First of all, saya bukan anggota, apalagi pengurus PDI Perjuangan. In fact,
saya sendiri belum tentu memilih PDI Perjuangan di Pemilu nanti. Untuk
Pemilu nanti itu, saya melihat tidak ada satu partai pun yang layak untuk
dijadikan "the ruling party". Saya lebih suka bila terjadi koalisi. Fakta
yang benar, saya mahasiswa FEUI.

Golkar memang mencuri start. Dia sudah 34 tahun berdiri, sedangkan
partai-partai baru (termasuk PAN dan PDI Perjuangan) baru berdiri beberapa
bulan. Jika partai-partai baru menyelenggarakan temu kader dan pelantikan
pengurus, menurut saya suatu hal yang wajar, sebab dia partai yang baru
berdiri, yang harus membuat cabang-cabang dan merekrut anggota. Sedangkan
Golkar? Partai lama, the ruling party, menguasai DPR, menguasai kabinet,
menguasai uang, menguasai dll... Kengototannya untuk berkampanye duluan
itu --apalagi kengototan menteri2nya untuk berkampanye-- adalah arogansi
politik dan sikap angkuh. Tanpa bermaksud membenarkan tindakan kekerasan di
Purbalingga, saya menganggap bahwa peristiwa itu harus menjadi pelajaran
buat Golkar untuk sadar, masanya sudah lewat, jangan ngotot dan sok kuasa.

BTW.., anda orang/pengurus GOLKAR? Sorry bertanya, karena saya kan yang
duluan anda tanya/kira.

------------------------Martin Manurung-----------------------------
[EMAIL PROTECTED]  [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
____________________________________________
"Love your enemies, do good to those who hate you"

-----Original Message-----
From: Sian Djie Wong <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 05 April 1999 10:51
Subject: [Kuli Tinta] Yang lain sama saja [was: Purbalingga]


Sdr Manurung jangan mengatakan Golkar nyuri start dong.
Semua juga melakukan kok. PAN di beberapa daerah juga meresmikan
cabang/ranting. Itu juga ngumpulin orang banyak. PDIP juga gitu.
Deklarasi di sana deklarasi di sini. Partai-partai lain pun begitu.

Saya juga tak setuju dengan kalimat Amien Rais yang juga bernada
menekan Golkar. Saya kira semua partai harus diberi kesempatan dan
perlakuan sama. Kita memang tahu pada masa lalu Golkar banyak dosa.
Tapi yang namanya hukum, ya tetap harus ditegakkan. Brutalitas
anggota PDIP di Jateng itu tak bisa dibiarkan. Saya jadi bertanya-
tanya, jangan-jangan yang memperkosa enci-enci kami kemarin sebangsa
anggota PDIP ini. Liat tuh, di depan orang banyak saja berani menarik
narik baju dan melucuti kayak gitu. Apalagi dalam rumah hanya ada
beberapa orang.

Kalau saudara Manurung anggota atau pengurus PDIP, langkah bijaksana
yang harus diambil adalah:

1. Mengutuk peristiwa itu.
2. Berjanji untuk mengusut apa benar pelakunya adalah orang PDIP
3. Berjanji kan menghukum warganya (saksi admistrasi)
4. Berjanji peristiwa serupa tidak terulang.
5. Minta maaf.

Itu jiwa ksatria. Bukan malah mencari-cari dalih membenarkan perbuatan
yang dilakukan di Jateng dengang mengungkit-ungkit masa lalu Golkar.
Kita yang tahu bangku sekolahan kan tahu, gimana seorang ksatria
bersikap dalam kondisi spt ini.

Regard,
_Wong
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke