rekans kuli-tinta yth.
mohon maaf dengan posting serat kalatidha-1 dari saya tempo hari.
saat itu, kemungkinan ada salah, sehingga email terkirim kosong tanpa badan.
saya sudah menggantinya, dan beberapa netters telah mengirim respon yang
menyatakan bahwa telah membaca serat kalatidha-1
untuk itu berikut saya paste-kan lengkap keseluruhannya (termasuk
sambungannya)
mudah-mudahan berkenan...

salam sejahtera,

winarso
okayama-jepang

cat:
serat kalatidha ini adalah tulisan saya bulan oktober 1998 sebagai respon
dari kerusuhan dukun santhet dan maraknya berdirinya partai-partai baru,
namun tidak laku (*smile*), orang kurang bermutu kok ya..


----- Original Message -----
From: Sian Djie Wong <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 01, 1999 4:05 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: SERAT KALATIDHA-1


>
>
>???????????????
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!

***********
SERAT KALATIDHA

PERKENALKAN, nama saya sebenarnya adalah Jiwo Winenang, yang
karena teman-teman sering memanggil saya dengan "win" dan akhirnya cenderung
menjadi "uin" maka sekalian saya tulis dengan ejaan Soewandi menjadi "OEIN".
Kebetulan bernasib baik, bersama dengan seorang paman jauh saya, Soeloyo,
kami
diajak oleh momongan kami sejak kecil, Den Ragil Pamungkas, dalam rangka
tugas beliau menjalani wajib belajar dari perguruan tinggi tempat beliau
menjadi
dosen di salah satu universitas di negeri Jepang.  Memang hubungan kami
berdua
dengan momongan tetapi juga juragan kami sangatlah erat, sehingga sering
tidak
dapat dipisahkan antara ketiganya.  Paman saya, mBah Soeloyo, terkenal
sebagai
orang tua urakan yang selalu mengambil cara berfikir oposisi terhadap
juragannya
sendiri.  Sementara itu saya sendiri selalu dituduh sebagai orang paling
"ngeyel"
oleh mBah Soeloyo.  Saking eratnya, pernah Den Ragil menyatakan bahwa beliau
tidak dapat eksis dan berfikir lengkap tanpa kehadiran kami berdua, yang
diang-
gapnya lebih dari sekedar pembantu, melainkan menjadi panakawan sekaligus
sumber referensi.  Saya dan mBah Soeloyo, karena tidak begitu faham dengan
ungkapan Den Ragil yang menyebut pembantu, punakawan dan referensi itu,
hanya
 mampu mengiyakan saja.  Apa sajalah kehendak juragan.
Ada kebiasaan baru Den Ragil pada pagi hari sambil ngopi, yaitu membuka
koran-koran online dari tanah air, terutama setelah turunnya Pak Harto dari
kursi
presidenan yang dengan cara jitu dan canggih selama 32 tahun didudukinya.
Saya
tidak berani mengganggu kebiasaan itu, dalam arti menemaninya, kecuali
dipanggil
untuk bersama melihat berita di monitor komputernya.  Namun mBah Soeloyo,
sesuai dengan sifat dan sikapnya yang urakan tadi dengan enak saja dia
menemani
Den Ragil, diminta ataupun tidak, bahkan sambil "grundelan" sendiri
mengomentari
isi berita.  Apalagi ketika banyak pejabat maupun mantannya serta
tokoh-tokoh
elite perpolitikan Indonesia seperti berlomba melontarkan pernyataan kepada
umum.
Entah mengapa pagi itu setelah ikut "njenuk" menatap monitor membaca koran
JP-online, bersama Den Ragil, sambil membujuk cucu asuhnya yang kecil, Gus
Gede untuk segera mandi, tiba-tiba mBah Soeloyo menggemakan pembukaan
SERAT KALATI-DHA gubahan pujangga Jawa abad XIX, Ki Rangga Warsita,
dengan irama dan nada bergaya sulukan "ada-ada" SEKAR SINOM WAOSAN dari
dalang kondang favorite-nya, mendiang Ki Nartosabdho.  Pantas saja Gus Gede
bukannya senang, malah mbesengut sambil berujar "mBah.. apaan sih nyanyian
itu,
takut dong aku...!".  mBah Soeloyo bukannya reda, malah menjadi marah, "Lha
kowe kuwi ngomong opo, cepet mandi sana...!"  Maka pecahlah "eker-ekeran"
pagi hari yang kesekian kalinya, antara mBah Soeloyo dan Gus Gede, antara
manula
dan belia.
Terpaksalah Den Ragil, juragan saya, turun tangan.  "Kenapa to mBah Soel,
kok umyeg pagi-pagi, pakai nembang lagi".  "Den Ragil sih enak-enak saja
hidup
di Jepun, jauh dari kenyataan ngIndonesia, lha saya... teman-teman saya yang
dianggap kiyai, yang dituduh dukun santet, yang jadi guru ngaji, yang
reformis
sampai aktifis.. pada kelimpungan gitu.  Di manapun terancam jiwanya yang
hanya
selembar.  Kalau kucing, no problem,  they have 9 souls, lha teman-teman
saya,
konco ngobrol di kampung itu?" balas mBah Soeloyo sewot.  "Iya ya, bener
juga
mBah Soel itu lho Den, ikut prihatin", tidak tahan saya ikut nimbrung.

     Den Ragil jadi tercenung, mukanya menjadi merah padam.  Jelas marah.
"Terus piye, gimana apa yang dapat kuperbuat dari sini, Lek, mBah?! Sedang
urusan
bikin laporan untuk penelitian atau jikken saja demikian repotnya gini".
Kami
berdua jadi bengong dan terdiam seketika. Bila Den Ragil sudah menggunakan
senjata pamungkas Kiyai Jikken itu, mati kutulah kami.  Lha gimana, kami
dapat
ikut ke Jepang sini juga karena keperluan Den Ragil untuk bersekolah ala
Jikken
gitu kok ya?  Padahal kami ini kan hanya pembantu, panakawan, lain tidak.
     Untung saja mBah Soeloyo segera mencairkan ketegangan dalam per-jikken-
an itu dengan, "Sebentar Den, sebelum Den Ragil tambah muntap dan marah,
mbok
kami ini diterangkan apa sih artinya seikat tembang yang cuma saya hafal
tadi itu?
Siapa tahu dari makna tembang itu ada pengertian yang pantas dijerap ke
sanubari
kami-kami ini untuk bekal nanti kalau kembali ikut Den Ragil pulang ke
Indonesia"
"Iya.. iya Den.. saya juga nggak mudeng blas..." sela saya ikut
berpertisipasi
menarik simpati...
"Waa lha ini gimana, kan generasi ku ini generasi ORBA yang bahasa daerahnya
dihapus dari kurikulum sekolah, apalagi masalah tembang-menembang..
sebaliknya
Sampeyan berdua itu lho, wong lahir jaman sebelum repoeblik kok nggak
mudheng
dengan Kalathida itu gimana?" sergah Den Ragil yang tetap mangkel, merasa
dipersalahkan oleh mBah Soeloyo tentang perhatiannya kepada kondisi
Indonesia
akhir-akhir ini yang terlihat sangat kurang.  Apalagi setelah ketahuan Den
Ragil
setiap hari malah sibuk mengintip kurs valuta asing di berbagai media
online.
Katanya ingin main valas kecil-kecilan, asal dapat fulus.
     Dasar sesuai dengan namanya yang serba suloyo, untuk memperhalus
istilah
waton suloyo, maka mBah Soeloyo tetap saja punya akal agar Den Ragil
berkenan
"ngudar sabda" tentang terjemahan pembukaan Kalatidha tadi.  "Lho lain to
Den,
saya dan juga Gus "Ngeyel" Oein ini, kan semasa kecil termasuk keturunan
awam,
jadi nggak pernah makan POJOK SEKOLAHAN, giliran Den Ragil, Eyang-nya saja
Guru Sekolah Dua Angka (Ongko Loro), Bapaknya, Mantri Guru Sekolah Daripada
Rakyat, opo ora hebat... Apa lagi menurut cerita tetangga-tetangganya Keng
Eyang
dulu, ada garis darah lho, antara Eyang Den Ragil dengan Ki Rangga Warsita
itu,
makanya mBah nggak heran kalau Den Ragil sempat diluluskan jadi ngensinyur
taneman itu, apalagi sekolahnya saja di nggajahmodo IPB mBogor lho opo nggak
hebat ya Lek ya...?  Ayo lah Den kami siap "manglungaken jangga, nilingaken
karna" untuk menerima penjelasan Den Ragil".  Saya hanya mampu mengangguk
angguk, tidak mampu melayani rayuan gaya Soeloyo-an begitu.  Dan memang
jitu,
karena segera saja wajah Den Ragil menjadi cair, tidak kucel lagi. Bahkan
senyumnya yang terkenal mahal sekali itu sempat tersungging  mak
clereeeet...!

"Ya sudah.. tak coba menterjemahkannya, tapi mBah Soeloyo harus
mengulanginya
sebait demi sebait dulu, soalnya bahasanya sudah nggak pernah dipakai
sekarang,
apalagi di negaranya OSHIN sini.  Ayo mulai."   Maka mBah Soeloyo segera
melantunkan tembang gaya Nartosabdho-nya sebait demi sebait, diikuti oleh
terjemahan dari Den Ragil, sementara saya sibuk mencatatnya pakai potlot di
kertas
bekas print draft laporan yang dioret-oret oleh propesornya Den Ragil.
Sementara
itu Den Ragil Putri gantian yang jadi uring-uringan, karena harus
menggantikan
tugas mBah Soeloyo menyiapkan tas sekolah Gus Besar dan Gus Gede dan tugas
saya yang menyiapkan bento-bentonya (bekal makan dan minuman).  Apa boleh
buat kami bertiga berusaha tutup telinga dari omelan Den Ragil Putri, demi
terselenggaranya acara Pamedar Sabda Pambuka Kalathida itu.
mBah Soeloyo (BS): "Mangkya darajating praja". Den Ragil (DR): "Kedudukan
negara saat ini".  BS: "Kawuryan wus unya luri".  DR: "Kemasyuran telah hi-
lang, sulit dicari, maksudnya dikembalikan lagi."  BS: "Rurah pangrehing
ukara."
DR: "Kacau balau segala urusan, artinya urusan pemerintahan hingga
perekonomian
dan keamanan."  BS: "Karana tanpa palupi."  DR: "Karena tanpa suri tauladan,
yang baik dan benar."  BS: "Atilar silastuti, Sujana sarjana kelu, Kalulun
kala
tidha." DR: "Lho, kok sekaligus 3 bait.  Wee ngetes ki, artinya, dengan
mening-
galkan etika dan norma, tokoh masyarakat, kaum elite, bangsawan modern,
executive dan ilmuwan malah ikut larut ke dalam gejolak masa yang
mengkhawatirkan, heee.. ilmuwan? ah... Ki Rangga Warsita memang
waskitha... waskitha, cerdik dan kaya wawasan... hmmm.." terlihat wajah Den
Ragil merona kemerahan, sementara itu mBah Soeloyo malah klecam-klecem
menahan tawa.. lucu pokoknya, sehingga dua bait sisanya dikebut sekaligus
dengan
irama yang aneh, setengah tertawa.  BS: "Tidhem tandhaning dumadi;
Hardayeng-
rat, dening karoban rubeda."  DR: "Semua kegiatan menjadi mandeg, sementara
dunia gonjang-ganjing, karena semakin dilanda kekacauan, lho kok, malah
ketawa
to mBah... ngenyek ya?"
BS: "Ampun juragan...ampun...penjelasan juragan persis dengan yang hamba
terima dari bapak Den Ragiiiiilll.. hahahahaaaa.... kena juga, dan sama,
waktu
sampai "ilmuwan (sarjana)", dulu Bapak Den Ragil juga berkomentar begitu.
Hmmm Kacang mongso ninggala lanjaran... ya Leeek, yo Leeeek...?" kata mBah
Soeloyo yang sebagian dilagukan seperti tembang Kalatidha itu sendiri.
DR: "Oooooo uasem kecut ki.... tiwas serius nggak tahunya dikerjain to aku
ini tadi.... awas kau ya.."
***
Tiba-tiba mBah Soeloyo menghentikan tawanya dan segera berubah menjadi
sesenggukan menangis.  Memang dia pemain watak yang paling baik.  Dari
tertawa, gembira merasa mampu "ngerjain" sang juragan mampu berbalik 180
derajat menjadi tangis dan sedu-sedan.  Den Ragil menjadi tak enak hati,
"Lho
kenapa mBah, apa saya salah?" katanya sepertinya khawatir ancamannya tadi
membuat ketakutan mBah Soeloyo.  Saya pun demikian.  Pasalnya mBah Soeloyo
segera sesenggukan begitu selesai Den Ragil mengucapkan ancamannya.
"Buu bbuukan Den, sedihnya mBah ini teringat akan terjemahan Serat Kalatidha
tadi, terutama pada bagian para sarjana-sujana yang ikut larut ke dalamnya
itu lho
Den... Bagaimana itu Lek.. bi..bbiiiasa..aanya kamu kan juga gampang ikut
nangis
kalau aku menangis...?" kata mBah Soeloyo terbata-bata.  Sementara saya yang
belum nyandhak akan pikiran mBah Soel, hanya terdiam mematung.  Den Ragil
justru merasa tertuduh, "Lho mBah Soel tetap mempermasalahkan perhatian saya
kepada Indonesia tadi, ya?"
Tiba-tiba mBah Soeloyo terdiam dari sedu-sedan, malah tegak menatap kami
bergantian dengan sorot mata tajam dan aneh, berwibawa.  "Te...terus maksud
mBah Soel?"  Tanpa sengaja Den Ragil dan saya berbarengan bertanya dengan
nada suara pelan dan keder.
"Mengapa mereka para sarjana-sujana di Indonesia, nyata terlihat
mementingkan
diri, kelompok sendiri.  Ada yang menyatakan justru itu demi mendidik
politik
bangsa, demokratisasi, kebebasan berpendapat.  Tapi apa gunanya, rakyat
tambah
menderita, lapar dan kebingungan.  Partai-partai menjamur, demonstrasi
marak,
tapi apa guna?  Semua beralasan demi rakyat, demi tegaknya demokrasi dan
sebagainya, tetapi mengapa para pemimpin, pakar dan sarjana-sujana itu tega
saling
jegal, saling tohok demi partai dan kelompok sendiri?  Tak pantaskah mereka
duduk satu majelis membicarakan kepentingan rakyat bersama, dalam suasana
sejuk
penuh kebijakan?" katanya dengan nada berat tanpa mampu kami jawab.

Winarso Drajad Widodo
okayama-jepang



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!

Kirim email ke