Amien Rais Kembali Bela AS Jawab Tuduhan Konspirasi Internasional Peristiwa Ambon Washington DC, JP.- Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Prof Dr H M. Amien Rais menyesalkan munculnya spekulasi gegabah yang menyebut adanya konspirasi internasional di balik kerusuhan Ambon. Amien yang kini tengah melakukan muhibah internasional dan bertemu kalangan pejabat serta petinggi Gedung Putih, AS, mengungkapkan pendapatnya tersebut kemarin. Pendapat Amien Rais ini muncul untuk menanggapi sinyalemen Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto tentang adanya konspirasi internasional dalam kerusuhan Ambon. Ini juga menjawab tudingan seorang anggota Komisi I DPR RI, Yasril A. Baharuddin, yang menduga kuat bahwa AS terlibat dalam konspirasi internasional itu (baca Jawa Pos kemarin). Wartawan Jawa Pos di Washington DC Ramadhan Pohan melaporkan tadi malam, Amien Rais menyebut berbagai tudingan kedua tokoh di atas sebagai tidak beralasan. Bos PAN ini sebaliknya mengajak semua pihak di tanah air untuk mawas diri. ��Saya kira sikap yang paling ksatria buat pemerintah RI, termasuk ABRI dan kita semua, kalau tidak bisa memecahkan masalah Ambon, sebaiknya tidak usah mencari kambing hitam,�� kata Amien. Amien seperti tidak habis pikir bagaimana analisis yang dikembangkan Wiranto dan Yasril tersebut bisa sampai mengambinghitamkan pihak asing. Amien yang juga pakar politik internasional ini mengaku sulit mengikuti alur pikiran yang disampaikan kedua tokoh itu dalam menanggapi kerusuhan Ambon tersebut. ��Saya sebagai salah seorang yang cukup lama belajar hubungan internasional (HI) sulit memahami di mana intervensi internasional dalam kasus Ambon itu. Karena kasus Ambon hakikatnya tidak berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, kasus perusakan tatanan sosial disertai pelenyapan nyawa manusia,�� imbuhnya. Kasus Ambon, menurut Amien Rais, merupakan kasus dengan skala lebih besar, tapi memiliki hakikat yang sama dengan apa yang terjadi di Banyuwangi, Semanggi, Ketapang, Kupang, Lhokseumawe, Karawang, dan tempat-tempat lain di Indonesia. ��Jadi, saya menyayangkan kalau lantas kita menuding luar negeri sebagai kambing hitam tanpa bisa membuktikan satu cuil pun bukti,�� ucap Amien. Guru besar Fisipol UGM ini seperti menjadi sasaran tembak Wiranto dan Yasril karena belum lama ini ia meminta tekanan moral pihak asing bagi pemerintah RI yang tidak berdaya menuntaskan satu pun persoalan kerusuhan berdarah di Indonesia. Padahal, Amien sudah jelas-jelas menggarisbawahi tekanan moral dan bukan tekanan atau bantuan bentuk lain yang diimbaunya kepada kalangan asing (AS). ��Karena itu, saya ingin menambahkan, saya meminta AS melakukan moral pressure (tekanan moral) kepada Indonesia itu supaya Indonesia segera menuntaskan peristiwa berdarah di mana-mana. Itu karena sebagai seorang anak bangsa, saya sudah kehabisan cara. Saya melihat ada kecenderungan yang amat sangat gawat. Kalau crime against humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan) seperti yang dipertontonkan dari Banyuwangi sampai Ambon itu tidak dapat dihentikan, ledakan-ledakan lebih besar mungkin akan terjadi, dan itu berarti disintegrasi bangsa Indonesia,�� ujar Amien, mengingatkan. Amien juga menyatakan rasa kecewa jika justru ada tokoh yang memolitisasi peristiwa Ambon yang merupakan kebiadaban manusia itu dengan cara-cara murahan untuk mencapai target politik jangka pendek. ��Buat saya, sesungguhnya pemerintah, ABRI, dan Polri �kalau betul-betul bekerja keras untuk menangkap dalang serta para provokator�, pasti bisa,�� jelas Amien, enteng. Yang menjadi masalah bagi Amien adalah berlarut-larutnya kerusuhan di Indonesia tanpa adanya kemampuan menangkap para pelaku atau para aktor politik di balik peristiwa berdarah itu. Tidak terungkapnya berbagai kerusuhan, bagi Amien, itu sendiri cukup mengundang tanda tanya. ��Itu merupakan sebuah misteri bagi saya, mengapa sampai sekarang bukan saja kerusuhan-kerusuhan yang berlumuran darah di berbagai kota, bahkan untuk menangkap siapa yang menculik mahasiswa, sudah setahun yang lalu sampai sekarang belum ketahuan. Padahal, masalahnya, saya kira, sudah cukup jelas,� � tambah Amien, masygul. Khusus pendapat Yasril yang menyebut dugaan keterlibatan AS cukup jelas dikaitkan dengan misi AS yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara federal, Amien seperti mengernyitkan dahi. Apalagi ketika Yasril menilai indikasi keterlibatan AS terbaca dengan munculnya keinginan tokoh di tanah air yang meminta bantuan AS untuk melakukan tekanan moral kepada Indonesia. Siapa pun yang menyimak komentar Yasril ini pasti akan menoleh ke nama Amien. Sebab, Amien memang meminta AS melakukan moral pressure untuk meredakan kerusuhan yang tak kunjung padam di tanah air. Bagaimana guru besar Fisipol UGM itu menjawab tudingan Yasril? ��Saya minta Yasril belajar hubungan internasional lebih baik lagi supaya ketika membuat komentar-komentar itu bisa masuk akal. Di samping itu, ia harus tahu apa arti negara federalis dan apa maksud PAN meminta supaya wacana federalisme itu tidak ditutup sebagai salah satu kemungkinan alternatif abad ke-21,�� kata Amien. Tetapi, pandangan Amien itu secara tidak langsung dimentahkan Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Munir dan budayawan Emha Ainun Nadjib. Keduanya menilai ada konspirasi internasional di balik kasus Ambon. Yakni, provokasi neokolonialisme yang bertujuan merobek-robek integritas bangsa ini. ��Yang namanya kepentingan kolonialisme, imperialisme itu tetap ada. Mulai yang transparan seperti penjajahan Belanda sampai dalam tingkat paling canggih seperti sekarang ini,�� kata budayawan Emha Ainun Nadjib kepada wartawan di kantor LBH kemarin. Emha pun menyebut tiga negara yang paling punya kepentingan besar terhadap berbagai kasus kerusuhan termasuk Ambon. Yakni, Amerika, Inggris, dan Australia. ��Untuk membuktikan apakah benar mereka terlibat jelas sulit karena operasi kerja mereka amat rapi dan canggih,�� katanya. Suami artis sinetron Novia Kolopaking ini mengatakan, target mereka tidak jauh dari kepentingan ekonomi dan politik. Sebab, Indonesia punya arti sangat penting bagi mereka. ��Itu terjadi sejak zaman Baheula sampai sekarang. Cuma, praktik atau modus operandi mereka berbeda-beda,�� jelas Emha. Emha tidak setuju kalau kerusuhan Ambon dikatakan perang antaragama. Sebab, kalau perang antaragama, skalanya bisa menasional. Emha justru melihat ada kekuatan yang secara sistematis memanfaatkan sentimen masyarakat Ambon untuk memecah belah. ��Terbukti banyak selebaran yang beredar di Ambon yang nadanya menghasut satu kelompok dengan kelompok lainnya,�� tandas Emha. Ketua Kontras Munir juga melihat kerusuhan Ambon tidak bisa dilepaskan dari konspirasi internasional. Tujuannya, mengamankan kapitalisme mereka. Munir lalu mencontohkan saat terjadinya kasus kerusuhan Lhokseumawe (Aceh Utara). Saat itu kapal-kapal Amerika sudah mendekati perairan Aceh Utara. �� Tujuannya jelas, untuk melindungi berbagai perusahaan Amerika di sana, seperti ARUN LNG, jika kerusuhan tidak bisa dihentikan aparat,�� kata Munir. Munir lalu menarik garis sejarah saat perang dingin antara negara Barat dan Uni Soviet. Saat itu Indonesia dijadikan bumper negara Barat untuk membendung laju komunis. Di masa sekarang tidak tertutup kemungkinan Indonesia dijadikan bumper negara Barat untuk membendung pengaruh Cina. �� Inilah yang harus selalu diwaspadai,�� ingat Munir. Yang paling menyulitkan, kata Munir, jika operasi intelijen itu melibatkan agen-agen dari Indonesia, apakah itu bagian oknum pemerintah atau pihak luar. ��Ini jelas sulit dilacak,�� tandas Munir. Yang jelas, kata Munir, kasus kerusuhan Ambon adalah penghancuran nilai dan integritas bangsa yang menggunakan sentimen agama. ��Tapi, bukan perang antaragama,�� tandasnya. Untuk itu, dalam pertemuan dengan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, Senin kemarin, di Dephankam, baik Emha maupun Munir menyampaikan beberapa pandangan kepada Menhankam/Pangab. Seperti, dalam pertikaian Ambon belum ada kejelasan sikap ABRI untuk mendorong melerai pertikaian. Serta ditemukannya aparat kepolisian yang terlibat dalam persengketaan itu justru mempersulit upaya penyelesaian. ABRI sendiri, seperti yang diungkapkan Pangab, menargetkan dalam satu bulan ini kondisi Ambon diperkirakan bisa pulih kembali setelah ada tambahan pasukan serta penarikan aparat yang terlibat sentimen SARA. (bh) ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
