Alangkah Ironisnya......


-----Original Message-----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, March 17, 1999 11:58 AM
Subject: [Kuli Tinta] Parpol atau Parprem?


Baca berita detik.com (16/3) di bawah ini!
Sungguh layak parpol-parpol itu dipalang untuk ikut Pemilu. Belum ikut
Pemilu saja sudah berperilaku seperti preman dan rasis! Apalagi kalau
dizinkan ikut Pemilu. Potensi rusuh (yang berbau rasis) semakin kuat. Atau
mereka ini benar-benar preman yang berbusana parpol? Kalau begitu lebih
pantas disebut parprem (partai preman) daripada parpol (partai politik).
Tindakan mereka seperti ini, harus makin memperkuat tidak diizinkan mereka
ikut Pemilu. Surat yang ditandatangani secara paksa di bawah ancaman tentu
tidak sah secara hukum.

Komentar Anda?

>Partai Terlikuidasi Bikin Onar
>Reporter: Sigit Widodo
>detikcom, Jakarta-Di luar dugaan, Tim 12, kumpulan parpol yang tidak bisa
ikut pemilu, bertindak kasar pada salah seorang anggota KPU dari Partai
Bhinneka Tunggal Ika, Nurdin Purnomo, Selasa (16/3/1999). Tindakan kasar
yang nyaris mengarah pada kekerasan fisik itu terjadi sekitar 19.30 WIB di
luar ruang sidang KPU yang telah sepi.
>
>Nurdin adalah anggota KPU yang terakhir keluar dari ruangan. Sedang
rekan-rekan lainnya, termasuk puluhan wartawan, telah meninggalkan tempat
itu. Tujuan Tim 12 tersebut adalah memaksa Nurdin yang keturunan Tionghoa
itu untuk menandatangani sebuah surat. Surat itu berisikan pernyataan agar
Tim 12 PPD diperbolehkan ikut pemilu.
>
>Nurdin jelas menolak permintaan Tim 12 yang sejak sore berdemo di luar
sidang KPU, lantai 2 Gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Sebab 12
parpol itu memang tidak direkomendasi Tim 11 untuk mengikuti pemilu karena
dinilai tidak layak.
>
>Karena menolak, Tim 12 langsung mencaci maki Nurdin. Cacian itu bernada
rasial. Mereka juga menuduh partai pimpinan Nurdin menyogok Tim 11 supaya
lolos pemilu. Kekerasan fisik nyaris menimpa Nurdin. Seorang anggota Tim 12
dengan garang menarik dasi Nurdin dengan kasar sehingga Nurdin tidak
berkutik. Karena desakan kian kuat, Nurdin akhirnya menandatangani surat
itu.
>
>Akibat ribut-ribut itu, 4 anggota PHH Brimob yang "berkantor" di KPU,
masuk. Tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Tiga wartawan yang menyaksikan
kejadian itu, termasuk detikcom, tidak juga berani bersikap sebab Tim 12
terlihat garang dan tidak kenal kompromi.
>
>Nurdin terus diintimidasi. "Catat saja nomor mobilnya!" teriak seorang
anggota Tim 12, mengancam Nurdin.
>
>Setelah Nurdin menandatangi surat yang diberikan Tim 12, Nurdin
dilepaskan, sekitar pukul 19.45 WIB. Sementara itu, semua pintu keluar
sengaja ditutup oleh Tim 12 supaya Nurdin tidak gampang meloloskan diri.
>
>Tampaknya, Tim 12 menganggap kekerasan yang dilakukan mereka pada Nurdin
yang terpilih sebagai anggota KPU dengan Keppres itu adalah hal biasa.
Dengan tidak merasa bersalah, mereka asyik makan malam di teras Gedung KPU,
seusai mengintimidasi Nurdin.
>
>
>
>Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999




Daniel H.T.

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke