Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.

Dear All,

Just fyi  only,
Waspadailah bayi anda!

-----------------------------------------------------------------------
Majalah FORUM Keadilan, Nomor  25, Tahun VII,  22  Maret 1999 
-----------------------------------------------------------------------

HATI-HATI, LHO, RADANG PARU-PARU...

Pembunuh balita nomor wahid adalah pneumonia.
Banyak orang tua menganggapnya gejala batuk biasa.

Perhatian  masyarakat  belakangan  tercurah  kepada  kematian  sejumlah
korban  kerusuhan  di beberapa daerah. Hal itu barangkali membuat  kita
lupa  dengan  kematian  bayi mungil karena sodokan  penyakit  pneumonia
(baca  nemonia). Kini penyakit itu menjadi pembunuh nomor satu bayi  di
Indonesia.

Coba  kita  bermain dengan data statistik. Pada tahun 1996,  setidaknya
setiap  seribu  bayi yang dilahirkan terdapat enam bayi yang  meninggal
dunia   karena  penyakit pneumonia (radang paru-paru). Apa  arti  angka
tersebut? Berarti di Indonesia ada 17 balita (anak dibawah lima  tahun)
perjam yang wafat karena penyakit yang dicetuskan bakteri itu.

Sayangnya,  meskipun pneumonia adalah penyebab kematian tertinggi  pada
bayi dan balita, tak banyak orang tua yang  memahami penyakit tersebut.
Apalagi  awam tidak melihat perbedaan yang nyata antara pneumonia   dan
batuk  pilek  biasa.  Padahal perbedaannya sangat  nyata.  Batuk  pilek
biasanya   terjadi   karena  peradangan  pada  tenggorokan,   sedangkan
pneumonia   terjadi  karena  kerusakan  pada  jaringan  paru-paru-paru.
Akibatnya  pada  penderita pneumonia, mereka  sesak  nafas,  tersengal-
sengal.

Pada  bayi berusia 2 sampai 12 bulan, gejala pneumonia umumnya ditandai
dengan  gejala  batuk  dan  tarikan napas cepat   50  kali  atau  lebih
permenitnya.  Adapun untuk bayi berusia satu tahun sampai  lima  tahun,
gejala penyakit  ini harus  diwaspadai, jika tarikan napas  si anak  40
kali atau lebih permenitnya.

Kesukaran  bernapas bisa juga diamati pada dada bagian bawah  si  bayi.
Bila  dinding dada bagian bawah tertarik kedalam, itu artinya  si  anak
tengah mengalami sesak napas. Jika terdapat gejala batuk disertai napas
cepat dengan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam waspadalah.  Itu
bisa berarti sang bayi tengah menderita pneumonia berat. Penderita akan
memasuki tahap yang lebih parah dan  berbahaya jika ia sudah tidak  mau
makan atau minum. Nah, kalau gejala ini dibiarkan, akan berakibat fatal
berupa kematian yang cepat pada si anak.

Untuk  pendeteksian dini sebenarnya ada upaya bisa dilakukan para orang
tua.  Misalnya dengan cara mendekatkan telinga  kemulut si  bayi  untuk
mendengarkan "strindor", suara keras yang keluar ketika sibayi  menarik
napas.  Suara  "strindor" akan muncul jika terjadi penyempitan  bagian-
bagian  saluran  pernapasan,  sehingga  udara  yang  masuk  keparu-paru
terganggu.  Hal yang sama bisa dilakukan untuk mendengarkan apakah  ada
"wheezing", yakni gejala kesulitan bernapas.

Selain  tanda-tanda tersebut, gejala perubahan fisik pun  harus  segera
diamati oleh orang tua. Misalnya apakah si anak mengalami kekurang gizi
berat  yang  ditandai dengan kehilangan lemak dan ototnya.  Atau,   ada
bagian  badan membengkak dan kurus, serta rambut yang tipis dan berubah
warna  menjadi  kemerahan. Berbagai gejala fisik ini  harus  diwaspadai
sebagai bagian dari pneumonia.

Upaya  pemberantasan  penyakit  pneumnia  di  Indonesia  sendiri  sudah
dilaksanakan  sejak 1984. Dalam hal ini, Dirjen Pemberantasan  Penyakit
Menular   dan  Penyehatan  Lingkungan Permukiman  Departemen  Kesehatan
sudah  membentuk program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernapasan Akut). Sampai tahun ini, mereka menargetkan kematian  akibat
pneumonia  ini  dapat   turun  sampai  33  persen.  Untuk  itiu  mereka
menyarankan  orang  tua  secepatnya membawa  bayi   mereka  ke  petugas
kesehatan   jika   menemukan  gejala  pneumonia  pada  anaknya.   Sebab
petugaslah  yang  bisa  menentukan  apakah  si  bayi  mereka  menderita
pneumonia atau cuma batuk pilek biasa.

Menurut  Dr.  Mardjanis Said, do,kter spesialis  anak dari Rumah  Sakit
Cipto  Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pneumonia disebabkan oleh  bakteri
"Haemophilus  Influenza  Tipe  B" dan "Streptococcus  Pneumoniae".  Dua
jenis  kuman inilah yang paling sering menyerang kekebalan  tubuh  bayi
ataupun balita.

Sialnya  sampai saat ini, kata Mardjanis, memang belum ada  jenis  obat
yang  manjur  untuk  mematikan kedua jenis  kuman  itu.  Paling  banter
menggunakan  antibiotika.  "Ada obatnya, tapi  sangat  tergantung  pada
dosisnya", ujar Mardjanis kepada FORUM, Selasa , 2 Maret 1999.

Penyakit  pneumonia sendiri memang sangat senang  menyerang  bayi  yang
berumur  kurang  dari  dua  bulan  atau yang beratnya  badannya  rendah
(kurang 2,5 kilogram) ketika lahir. Berdasarkan penelitian, anak  laki-
laki lebih mudah terserang pneumonia ketimbang anak perempuan. Apalagi,
jika  mereka  kekurangan vitamin A dan tidak mendapatkan air  susu  ibu
yang memadai.

Jadi? Waspadailah bayi Anda.

(Compiled  by NS  from FORUM Keadilan, Nomor  25, Tahun VII,  22  Maret
1999 ).

Grace dan Peace!
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin 
Jalan Rambutan B-32
Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come....
For further details contact Ahmadiyya Mission anywhere over the world.
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke