From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Apa benar sih setelah Pemilu nanti kita mendapat pemimpin bangsa yang
peduli pada kesejahteraan rakyat? Apakah setelah Pemilu nanti rakyat
menjadi lebih aman dan sejahtera, seperti jaman Normal dulu (istilah
kakek saya)?
Apa betul setelah Pemilu nggak ada penjarahan, baik oleh orang miskin
maupun oleh orang kaya dan penguasa?
Tanggapan:
========
Tolong definisi jaman Normal diberi batasan.
----------------------------------------------------------------------
---------
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Kalau ya, bagaimana caranya? Mbok adalah simulasi peningkatan
kesejahteraan oleh Partai-partai itu, supaya rakyat bisa menilai lebih
konkrit. Seeing is believing and ... promise tends to neglect.
Tanggapan:
========
Bung, dalam perjalanan panjang mana yang harus diprioritaskan, hasil
atau proses?
----------------------------------------------------------------------
----------
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Tapi untuk tetap berpandangan positip, saya nggak menganggap pemimpin
partai itu cuma bisa janji, cuma selama ini belum saya lihat bukti
perbuatan baiknya untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat, dalam
skala kecil sekalipun.
Tanggapan:
=========
Diluar Golkar, PDI, dan PPP, partai-partai baru itu baru beberapa
bulan berdiri. Mungkinkah kita mematra mereka dengan ukuran
partai-partai yang sudah mapan seperti di negara lain?
----------------------------------------------------------------------
-
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Masih sederet tanya lagi dibenak saya tentang apa yang terjadi setelah
Pemilu 99 berlangsung sukses dan jurdil, bolehkah kita lewat jalan
toll dengan gratis? Gratis pulakah kita berlangganan listrik, air
minum, telepon, sekolah (tanpa batas), beli bensin, rumah sakit,
transportasi umum dan kebutuhan sehari-hari yang diselenggarakan oleh
BUMN/BUMD? Saya pikir mestinya bisa kalau dibiayai dari keuntungan
eksploitasi hasil bumi yang berlimpah ini.
Dapatkah rupiah lebih menguat terhadap US dollar atau lebih tinggi
nilainya daripada US dollar?
Dapatkah pegawai mendapat gaji resmi yang cukup untuk memenuhi
kebutuhannya sekeluarga termasuk acara rekreasi?
Mudahkah memperoleh lapangan kerja?
Tanggapan:
=========
Apakah Bung Prama tidak melihat bagaimana praktek pemerintahan selama
ini? Semakin dekat dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
diatas atau semakin jauh? Lalu mengapa kita bisa merasa pengab seperti
dalam kasus Telkom? Apakah Bung Prama tidak pengab menyaksikan
pembabatan hutan-hutan di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan
penjurangan gunung-gunung di Irian tanpa membawa kesejahteraan bagi
masyarakat sekitarnya sehingga muncul masalah-masalah ekonomi, sosial
dan budaya? Berapa trilyun hasil itu dinikmati oleh segelintir manusia
Indonesia yang dijuluki lokomotif pembangunan?
----------------------------------------------------------------------
-----
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Amankah beribadah sesuai agamanya? Rukunkah antar ras/etnis didalam
negeri?
Singkatnya : mampukah kita berada dalam negara tata tentrem
kertaraharja, gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah
kang sarwa tinuku dsb dsb., seperti kehidupan yang dinikmati
masyarakat Madinah, Makkah, Vatikan, Singapore (mid-up), Brunei dan
sebagainya?
Tanggapan:
=========
Saya rasa, tidak ada satupun manusia di Indonesia yang waras memiliki
harapan seperti Bung Prama punya. Soeharto juga memilikinya, oleh
karena itu dia mendisain sebuah format pembangunan untuk mewujudkan
harapan-harapan itu. Setelah 32 tahun kita telah bisa melihat
hasilnya. Semakin jauh atau semakin dekat? Bangsa ini semakin jujur
atau semakin munafik? Bangsa ini semakin barbar atau semakin
berbudaya? Bangsa ini semakin egois atau semakin toleran? Bangsa ini
semakin menjadi homogen atau semakin heterogen? Kemajemukan itu
bersinar semakin cemerlang atau sebaliknya berubah menjadi satu warna
yang buram dan redup?
-----------------------------------------------
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Mas, saya sedang mencari jawaban, bukan hanya bisa atau tidak,karena
saya yakin bisa asal mau dan mampu, tetapi juga kapan dan bagaimana
(untuk menentukan siapa yang pantas dipilih).
Selama ini saya hanya mendapati bayang bayang buram yang semakin
kabur.
Tanggapan:
=========
Let's go for it!!!
----------------------------------------------------------------------
----------
From: Prama Adiguna <[EMAIL PROTECTED]>
.... kaki telah melangkah, matapun kian nanar,
kemana kan kubawa hidup ini, setelah tikungan disudut Dortmund,
tenyata hanya menawarkan sepi, sepiiii ...
Salam.
--
Bung Prama, putusan apa yang akan diambil bila kita memiliki dua
alternatif (saya ambil dari contoh klasik Bayesian Theory):
1. Perjalanan dilanjutkan namun kemungkinan berhasil mencapai tujuan
kurang dari 50% dan kemungkinan gagal lebih dari 50%.
2. Perjalanan dilanjutkan namun kemungkinan berhasil dan gagal equal
yaitu 50%.
Salam Reformasi Total
Golkar < 10%
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!