Ada lagi yang tewas di Ambon... Berita ini telah dikonfirmasikan ke
Perkantas Jakarta. Turut berduka cita atas hilangnya lagi nyawa yang
sia-sia.. Mari hentikan kekerasan dan jalin solidaritas sesama manusia.
Agama bukan menjadi alasan untuk pembunuhan dan pembantaian. Agama adalah
perintah untuk hidup damai dan mengasihi. Seorang teman saya mengatakan,
sebenarnya Islam itu artinya damai... sedangkan Kristen berasal dari kata
Kristus, nama dari Yesus Kristus yang memerintahkan kasih. Bila kita sadar
hakekat dari agama kita masing-masing, tentu kita akan hidup damai dan
mengasihi.

------------------------Martin Manurung-----------------------------
[EMAIL PROTECTED]  [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
____________________________________________
"Love your enemies, do good to those who hate you"

Deleted Sender

Teman-teman ... saya sedih melihat saudara kita disana yang harus
menghadapi persecution yang begitu berat.

Saya benar" mau encourage teman-teman mau peduli akan hal ini
dan terus berdoa buat mereka.

Masih percayakan kita bahwa Tuhan masih mendengarkan doa" kita ... ?
Please PRAY CONTINUALLY ... & remember that THE PRAYER OF A
RIGHTEOUS MAN IS POWERFUL AND EFFECTIVE.

======================================================
Saudara yang kami kasihi,

Ini mail ketiga mengenai keadaan kami semua di Ambon. Hari ini
teman-teman sepelayanan berduka untuk kematian Lucky Paliama, seorang
pekerja Perkantas, yang sering juga hadir di Rally Nav. Lucky & calon
istrinya sedang bertugas ke kota, yang harus melewati daerah Batu Merah
(Jl. Raya). Esoknya (kemarin) Polisi menemukan mayat Lucky yang sudah
dipotong lehernya  & mayat tunangannya di tempat lain dengan keadaan
yang sama.

Lambert Lois (Koord. Pelayanan Alumni Nav) teman baik Lucky kebetulan
pada waktu yang sama harus lewat jalan tersebut tapi agak ragu dan ambil
jalan lain yang sebenarnya lebih ditakuti orang karena melewati
tengah-tengah wilayah Batu Merah bawah, tetapi ternyata lebih aman /
sepi karena semua sedang menyerang di jalan raya.

Hari ini Lambert sibuk menenangkan semua massa Pemuda Gereja di Wilayah
mereka (tempat Lucky tinggal) untuk tidak membalas menyerang. Ini
kegiatan kami sekarang, di mana-mana sibuk menenangkan orang dengan FT
untuk tidak mengambil langkah menyerang. Di wilayah kami, setiap malam
di POSKO diadakan ibadah, jadi ini kesempatan juga buat kami membagi FT,
agar orang-orang Kristen bersabar & menunggu Tuhan bekerja. Motto
pelayanan kami sekarang  "Jika manusia turun tangan, Allah akan angkat
tangan dan sebaliknya, Allah turun tangan waktu kita angkat tangan"

Karena doa Saudara-saudara, usaha orang-orang Batumerah / gunung
galunggung untuk menyerang kami beberapa kali bisa digagalkan, sehingga
mereka tidak pernah mencapai bibir bukit kami. Syukurlah perang fisik
tidak terjadi walau semua orang sudah menunggu dengan parang dan tombak
di bibir bukit.

Mereka akhirnya beralih menyerang daerah Rinjani, sama-sama lembah, tapi
Rinjani di Utara kami, ada 7 orang tewas & 4 luka & 7 rumah dibakar.
Kami sedih sekali untuk semua kehilangan ini.

3 hari lalu Sammy Sopacua (Koord. Pelayanan Ukim) yang tinggal bersama
kami hampir kena tembak. Pada waktu itu massa mulai membakar rumah
tetangga kanan kami. Sammy berlari untuk mematikan api tanpa menyadari
sepasukan tentara datang berlari sambil menembak keatas. Dua tentara
sudah menujukan senjatanya ke Sammy karena melihat sammy erus berlari
masuk kerumah yang terbakar. Sotar yang melihat itu lari ke
tengah-tengah tentara sambil angkat tangan dan berteriak "pak, jangan
tembak, jangan tembak itu adik saya" . Saya berlari juga ketengah-tengah
tentara dan menjerit "Api Pak, kami minta izin untuk padamkan api". Jadi
di tengah-tengah tembakan kami sibuk mengangkat air dari rumah &
menyirami api. Sampai sekarang Sotar & Sammy masih stress jika teringat
kejadian itu.

Kami semua masih terus juga bergumul untuk memadamkan panah api si jahat
yang terus berusaha membuat kami marah & benci di dalam hati.

Patrick dari pelayanan Pasutri bercerita tentang pergumulannya sewaktu
rumahnya di lempari dengan panah api (walau semua panah tersangkut di
pohon / tiang listrisk), ia sudah siap membidik dengan panah. (orang
Maluku Tenggara terkenal ahli memanah) sementara orang yang membidik
semakin dekat, ia bergumul apa ia akan jadi pembunuh???? & syukur Tuhan
menenangkan hatinya.

"Perang fisik" kini telah beralih ke penculikan dan potong kepala lagi,
Ibu-ibu yang kepasar, anak-anak yang di Jalan, jadi korban potong.

Orang Kristen masih dilarang menyerang, syukurlah orang Kristen disini
sebagian besar  masih takut & patuh pada Gereja. Walau mereka sudah
terus mendesak ketua Sinode untuk memberi ijin menyerang. Ketua Sinode
diam terus tidak menjawab. Tolong doakan Pak Sammy Titaley (ketua
Sinode) supaya teguh, memimpin dalam kehendak Kristus.

Kami sudah mulai mengepak barang-barang kami & ungsikan ke daerah aman.
Sewaktu memilih-milih barang-barang mana yang paling penting untuk
dibawa lari jika ada "sesuatu" . Kami dapati ternyata kebutuhan kita
cuma sedikit sekali. Sedikit pakaian dan sedikit buku, cukuplah.

Kami perhatikan semua pengungsi yang berhasil lari, walau hanya dengan
baju dipakai saat itu, & kehilangan semuanya (rumah + harta /barang),
selalu berkata kepada kami, ya kalau Tuhan mau ambil itu semua ya tidak
apa-apa, yang penting kami sudah selamat.


Pada akhir semua disadarkan bahwa jiwa kita jauh lebih berharga dari
semua materi yang kita miliki. Saya kagum dengan para pengungsi ini,
yang  masih bisa tertawa dan bermain. "Penerimaan keadaan" mereka cukup
kuat, belum pernah kami dengar ada yang mengeluhkan kehilangan mereka.

Kami dapat kesempatan untuk menjaga rumah tetangga islam kami dari
penghancuran. Pada kerusuhan pertama kami berusaha memberi rasa aman
pada 1 keluarga Bugis, sehingga mereka tidak lari mengungsi sementara.
Semua orang sudah lari, pada kerusuhan ke2 dan ke3 ini kami mencoba
mempertahankan rumah tetangga kiri kami orang Pelau - Haruku supaya
tidak dihancurkan, sementara rumah-rumah lain di sekitar kami sudah
hancur / barangnya dibakar. Tolonglah berdoa agar rumah tetangga ini
bisa terpelihara terus sampai seterusnya, sebab banyak orang sudah
meminta kami untuk "melepaskan tangan" dari rumah itu.

Setidaknya baru ini cara yang ada untuk menyatakan kepada mereka bahwa
orang Kristen juga Care dengan mereka. Penghuni sendiri sudah mengungsi,
tapi hampir setiap hari kontak telpon dengan kami.

Apa yang Ambon belajar dari semua ini???????? Belum jelas, tapi satu
yang menonjol, Sinode GPM mulai mengistimewakan Doa, Gereja (Sinode GPM
"hampir" menjadi Sinode Tunggal di seluruh Maluku) terus menerus siang
malam, menginstruksikan Jam-jam doa untuk pendeta/majelis/keluarga
dirumah-masing-masing.

Semoga tanah keras menjadi lembut, siap untuk berita Injil masuk lagi,
ke daerah ini, daerah Kristen pertama di Indonesia.

� Pak Naek, terimakasih untuk R0 8 : 28   parapharased itu, kami sangat
terharu & membaca /hafalkan itu.
� Terimakasih untuk respons mail, telpon yang kami terima, kami sangat
tersentuh dengan semua pernyataan kalian
� Thanks Damaris, Edu, Alex, Luhut, Irwan / Imelda, Sammy Nayoan, Eddy
HS, Ida Ismael, Adi wiyono, Putu Ardana, Setyabudi, Carol Ross, Pak Jim
North, Herwinsyah Rusianto, Sihol, Yosyan M, Samsir,  Samuel Handali,
Dana Yeakley, Toni Sofian di Guangzhou, Marcia Elliot, Rudi Manurung,
Peter Burch & Sulis, Lukman Aroean, Lina Na70, Johny /Lidia, Dirtilan /
Elina dan Tantenya Sihol di Jepang.
� Samsir tolong forward ke Andreas Nugraha Nugroho di London, kami
senang dapat telponnya.
� Pak Jim Truax, Pasti counselling untuk traumanya akan sangat
diperlukan. Kami akan coba bicarakan dengan gereja. Walau waktunya tentu
baru bisa beberapa bulan lagi. Setelah semua pengungsi / korban settled
down. Pos belum jalan jadi buku-buku belum sampai.
� Kel. Elias Musila / Justi Pattikawa mengirimkan ucapan terimakasih &
syukur mereka untuk doa-doa & mail saudara-saudara.. Kami telpon mereka
karena belum bisa bertemu sampai hari ini.
� Pak Krista,  kami belum bisa saling kontak disini, teman-teman yang
jadi korban / rumah terbakar/ belum dapat kami ketahui tempat
pengungsiannya & kebanyakan tidak punya telpon. Jadi belum tahu
kebutuhan mereka apa. Mungkin tunggu saja sampai semua info ada, kami
baru dalam tahap inventarisasi kebutuhan.
� Sampaikan salam & terimakasih untuk semua teman yang berdoa.
� Doakan pasukan ABRI yang akan dikirim dari Jakarta tidak akan perpihak
dan berhikmat dalam menenangkan Ambon. Meraka akan tiba dalam waktu
dekat ke Ambon.
� Doakan perang di Desa Waai (kampungnya Mira Habibu - Nav Jakarta) yang
sedang dikepung oleh 2 desa (utara desa Liang dan selatan Desa Tulehu) .
Mungkin yang pernah ke Ambon masih ingat tempat kita pergi lihat
belut-belut besar. Perang sudah seminggu, belum selesai. Puluhan orang
dari 2 desa penyerang meninggal dengan rasa sedih & malu kami harus
menyadari bahwa Waai memakai kuasa gelap. Doakan seluruh orang-orang di
Waai (Kristen)


Salam kami untuk Saudara semua

Butet & Sotar


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke