people and
control them.
"Experience shows that urging them to do something like to disperse is
not effective, " he said.
Brawl
The riots developed from a brawl on Saturday night between local
residents and civilian guards, most of Ambonese descent, of the
entertainment center which was located near a mosque in Ketapang.
Locals alleged the center was a gambling den.
Community leaders and security personnel intervened to try to settle the
dispute amicably, but their efforts were negated by rumors on Sunday
morning that an Ambonese gang had set the mosque on fire. The rumor
proved untrue.
Habib said the front had deployed between 20 and 40 members in Ketapang
to prevent reprisals.
"Ketapang residents are now living in fear due to circulating rumors and
anonymous calls about Ambonese seeking revenge. "
Habib regretted the looting and destruction of the churches, but said it
was understandable because the people were incensed.
"Even though we do not condone the vandalism, in this case it was a
normal reaction because any Moslem would be angry if they heard that a
mosque was damaged."
He denied front members played a part in the destruction.
Habib complained that some security officers had displayed an
unsympathetic attitude in handling the dispute.
"The officers did not respond to our demand to seriously get rid of the
operation of the hoodlums," he said referring to the security guards at
the entertainment center. (ind/ylt/prb)
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com