Berikut ini adalah tulisan Emha Ainun Nadjib, yang dikomentari oleh rekan
saya, Teguh,  yang menurut saya dia memiliki pengetahuan tentang Islam lebih
luas dibanding saya. Sdr. Teguh ini juga sudah sering menjadi 'Khatib' dalam
setiap sholat Jum'at.
Mungkin bisa jadi bahan masukan. Maaf kalau terlalu panjang.
Terima kasih
-----------------------------------------
  DHANI HARTANTO
  [EMAIL PROTECTED]
-----------------------------------------

SAYA ANTI DEMOKRASI
oleh : Emha Ainun Nadjib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan
Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator
mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas
bukan yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah.
Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya
Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan
minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namaya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak
teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah
adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350
tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang
adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah
ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang
sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan
dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra
demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat
jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme
kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh
peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca
kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan
Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese
dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan
menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari
sudut pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melaui
apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai
anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat
di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai,
sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang
karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah
musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng
mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi.
Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang
etnis 'gitu..."

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak
diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak,
sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak,
bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada
Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah
"Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa
saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh,
ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk
jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang
ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah
terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas
Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat
Islam.
Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri
oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku
dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.
"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh
orang Islam sendiri.

Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu
momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak.
Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi
penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno'
yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak,
berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa
depan. ***

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, March 07, 1999 6:40 PM

Membaca tulisan Emha Ainun Nadjib, saya jadi
bertanya-tanya dan berpikir-pikir dan terheran-heran.
Dari tulisan itu, tersurat dan tersirat betapa besar
rasa frustrasi beliau sebagai Muslimin atas
ketidakadilan dunia terhadap Islam. Dan rasa
frustrasi semacam ini sebenarnya tidak hanya monopoli
perasaan Emha tapi juga banyak Muslimin yang lain
seperti Achmad Sumargono. Dalam posting ini, saya
ingin pendapat rekan-rekan apakah ketidak adilan
dunia itu hanya dirasakan oleh umat Islam atau juga
umat yang lain? Apakah ketidak adilan itu
dipraktekkan oleh umat agama satu terhadap yang lain?
Ataukah ketidak adilan itu dirasakan oleh semua
pihak? Bila demikian siapa pelaku ketidak adilan itu?

Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama
Islam (di KTP, tapi apakah benar sebagai penganut
sukar di ukur) menurut saya banyak mempraktekkan
budaya Islam. Pembacaan doa setiap Upacara Bendera
tgl 17 Agustus di Instansi Penmerintah di Jawa selalu
doa cara Islam (Ada yang tahu bagaimana kalau di
Irian atau Ambon yang mayoritas Kristen atau Bali
yang mayoritas Hindu?). Pembacaan doa usai sekolah di
sekolah Negeri juga ragam Islam. Saya kira sampai
sekarang tidak ada protes dari yang bukan Islam.
Belakangan ini memang banyak pertemuan antar umat
berbeda agama dan mengakhiri pertemuan dengan doa
dari bermacam-macam agama. Jam kerja di kantor
pemerintah juga berakhir jam 11 pada hari Jum'at
untuk Shalat Jumat. Kalau ada kantor swasta yang
ngadain rapat pada jam shalat jum'at itu memang tidak
perasaan. Ini bisa diatur dengan mudah dengan undang-
undang yang ada sanksinya. jadi dengan undang-undang
itu pihak swasta harus beristirahat pada waktu Shalat
Jumat dsb (pabrik tidak bisa berhenti mesin sewaktu-
waktu, ini perlu dipertimbangkan).

Lalu AS vs Iraq, apakah benar AS menganggap yang
salah adalah Islam? Setahu saya AS menyalahkan Saddam
bukan Islam. Kalau menyalahkan Islam, mengapa
membantu Kuwait dan Arab Saudi waktu diserang Iraq?
Omong-omong tentang Kristen dan AS, mayoritas orang
Amerika adalah sekuler dan lebih berpegang pada hukum
daripada Agama. Kristen fundamentalis juga ada di
Amerika yaitu di negara-bagian negara-bagian di
Selatan seperti Arkansaa, Oklahoma dll. Kristen
fundamentalis ini juga mirip Islam fundamentalist
yang menganggap orang lain tidak benar dan tidak akan
masuk surga dan ajaran lain adalah sesat. Ini hanya
minoritas. Bahkan sekte tertentu yang berhaluan keras
juga ditindak oleh pemerintah, ingat Waco, Texas yang
dibumi-hangus oleh Janet Reno? Pemerintah Amerika
juga menghormati seluruh agama, Hilary Clinton juga
mengucapkan selamat Berpuasa kepada Umat Islam. Namun
ada benarnya bahwa citra Islam di AS tidak terlalu
bagus. Sebab citra suatu aliran atau agama atau etnis
selalu ditunjukan oleh perilaku orang-orang yang
mengaku menganut agama atau aliran tersebut. Nah di
AS yang mengaku Islam adalah Nation of Islam yang
kegiatannya lebih banyak menyebarkan bibit kebencian
terhadap orang Jahudi dan orang kulit putih. Tahukah
bahwa Malcom X baru tahu bahwa pemeluk Islam bukan
hanya orang kulit hitam waktu dia menjalankan Ibadah
Haji? Banyak orang Indonesia selalu mengira bahwa AS
adalah Kristen, Barat adalah Kristen. Apa benar?
Menurut saya tidak. Barat dan Amerika itu sekular,
kapitalis, hedonis tapi juga humanis, tidak fasis,
menghargai hak asasi pribadi sepenuhnya. Orang
amerika tidak mementingkan agama, tapi sangat
nasionalis, mementingkan bangsa dan negaranya sendiri
lebih dari segala sesuatu. Orang Amerika tidak
terlalu tergila-gila dengan produk luar negeri
seperti juga orang Jepang lebih suka jeruk Jepang
dari pada Jeruk Amerika, tapi orang Indonesia tidak
merasa gaya kalau tidak makan apel Australia, durian
Bangkok, ngomong dicampuri bahasa Inggris, Arab dsb
padahal Indonesianya, Inggrisnya atau Arabnya juga
tidak becus.

Belanda jajah Indonesia selama 350 tahun tapi bukan
Kristen yang salah? Siapa bilang begitu? Saya kira
ini adalah kesombongan orang Kristen jaman dahulu.
Seperti juga agama yang membiarkan perbudakan, jaman
sekarang mana ada perbudakan dihalalkan? Orang
kristen datang ke Amerika dan membantai penduduk asli
(yang secara salah disebut Indian)karena para pendeta
Kristen menganggap mereka menyembah setan dengan
upacara pengorbanan perawan. Galileo dipacung hanya
karena pendapatnya bertentangan dengan kepercayaan
Gereja. Apa pelajaran yang dapat ditarik dari semua
itu? Tak ada yang namanya mutlak, kebenaran mutlak
itu tidak ada. Ingat hukum ketidak-pastian
Heisenbergh? Bisa benda bisa energi.

Saya juga sangat heran kenapa Kristen dan Islam
selalu dipertentangkan? Padahal keduanya mirip
sekali. Kedua agama ini jauh lebih mirip satu dengan
yang lain daripada dengan Hindu atau Budha. Inti
ajaran Kristen dan Islam pada dasarnya 100% sama. Doa
utama dalam Islam adalah Al Fatihah dan doa utama
orang Kristen seperti yang di ajarkan oleh Jesus
adalah Doa Bapak Kami. Coba ditulis sebelah
menyebelah kedua macam doa ini, Anda akan terheran-
heran atas kesamaannya. Pakaian suster kan juga mirip
dengan jilbab yang intinya menutup rambut, bahkan
Pasturpun menutup auratnya. Kantor Partai Keadilan
punya ruang tunggu untuk wanita terpisah dari yang
untuk Pria. Sekolah Katolik jaman dulu juga
memisahkan kelas putra dari kelas putri.

Saya tidak begitu yakin akan pernyataan bahwa umat
Islam mayoritas maka harus mengalah karena kalau
tidak itu namanya diktator mayoritas. Ada yang bisa
memberi contoh kasusnya? Kalau keturunan Tionghoa
berani melawan berkelahi dengan orang Jawa dan
berakibat seluruh orang Tionghoa dibakar tokonya
memang pernah terjadi di th 1980 di Jatim dan Jateng.
nampaknya aturan main antara mayoritas dan minoritas
memang harus ditulis. SARA memang perlu disadari dan
tidak diingkari keberadaannya. Tujuan untuk
menciptakan masyarakat buta-warna tak akan tercapai
bila antara warna-warna yang berbeda itu juga
tergabung perbedaan sosial ekonomi dan lain-lain.

Kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah yang
sebenarnya diinginkan oleh beberapa orang Islam itu
terhadap Indonesia ini? Mengubah budaya Indonesia
(Jawa, Sumatra, Bali dsb) seperti budaya Islam atau
Arab? (Bagaimana membedakan budaya Arab dan Islam? Di
India, kalau mau beragama Hindu harus punya Kasta,
karena itu orang yang tidak masuk kasta tidak bisa
Hindu dan akhirnya jadi Islam atau Kristen. Bali
adalah satu satu orang selain India yang Hindu. Agama
Judais juga hanya milik orang Jahudi, jadi jangan
anggap orang Jahudi orang Kristen. Orang Jahudi masih
menantikan nabi terakhir mereka). Islam dan Kristen
dan Budha dan Hindu di Indonesia sebenarnya statusnya
sama yaitu agama pendatang. Karena itu pemeluk-
pemeluknya adalah orang-orang yang berubah agama
(converted). Kepercayaan asli Indonesia sebenarnya
adalah animisme dan dinamisme, karena itu perdukunan
tetap laris, pertahyulan juga laku (Orang Amerika
juga suka Phsycic Hotline). Karena itu kejawen
menyusupi Islam. Dan untuk menerapkan Islam secara
murni akan sangat sulit karena itu menyangkut
perubahan budaya, karena itu harus fleksibel. Karena
itu wayang orang Hindu jadi sarana siar agama Islam.
Seperti juga Paus tidak setuju KB tapi gereja
Indonesia setuju KB. Perlu disesuaikan dengan kondisi
setempat. Karena memangnya Paus akan ngasih makan
anak kelaparan dengan janji masuk surga pada orang
tuanya, atau nomboki pemerintah yang utang untuk beli
beras?

Apakah benar orang Kristen menilai Islam secara
subyektif sesuai sudut pandang meraka tanpa membaca
Al Quran? Secara teoritis, karena Islam datang
sekitar 400 th setelah Kristen, maka Muhammad tidak
ada dalah Alkitab, tapi sebaliknya Isa ada dalam Al
Quran. Karena itu, umat Islam bisa menilai Kristen
dengan membaca Al Quran (membaca Al Imran, kalau saya
tak salah). Bila perlu mengkritik habis-habisan
dengan membandingkan Alkitab dengan Injil Barnabas.
Bahkan dengan jelas disebutkan bahwa Allah itu tidak
beranak dan tidak diperanakkan yang sebenarnya adalah
kritik terhadap ajaran Trinitasnya Kristen. Di sini
sebenarnya Islam menganggap bahwa Kristen itu musryik
karena menyekutukan Allah. Tapi bukankah agamamu
adalah agamamu dan agaku adalah agamaku, karena itu
tidak perlu beradu argumentasi mana yang lebih benar
dan lebih berhak hidup di dunia ini. Tidak perlu
berargumentasi mana yang lebih asli mana yang lebih
diridhoi, mana yang lebih masuk akal mana yang lebih
sempurna dsb. Yang penting adalah satu nusa satu
bangsa.

Kesimpulannya, saya sedikit kecewa dengan Emha
sebagai mana saya sedikit kecewa dengan Nurcholis
Madjid yang ternyata masih berfikir adanya kelompok-
kelompokan dan satu kelompok lebih demokratis dari
yang lain. Sebelumnya saya menganggap tokoh-tokoh ini
sudah mencapai tingkat humanist sebagai kesadaran
moral tertinggi menurut kerangka Rick Erickson. Tapi
anehnya kefrustrasian mereka hanya mereka ungkapkan
bila diwawancari oleh media Islam, bukan media
Nasional. Mudah-mudahan kefrustrasian mereka hanya
sekedar kefrustrasian sesaat dan pernyataan mereak
hanya sebagai rasan-rasan kepada keluarganya sendiri
atau untuk kalangan terbataslah. Kejengkelan sering
membuat kita ingin melalukan sesuatu yang tidak baik,
tapi biarpun niat jahat itu bisa dibilang dosa, asal
kita berhasil mengurungan niat itu dengan kesadaran
akal budi maka itu bukan dosa tapi malah pahala.
Sebab orang yang tidak pernah berbuat jahat karena
memang tidak mengenal apa itu jahat sebenarnya tidak
pernah mendapat tantangan.

Saya mengharapkan tanggapan saudara-saudara sekalian
terutama tentang apakah perasaan Emha adalah perasaan
yang umum dirasakan umat Islam?






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke