Di bawah ini berita dari detik.com (Rabu, 17/3).

Saya pikir mungkin harus ada yang memberitahu Ghalib bahwa dia itu Jaksa
(Agung -- lagi), bukan Pembela Soeharto. Atau mungkin Ghalib terlalu banyak
minum obat sakit kepala merek Panadol. Yang menurut iklan kalau minum obat
itu, langsung sakit kepalanya terlupakan. Ghalib terlalu banyak minum (over
dosis), sehingga bukan sakit kepalanya saja yang dia lupakan, tapi juga
jati dirinya, jabatannya sebagai Jaksa Agung.

Komentar Anda?

============================================
detik.com, Rabu, 17 Maret 1999  
Soal Penjualan Properti Soeharto di London
Ghalib: Itu Laporan Sepihak
Reporter Meilanie S Huda
detikcom, Jakarta. Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib menyatakan bahwa
laporan yang menyebtukan adanya penjualan properti Soeharto di London,
belum tentu kebenarannya. 

"Itu laporan sepihak, belum tentu kebenaranya," kata Ghalib di sela Rakor
Polkam di Bina Graha, Rabu (17/3/1999). Pihaknya, kata Ghalib, akan serius
mengusut segala hal yang berkaitan dengan harta kekayaan mantan Presiden
Soeharto, tapi untuk mengusutnya tidak semudah yang dibayangkan. 

"Sebab, untuk mengusut itu kita masih tergantung Deplu, karena ini kan di
London. Dan menurut Deplu katanya itu belum pasti beritanya, saya harus
percaya Deplu dong," kata Ghalib. 

Dikatakan, untuk menyelesaikan kasus harta Soeharto memang perlu hati-hati.
Apalagi, soal ini, kalaupun benar, kejaksaan menurut Ghalib tak bisa
melakukan sendirian dan masih harus bekerja sama dengan Deplu. "Jadi tidak
gampang," katanya berkilah. Ghalib juga kembali berkilah, bahwa properti
itu bukan milik Soeharto langsung. 

Ghalib terkesan menutup-nutupi segala yang berkaitan dengan Soeharto. Ini
agak mengherankan. Padahal, dia semestinya harus segera bertindak karena
posisinya sebagai jaksa Agung yang oleh amanatan MPR sesuai dengan Tap MPR
No XI harus melakukan pengusutan terhadap mantan Presiden Soeharto,
terutama yang berkaitan dengan KKN. 

Berita soal penjualan properti di London itu dimunculkan Kompas yang
mengutip dari harian The Independent, edisi Selasa (17/3/199) bahwa
keluarga Cendana telah menjual properti di London senilai 11 juta
poundsterling (Rp 165 milyar, dengan kurs Rp 15.000). Properti mewah itu
merupakan bukti dari gaya hidup serba "wah" yang selama ini mereka nikmati. 

Keputusan menjual properti itu, tulis The Independent, kemungkinan karena
saat ini sedang berlangsung penyelidikan mengenai bagaimana keluarga
Soeharto mengumpulkan kekayaannya. Akibat penyelidikan itu, Inggris menolak
memberikan visa kepada banyak anggota keluarga Cendana. 

Salah satu properti di London utara berupa rumah berkamar delapan dan
berlantai marmer dengan aula untuk jamuan makan, yang beralamat di
Winnington Road, Hampstead Garden. Properti ini dijual dengan memasang
tarif 8 juta poundsterling (sekitar 120 milyar). Harga itu sudah diturunkan
dari 9,5 juta poundsterling. Rumah lainnya yang dijual dengan harga 1,95
juta poundsterling yang biasa digunakan untuk para pembantu keluarganya
(servants). 

Keluarga Cendana diperkirakan juga memiliki tiga properti lainnya di London
dan Home Counties, meskipun masih belum jelas apakah mereka berniat
menjualnya. Penjualan properti itu mengakhiri hubungan yang dekat antara
keluarga Soeharto dan London. Selama dua dekade mereka menggunakan properti
sebagai tempat istirahat dan tempat bermain. 



Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999 
  




 



Daniel H.T.

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke