Ass.

Melihat judulnya, mungkin Anda bingung, apa hubungan Satria Piningit
dengan film India/Pakistan yang banyak lagu dan goyang pinggul serta
dadanya :-), tetapi biarlah saya mendongeng dahulu, semoga Anda tidak
bosan dan menguap karena kantuk, terutama yang lagi puasa :-).

Hari Minggu kemarin, karena tidak ada niatan keluar rumah, maka saya
nonton tv (kebetulan Indosiar) yang sedang memutarkan film Pakistan
(seperti film-film India). Sebenarnya saya males banget nonton film-film
India, apalagi ada nyanyinya. Tetapi karena tidak ada acara lain yang
menarik, dan adik saya juga pingin nonton film India/Pakistan tersebut,
ya terpaksa nonton jadinya :-).

Film tersebut berjudul Ghobiland ka Badhsah. Bercerita tentang
kemiskinan yang ada di Pakistan. Dan diantara koloni masyarakat miskin
tersebut, muncul seorang pria yang menamakan dirinya Raja Orang Miskin
(seperti Robin Hood kali atau Satria Piningit). Dia selalu tampil dimuka
untuk membela orang miskin dari permainan politik orang-orang kaya. Di
situ diceritakan ada seorang kaya raya bernama Tuan Asmat yang memiliki
seorang Putri (saya susah nyebut namanya, soalnya mirip nama India :-)),
Tuan ini sangat berambisi untuk memenangkan pemilihan umum (tidak
disebutkan pemilihan umum tingkat apa), juga ada Inspektur Polisi (yang
sebenarnya jujur tetapi sangat terikat pada prosedur hukum dan
peraturan), juga ada Pak Guru yang menjaga dan memelihara sang Robin
Hood. Juga ada seorang Pengacara yang kehilangan Anak karena diculik.
Pengacara ini telah melupakan hati nuraninya, dan sering membuat
pengadilan-pengadilan rekayasa untuk kepentingan Tuan Asmat.
Tuan Asmat ini berlagak sebagai hartawan yang sangat dermawan. Di bantu
oleh sang Putri dia sering berkampanye dengan membagi-bagikan uang
kepada rakyat miskin, untuk menunjukkan bahwa ia sangat dermawan
(walaupun jumlah yang dia berikan hanyalah sebesar uang recehannya
saja). Tetapi setiap putrinya berkampanye untuk kepentingan bapaknya,
selalu saja diganggu oleh sang Raja Orang Miskin. Sang Raja selalu
menolak tindakan pembagian uang itu, karena dia menilai itu hanyalah
akal busuk Tuan Asmat untuk menarik simpati rakyat miskin untuk
memilihnya, sementara pada kesempatan lain dia menjual anak gadis
orang-orang miskin untuk dijadikan pekerja dirumah pelacurannya, dan
melakukan kejahatan-kejahatan lainnya yang bahkan semua
kejahatan-kejahatan tersebut tidak diketahui oleh putrinya sendiri.
        O, ya, sang Raja juga membentuk suatu yayasan yang dipimpin oleh
tokoh-tokoh masyarakat miskin (tokoh-tokoh reformis ?..). Menyimak asal
dari tokoh-tokoh tersebut, yang berasal dari berbagai-bagai suku dan
bahasa di Pakistan, tampaknya mereka juga merupakan wakil-wakil
rakyat/suku bangsa. Yayasan ini bertugas melayani dan menerima serta
berusaha menyelesaikan keluhan-keluhan rakyat atas penindasan rezim Tuan
Asmat, yang sekalipun bukan pejabat, tetapi sangat dijilati oleh pejabat
dan pimpinan-pimpinan militer yang diwakili oleh atasan sang Inspektur
Polisi, serta juga menguasai pengadilan.
Karena seringkali digagalkan oleh sang Raja, maka Tuan Asmat berusaha
untuk memfitnah sang Raja, dengan menyatakan sang Raja adalah ketua
gerombolan perampok dan pencoleng, sehingga beberapa kali sang Raja
harus dijebloskan oleh sang Inspektur Polisi ke penjara. Tetapi berkat
sang Guru yang bisa memberikan bukti bahwa sang Raja bukanlah seperti
yang dituduhkan tersebut, maka sang Inspektur juga berkali-kali harus
membebaskan sang Raja. Sang Raja berupaya meyakinkan sang Inspektur,
bahwa politikus yang dia bela adalah penjahat besar yang menindas
rakyat. Tetapi karena Sang Inspektur masih terpaku pada keindahan hukum
tanpa melihat atas dasar apa hukum itu dibuat dan untuk kepentingan
siapa hukum itu dibuat, tanpa menilainya dengan hati nurani, sehingga
dia tetap menyatakan jika sang Raja melanggar hukum, maka dia tetap akan
menangkap sang Raja.
        Karena setiap usahanya memfitnah sang Raja selalu gagal, maka
Tuan Asmat melaksanakan rencana keji, yaitu dia menyuruh anak buahnya
untuk menembak mati seorang anggota satu suku, kemudian menembak lagi
beberapa orang dari suku lain, sehingga dianggap sebagai balas dendam
satu suku dengan suku lain (semacam chaos yang terjadi di Indonesia,
yaitu disini agama, di Pakistan karena semua Islam, maka diadudomba
berupa isu suku). Usahanya berhasil sehingga terjadi chaos
besar-besaran. Bahkan karena chaos itu, timbul saling tidak percaya dari
para pemimpin yayasan satu sama lainnya. Dan mereka pun mulai tidak
percaya pada langkah-langkah yang dilakukan oleh sang Raja. Maka mereka
menuntut sang raja untuk menjelaskan hal ini dihadapan mereka. 
        Sang Raja dengan perasaan yang sangat sedih lalu berkata, "Saya
tidak bisa berbuat apa-apa mengatasi hal ini. Selama perasaan bersatu
kita dilandasi atas kepentingan 'Saya', 'Kami', 'Mereka' bukan atas
kepentingan 'Kita', maka persatuan kita hanyalah persatuan semu. Yang
sangat mudah sekali dipecahkan/dihancurkan oleh mereka yang berusaha
mengail diair keruh untuk kepentingannya. Persatuan kita akan sangat
rapuh, dan untuk ini saya bukan apa-apa yang bisa tetap menjaga keutuhan
tersebut, tetapi hanya kemauan kalian semua dari berbagai-bagai suku
untuk menyatakan bersatu atas dasar kepentingan 'Kita semua' tanpa ada
bias. Kemauan kalianlah, dan hanya kalianlah yang mampu melakukannya
bukan saya sendiri". Setelah mendengar hal itu semua tokoh-tokoh sepakat
dan saling berpelukan dalam upaya melepas egonya masing-masing.
        Tetapi Tuan Asmat maju selangkah, dengan melakukan fitnah bahwa
chaos yang terjadi adalah karena perbuatan sang Raja. Inspektur seperti
biasa lalu menangkap sang Raja dan mengajukannya ke meja hijau dalam
suatu pengadilan yang telah direncanakan secara matang oleh Tuan Asmat
atas bantuan sang Pengacara. Dalam pengadilan rekayasa tersebut, semua
saksi-saksi adalah saksi palsu yang berani bersumpah dengan Al-Qur'an
hanya karena mendapat imbalan 100 rupee. Ketika pengadilan sudah menuju
tahap penjatuhan vonis, hakim menanyakan apa sang Raja ingin mengatakan
sesuatu. Sang Raja lalu berkata "Pak Hakim, saya menyangkal semua
tuduhan sang Pengacara/Jaksa terhadap saya. Perlu pak Hakim ketahui,
bahwa saksi-saksi yang diajukan oleh Jaksa adalah saksi palsu, dan
bukti-bukti yang jujur tidak ada diruang ini. Sehingga tidak ada
keadilan di raung ini. Bapak Hakim cuma duduk dibelakang meja hijau pak
Hakim, sementara bukti-bukti dan saksi-saksi ada disetiap sudut-sudut
perkotaan, desa, lembah-lembah yang dapat Pak Hakim gunakan untuk
menciptakan keadilan. Hukum tidak ada artinya jika Pak Hakim melihatnya
hanya dari balik meja Pak Hakim. Keluarlah Pak Hakim dari ruangan ini,
dan saksikanlah keadaan diluar, maka Pak Hakim akan tahu keadaan yang
sebenarnya, bahwa saya tidak bersalah".
Dan pengadilan ditunda untuk mendengarkan vonis hakim.
Sementara itu tuan Asmat menculik seorang gadis yang selama ini dijaga
dan dilindungi sang Raja. Penculikan ini terjadi setelah sebelumnya sang
gadis menemui sang Pengacara/Jaksa agar dia bisa membatalkan tuduhan
palsu tersebut karena hal itu adalah kebohongan, dan sang Raja adalah
pelindung rakyat miskin, sehingga demi keadilan, agar sang Jaksa bisa
membebaskan sang Raja. Tetapi sang Pengacara menutup telinga hati
nuraninya rapat-rapat.
Gadis yang diculik itu kemudian hendak diperkosa oleh Tuan Asmat, tetapi
dia mengancam akan menjerit sekuat-kuatnya. Tuan Asmat tertawa dan
menyatakan ruangan ini kedap suara sehingga tidak akan ada yang
mendengar jeritannya. Sang Gadis kemudian berkata, maka saya akan diam
dan menutup suara saya kuat-kuat karena kediamanlah yang akan lebih kuat
dari jeritan saya. Kemudian dia berusaha meloloskan diri dengan cara
melompati jendela dan jatuh dari bangunan tinggi lalu mati.
        Kematiannya ini ternyata membuat seorang tua yang ternyata
merupakan ayah dari sang Raja yang telah lama hilang muncul kembali,
untuk mencari sang gadis. Ternyata sang Gadis adalah anak dari Sang
Pengacara yang dulu diculik olehnya. Ketika mengetahui bahwa gadis yang
datang kepadanya untuk meminta pembebasan sang Raja tetapi kemudian dia
abaikan, ternyata adalah anak kandungnya yang dia
nanti-nantikan/harapkan selama dua puluhan tahun, dan telah tewas
ditangan orang yang selama ini dia bela semua kepentingannya. Hal ini
membuat dia sadar dan terbuka mata dan telinga hatinya. Kemudia dia
menjumpai Tuan Asmat untuk membalas dendam, tetapi karena pengawal Tuan
Asmat banyak, maka dia lari sambil mengancam akan membuka kedok Tuan
Asmat di pengadilan. Saat itu pengadilan sedang digelar untuk pembacaan
vonis hakim yang kelihatannya akan berjalan sesuai dengan skenario awal.
Tentu saja Tuan Asmat tidak mau semua rencananya digagalkan oleh sang
Pengacara, dan menyuruh pengawalnya untuk menghabiskan sang Pengacara.
Tetapi walaupun sekujur tubuhnya telah dimasuki peluru, dengan segenap
tenaga terakhirnya, sang Pengacara dapat mencapai ruang pengadilan tepat
saat hakim akan membacakan vonisnya. Dengan terbata-bata dia membongkar
semua kedok dari Tuan Asmat dan menyatakan bahwa sang Raja tidak
bersalah. Kemudian dia mati. Hal ini membuka kesadaran dari sang
Inspektur. Kemudian dia menjumpai atasannya dan meminta izin untuk
menangkap Tuan Asmat. Tetapi atasannya menolak dan mengancam dia untuk
meletakkan jabatan jika dia tetap bermaksud menangkap Tuan Asmat, maka
sang Inspektur menyerahkan semua atribut jabatannya kepada sang atasan
dan berhenti seraya mengatakan, bahwa dia tetap percaya pada hukum dan
akan menegakkannya, tetapi hukum yang dia percaya dan akan tegakkan
adalah hukum yang dibuat atas dasar hati nurani dan keadilan tanpa
ditunggangi oleh kepentingan suatu kelompok, hukum yang memihak pada
rakyat kecil.
Dan seperti bisa ditebak maka keadaan berbalik 180 derajat. Tuan Asmat
yang berusaha melarikan diri keluar negeri tetapi sebelumnya bermaksud
membuat chaos dengan meledakkan tempat-tempat strategis sehingga jika
keadaan negara Pakistan mengalami chaos, maka dia akan memiliki
kesempatan untuk comeback lagi. Tetapi usahanya berhasil digagalkan sang
Raja dengan dibantu oleh Inspektur dan ketua-ketua yayasan. Dan kemudian
film berakhir happy ending dengan hancurnya tuan Asmat dan bersatunya
rakyat, serta bersatunya cinta sang Raja terhadap putri Tuan Asmat (yang
sadar bahwa selama ini dia telah dikelabui oleh ayahnya sendiri). Dan
bernyanyilah mereka.

        Melihat film tersebut, terlepas kebetulan-kebetulan yang banyak
muncul di film tersebut. Sebenarnya film ini tanpa sengaja telah
memaparkan situasi yang sebenarnya dari Indonesia, dan film ini sarat
renungan atas situasi negara kita.
        Pertama, bahwa satria piningit itu sebenarnya bukan dari satu
orang dan tidak perlu ditunggu-tunggu, tetapi kita semua, ya, kita semua
yang mau secara sadar melepaskan ego-ego keakuan kita untuk menyatukan
sikap membangun bangsa ini demi kepentingan kita semua tanpa kecuali.
Kita bisa segera mewujudkan satria-satria piningit yang ternyata adalah
kita juga yang sadar akan persatuan kita.
        Kedua, bahwa keadilan dan hukum akan berfungsi sesuai tujuan
aslinya, jika pembuatan hukum tersebut didasari oleh rasa keadilan dan
kebenaran. Dan mereka yang praktisi hukum (Hakim, Jaksa, Pengacara, dan
Polisi) tidak cuma berkutat dimasalah tekstual dan bukti-bukti tertentu,
tetapi mau menggali bukti-bukti tersebut langsung pada sumber-sumber
aslinya, yaitu pada keadilan, kesengsaraan dan keterjepitan rakyat.
Disitulah hukum yang sebenarnya ada.
        Ketiga, dalam menyuarakan aspirasi rakyat kita tidak perlu
menjerit-jerit sekuatnya sehingga membuat kita lupa dan merubah suara
jeritan kita menjadi tindakan anarki, merusak segala-galanya apa yang
tampak dihadapan kita sehingga menimbulkan chaos yang bisa dimanfaatkan
pihak-pihak tertentu yang mencari diair keruh. Model Ahimsa nya Gandhi
ketika membebaskan India adalah contoh yang bagus dalam menyuarakan
keadilan yang kita harapkan.
        Keempat, Media massa seperti suratkabar, tv, radio, dan terutama
film dapat menampilkan isi yang berpihak kepada rakyat kecil. Tidak lagi
seperti selama ini selalu sangat suci dalam menggambarkan tindakan pihak
elit politik dan birokrasi kita. Tetapi dapat menggambarkan dengan wajar
dan sesuai dengan fakta yang diramu dengan sikap yang bertanggungjawab
berkeadilan.

Dan banyak-banyak lagi renungan yang digali dari film tersebut, termasuk
dari makna syair-syair lagunya jika kita tidak hanya melihat goyang
pinggul dari penyanyi/penarinya :-).
Kapan, ya, kita punya film yang menyuarakan keadilan dan renungan sesuai
dengan budaya kita, tidak seperti Kuldesak itu (tetapi saya belum lihat
filmnya, hanya baca resensinya).

Wassalam
Zulfazli Thaib Lebe


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **

Indonesia without violence!

Kirim email ke