Yang lebih lucu lagi adalah komentar Dirut PT TElkom yang mengatakan
bahwa Laba tidak bisa dipertahankan karena tarif tidak boleh naik.

Pernyataan ini, pertama secara teoritik telah menunjukkan bahwa sang
dirut kurang membaca, dan kedua secara praktis Econit telah
menunjukkan bahwa kesalahan manajemen tidak etis dibebeankan kepada
konsumen.

Dunia telah berubah dimana paradigma baru mengenai manajemen yang
efisien melalui inovasi dan perbaikan terus menerus telah banyak
diadopsi. Buletin Toyota yang dikeluarkan oelh head quarters
menunjukkan bahwa mereka mampu menghemat 1.85 bilyun $ dengan
menggunakan paradigma baru tersebut.

Komponen laba adalah Pendapatan dan Biaya. Tampaknya sang dirut tidak
mengerti bahwa dengan Pendapatan tetap perusahaan mungkin menaikkan
Laba bila biaya bisa diturunkan. Namun inilah penyakit sang monopolis.
Karena tidak ada tekanan dari pesaing maka ia bisa se-enaknya
memainkan harga untuk meraih target laba.

Di sisi yang lain, Econit telah menunjukkan hasil analisisnya bahwa
ternyata manajemen Telkom tidak efisien dimana penghematan-penghematan
mestinya bisa dilakukan. Nah, lagi ini perilaku sang monopolis dimana
efisiensi kurang mendapat perhatian karena ia bisa meraih target laba
dengan memainkan harga. Pertanyaanya adalah: "apakah etis membebankan
ketidakefisienan organisasi kepada pelanggan?"

Selama PT Telkom tidak memperoleh tekanan dari pesaing maka tampaknya
perilaku dan penyakit itu akan terus berlangsung. Seandainya di
Indonesia ada perusahaan lain yang beroperasi (bukan perusahaan KKN)
maka perilaku Telkom pasti akan berubah.
.-



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke