Banyak kejanggalan dalam tragedi Semanggi. Peluru tajam, 
ditembakkannya peluru karet dari jarak DEKAT (peluru
karet tidak mencederakan jika ditembakkan dari jarak 50 m),
Pam Swakarsa yg terlihat di mana-mana - entah tercatat
entah tidak, sniper di gedung2 tinggi sekitar Atmajaya,
provokasi thd aparat, provokasi di lokasi bakal calon 
kerusuhan spt Senen, pengkondisian kerusuhan (di dekat mal 
Cengkareng, tiba2 tersedia onggokan batu dan bahan bangunan, 
padahal sebelumnya tidak ada, di situ juga tidak ada aktivitas 
membangun rumah - Detak 019), adanya komando utk
menembak (menurut wartawan TV yg melakukan swasensor 
pd beritanya, terekam perintah komando menembak 
berulang kali).

Tabloid AKSI menghubungkan pembantaian Semanggi 
dg kasus Malari. Kekerasan yg konon digerakkan suatu
kelompok agar Pangkopkamtib Jend. Sumitro malu dan 
mengundurkan diri. Siapa berkepentingan menyingkirkan
Wiranto?

Majalah Prospektif no. 8 menulis:

Salim Said, pengamat militer, menunjukkan betapa Wiranto
memberi kesempatan kpd kelompok2 penekan spt PDI
Mega, Rais, Gus Dur utk terus hidup tanpa halangan.
Tak peduli kelompok itu nasionalis kiri atau 
fundamentalis kanan. Yg penting, semuanya masih ada
dalam koridor. Ini membuat kesal kelompok yg ingin 
bermain kayu. Para pemain kayu ini, diduga mayoritas
berasal dari sisi 'kanan luar'. 

Di tengah deraan tuntutan mundur yg disuarakan 
nyaris seragam oleh semua media massa, apalagi yg
memang disetir kelompok 'kanan luar' (Panjimas,
Ummat, Adil - Rug), Agus Miftach, ketua PARI
(Partai Rakyat Indonesia) meneriakkan hal berbeda:
"Presiden dan Menko Polkam segera mengundurkan 
diri dan diusut atas kemungkinan memberi perintah
represi shg terjadi tragedi Jumat berdarah."

Mengenai penangkapan Barnas, berikut kutipan
dari Balipost 18 November:

Mantan Kassospol ABRI Letjen TNI (Purn) Bambang 
Triantoro menganalisis, penangkapan Kemal Idris, Ali Sadikin 
dkk berkait dengan ketidakberesan antara Habibie, Feisal 
Tanjung dan Wiranto. Habibie memerintahkan Wiranto 
menangkap orang-orang yang dituduh menggerakkan   
mahasiswa. ''Sepanjang analisis saya, perintah itu di luar dugaan
Wiranto. Dia sadar, penangkapan ini tidak membuat dirinya tertolong
dari hujatan,'' jelas Bambang. Perintah yang diharapkan Wiranto 
adalah perintah yang dapat memperbaiki citra ABRI. ''Bukan perintah 
yang membenturkan dirinya kepada rakyat,'' lanjut Bambang. 
''Mengapa dia mau menjalankan?'' tanya Bali Post. Ketika rapat 
lengkap polkam, Sabtu (14/11) petang, Wiranto keluar sebelum 
peserta rapat keluar. Wiranto justru minta wartawan menanyakan 
hasil rapat kepada Feisal. Tidak lama setelah rapat, Habibie 
mengeluarkan perintah penangkapan. ''Ada kesan, Wiranto tidak 
setuju dengan perintah tersebut, tetapi posisinya tidak memungkinkan 
untuk menolak,'' tegas Bambang. Meski demikian, kata Bambang, 
faktanya perintah penangkapan sudah dijalankan. Artinya, sudah 
diketahui siapa yang kalah dan menang ketika rapat polkam 
Sabtu lalu itu. 
      



---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Kirim email ke