Saya baru dapat berita ini...
Menurut saya, berita ini menggambarkan arogansi warga Madura sebagai
pendatang, dan warga Melayu serta yang lain yang tidak dapat menahan diri
lagi akibat adanya provokasi.
Yang jadi pertanyaan saya, mengapa kita baru tahu belakangan ini? Sedangkan
di urutkan kejadian sudah sejak bulan Puasa. Yang berarti bersamaan dengan
peristiwa di Ambon.
Ditutup-tutupi?

Mohon ditelaah..
Terima kasih

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

Berita PK:
http://www.keadilan.or.id

---------- Forwarded message ----------
Subject: Kronologi Kerusuhan di Kabupaten Sambas
Ass. wr. wb.

Untuk memberikan informasi yang "sebenarnya" terjadi sehubungan dengan
Kerusuhan di Kabupaten Sambas Kalbar, maka saya teruskan informasi dari
milis yang bersumber pada Laporan Pos Keadilan Kab. Sambas Kalbar, di  bawah
ini. Selamat disimak dan mohon juga dicek ulang dengan sumber-sumber
lainnya.
Terima kasih atas perhatiannya.
Wass. wr. wb.
"Ummu Ja'far -" <[EMAIL PROTECTED]> on 03/26/99 01:34:56 PM

*************************************
KRONOLOGIS KERUSUHAN di KABUPATEN SAMBAS
Tim Pencari Fakta DPD Partai.Keadilan Kab.Sambas

Ada beberapa peristiwa yang dapat dijadikan pemicu kerusuhan diantaranya :
Peristiwa tertanggapnya seorang warga Madura dari Desa Rambayan  Kec. Tebas
yang ketahuan akan mencuri Motor di Desa Parit Setia Kec. Jawai, sedangkan
dua temannya lagi berhasil meloloskan diri, tersangka tersebut sebelum
diserahkan kepada pihak aparat sempat dianiaya atau dipukuli oleh warga
setempat.  Pihak keamanan kemudian tersangka ke pihak keluarganya (di Desa
Rambaian) tetapi pihak tersangka tidak menerima atas perlakuan warga
tersebut dan indikasi akan melakukan pembalasan. Peristiwa ini terjadi
kira-kira akhir Ramadhan 1419 H.

Tanggal 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia

Penyerbuan orang Madura ke Perkampungan Melayu dengan 3 truk berisi 300
orang yang menelan korban 3 orang, dua orang melayu, 1 Dayak Mu'alaf. 1
orang mati di tempat, 2 meninggal di rumah sakit.  Setelah peristiwa
tersebut diadakan upaya damai dengan mediator camat tebas, namun pihak
melayu merasa tidak puas sebab penyerbuan tersebut dianggap di tolerir tanpa
hukuman yang berarti.  Oknum yang terlibat langsung dalam penyerangan
tersebut yang dianggap sebagai tertuduh (pembunuh) setelah disidik menurut
saksi korban ternyata bukan pelaku sesungguhnya dan hingga saat ini
pelakunya masih misteri.  Pihak melayu meminta para pelaku seluruhnya
ditindak tetapi pelaku yang ditangkap hanya 1 orang yakni anak kepala Desa
yang mempunyai truk sedangkan dari pihak melayu ditangkap (diamankan
sebanyak 8 orang kesemuanya mengaku sebagai penganiaya pencuri kendaraan.

Tanggal 26 Januari 1999, Singkawang

Forum Komunikasi Pemuda Melayu (FKPM) dibentuk dengan pemrakarsa :
Uray Aminuddin, SH (Staff Pemda Bagian Hukum) dan Rosita Nengsih, SH
menuntut kasus Parit Setia dituntaskan melalui jalur hukum sebagai ketua
adalah M. Jamras (kontraktor dan termasuk jawara warga melayu).

Tebas, 21 Februari 1999

Seorang warga Madura berinisial Rd turun dari Bis jurusan Pontianak
Kertayasa di Semparuk dengan tidak membayar ongkos sehingga Kernet bernama
Bujang L. Idris (Warga Melayu) marah. Sore harinya warga Madura menghadang
si kernet yang berasal dari Semparuk diterminal Semparuk kemudian si madura
menikam kernet melukai jari tangn dan kaki kanannya. Melihat kejadian itu
warga Melayu yang berada di terminal tersebut menghampiri dan mengeroyok si
Pelaku penikaman hingga tewas.
Kemudian si kernet yang segera dilarikan ke rumah sakit siisukan meninggal
maka sore itu juga terjadi pembakaran rumah-rumah yang dilakukaan oleh Warga
Melayu, kemudian meerebak ke beberapa daerah sekitar Tebas antara lain:
Tebas Sungai, Sunai Kelambu dan daerah sekitarnya yang merupakan pemukiman
Madura. Dari peristiewa tersebut warga Dayak di Sungai Kelambu mulai ikut
terlibat pembakaran bahkan bertindak sebagai motor penggerak.
Perlu diketahui bahwa salah satu Kepala Suku Dayak Sungai Kelambu menjadi
korban orang Madura pada peristiwa Sanggau Ledo tahun 1997.

Pemangkat, 1 Maret 1999

Terjadi penganiayaan terhadap 6 orang pekerja buruh jalan dari warga madura,
4 orang meninggal 1 orang meninggal diantaranya meninggal di tempat dan 2
orang lolos

Desa Lonam Kec. Pemangkat

Seorang ibu peladang (melayu) ditakut-takuti dan dikejar oleh sekelompok
Madura (pencari rumput) kemudian warga Melayu di sekitar Lonam yang tadinya
tidak ingin terlibat akhirnya membakar rumah-rumah orang madura di desanya
(dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa karena penduduknya telah
diungsikan).  Pembakaran menjalar ke jalur lintas pemangkat (Gresik, Pusaka,
Harapan, Pemangkat Kota, Lonam dan Sinam).
Adanya penyulutan di mana pihak Madura menantang pihak melayu dengan ucapan
bahwa orang melayu tidak akan melawan orang Madura kalau tidak didukung
orang dayak, salah satu cara pembakaran dengan cara disediakan obat nyamuk
yang sudah menyala, sebatang korek api dan sebotol bensin yang diletakkan
berdekatan dengan sasaran, yang beberapa saat kemudian terjadi kebakaran
yang tidak diketahui siapa pelakunya
**** ( PROVOKATOR????? :-( .....) *******

Pemangkat (Desa Prapakan)

Pihak madura melakukan pencegatan di jalur lintas Pemangkat khususnya Desa
Prapakan.  Salah seorang korban bernama Manurung (warga Batak) seorang
pensiunan Guru dimana isterinya warga Dayak mobilnya dibakar dan diisukan
ada korban jiwa dalam pembakaran tersebut orang Melayu (Pemuda-pemuda yang
sebagian besar pengangguran) melakukan pembakaran yang membabi-buta yang
didukung warga Dayak.

Pemangkat, 17 Maret 1999

Terjadi pembakaran serentak di beberapa Desa antara lain : Gresik, Prapakan,
Sungai Palai, Parapakan Serdang, Parit Sinam dan Parit Baru)

Selakau, 17 Maret 1999

Terjadi tabrak lari di pasar Selakau oleh orang Madura, tersangka lari dan
tertangkap oleh masa dan dianiaya sampai meninggal.  Masa spontan berkumpul
mencapai kurang lebih 1.000 orang sedangkan aparat sedikit dan masa bergerak
ke beberapa arah melakukan aksi pembakaran rumah yang sudah ditinggalkan
oleh penghuninya (Madura) sore harinya terjadi pembunuhan orang Madura yang
baru datang dari Laut setelah 4 hari mencari ikan di laut saat orang
tersebut hendak menjual ikannya.
Selanjutnya pembakaran massal terjadi pula di Desa Mentibar sampai di daerah
pegunungan Selindung.

Samalantan, 17 Maret 1999

Menyusul terjadinya kabar pembunuhan 1 orang Dayak di Pemangkat oleh orang
Madura orang-orang Dayak membakar pemukiman warga Madura yang telah
ditinggalkan penghuninya, pasukan Dayak diisukan menyerang kota Singkawang,
hal ini dipicu oleh isu meninggalnya seorang warga Dayak di Desa Prapakan
Pemangkat. Terjadinya pencegatan oleh orang Madura dimana 1 orang Dayak
terbunuh dan otomatis jalur Samalantan ditutup.

Sanggau Ledo, 17 Maret 1999

Adanya pembakaran pemukiman Madura karena adanya berita terbunuhnya orang
Dayak di Pemangkat (pada umumnya warga Madura telah diungsikan ke Pasir
Panjang sebelum pembakaran).  Tersebar isu Dayak Pedalaman akan turun ke
kota Singkawang namun aparat  sudah siap siaga dan dapat diblokade di kompi
Batalyon 641 Beruang Hitam, Dayak kembali dan mengambil jalan lain ke daerah
bukit Batu.

Kamis dinihari tanggal 18 Maret 1999 terdengar letupan senapan, kabarnya
dayak datang kembali namun berhasil diblokade oleh pasukan keamanan.
Jum'at siang 19 Maret 1999, Dayak Pedalaman sudah memasuki batas blokade
keamanan, tawar-menawar tidak dapat diatasi kemudian aparat memerintahkan
kepada penduduk Madura (khususnya wanita dan anak-anak untuk mengungsi).
Aparat menyiapkan truk dan diangkut ke Pasir Panjang ada sebagian warga yang
mendapati orang Dayak Pedalaman yang pergi ke Desa untuk membeli rokok
dengan membawa uang yang cukup banyak.

Singkawang

Pemukiman Madura yang semula tidak ada tanda-tanda akan dijadikan lahan
pembakaran sudah mulai dikosongkan (Condong, Roban dan Pasiran) tetapi masih
ada juga yang tetap terutama di daerah yang dekat kantor atau markas
keamanan.  Berkembang isu juga bahwa beringasnya aksi dayak ini disulut oleh
terjadinya pemboman kapal pasukan Dayak oleh pasukan Artileri ABRI di sungai
Selakau beberapa waktu yang lalu.

Sedau

Pada awal kejadian di daerah-daerah lain terjadi, warga Melayu Sedau tidak
terlalu terpancing dan sebagian tokoh masyarakat mengharapkan agar tidak
terjadi seperti di daerah lain, tetapi karena ada hasutan dari warga Melayu
daerah lain diantaranya dengan mengirim (afwan) celana dalam maka wargapun
terhasut dengan berencana membakar pemukiman Madura. Maka warga Madura
diungsikan ke Singkawang dan Pontianak dan upaya penyerbuan atau pembakaran
dapat diatasi oleh aparat kepolisian dan tentara.

Hal-hal yang bisa diperhatikan terutama di daerah Singkawang kota :

a. Aparat menginstruksikan melalui para bintara agar masyarakat mengambil
peran aktif didalam menjaga keamanan lingkungan, ada slogan selamatkan diri
masing-masing (SDM).  Pada hari jum'at siang (19 Maret 1999) kondisi
Singkawang cukup tegang dengan isu Dayak masuk kota ditambah dengan aksi
hilir mudiknya anggota keamanan dengan senjata lengkap (rata-rata 1 aparat
dengan 2 senjata ; pistol dan senapan laras panjang).

b. Di tingkat elit sipil kab. Sambas beredar kecurigaan keterlibatan
inteligent militer yang sengaja mengambil kepentingan terhadap peristiwa ini
sebagai contoh ketika hal ini diungkapkan oleh salah seorang Eselon III
(Kepala BPS) di depan Bupati dan Muspida, tanggapan dari Polres kurang
memuaskan dengan mengemukakan alasan berkaitan dengan HAM.
Bahkan dalam mengungkapkan ketidak puasan salah seorang pejabat tadi
mengatakan : "ABRI terkesan kurang berwibawa dibandingkan daripada Dayak"
dan hal ini diiyakan oleh kepada MAWIL Hansip setempat (purnawirawan ABRI)

c. Warga Melayu umumnya ikut tersulut oleh peristiwa di daerah lain dan
sedikit warga yang memahami kondisi secara objektif.  Warga mudah tersulut
oleh isu yang berlebihan sebagai contoh ketika Jum'at Siang 19 Maret
tersebar isu orang-orang Dayak Pedalaman Memasuki Singkawang maka secara
spontan warga Melayu mempersiapkan senjata tajam berupa pedang, parang,
golok, tombak disertai dengan memakai pita kuning maka semua toko di jantung
kota tutup dan sebagaian besar kantor-kantor tutup sebelum waktunya (Perlu
diingat bahwa pita kuning adalah lambang melayu dan pita warna merah adalah
Dayak).

Tersebar pula isu bahwa penyerbuan ke pemukiman Madura singkawang kota akan
dilakukan tanggal 18 Maret 1999 dan apabila gagal maka tanggal 21 Maret
1999, yang anehnya justru warga Melayu yang bersiap-siap dengan persenjataan
yang berlebihan dengan dalih Madura akan menyerang Melayu apabila Melayu
tidak siap atau bersenjata (Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada
kerusuhan di Kota Singkawang)

Kasus yang berhadapan langsung dengan tokoh PK di Kab. Sambas

1. Seorang supir Oplet, abang ipar Sapoead (Pengurus DPD PK Sambas dipaksa
untuk menyeret dengan opletnya mayat orang Madura yang sudah dipenggal
lehernya (dadanya sudah bolong tanpa hati dan jantung) kurang lebih berjarak
3 Km menyusuri jalan propinsi sepanjang Desa Pusaka. Supir tersebut diancam
kalau tidak mau menyeret mayat mobilnya akan dibakar

2. Tarmizan, adik ipar Sapoead (Pengurus DPD PK Kab. Sambas) melihat
langsung kejadian ada mayat warga Madura tanpa kepala, hati dan jantungnya
telah diambil kemudian dibakar dan dimakan oleh orang-orang Dayak (Daerah
Setapuk)

3. Salah seorang pengurus DPD PK Sambas (Idris) yang bertugas sebagai supir
perusahaan kue dicegat oleh sekelompok warga Melayu di Pemangkat dan
menanyai pimpinan rombongan bernama Suroso (Simpatisan PK) setelah
menjelaskan bahwa dia berasal dari Jawa maka mereka disuruh melanjutkan
perjalanan.  Alhamdulillah Allah SWT melindungi hamba-Nya yang ditanya
adalah pimpinan rombongan bukan supir (Idris) yang berasal dari Madura

Singkawang, Senin 22 Maret 1999

           Mengetahui

Ketua DPD Partai Keadilan                           Tim Pencari Fakta
        Kab. Sambas

                Ttd
ttd

Ustadz H. Ahmad Hambali, Lc        (Drs.R.Arso BR, Sapoead, Asep S,A.Ak)



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke