Mahasiswa Aceh.

Hebat. Saya acungkan dua jempol saya atas militansi mereka yang
menuntut referendum, yang lebih pas kalau disebut sebagai rencana
pemisahan Aceh dari Indonesia. Ini bisa diperhatikan cara menyebut
daerahnya yang 'Aceh' dan orang lain yang bukan Aceh dengan
'Indonesia'. Misalnya, silahkan Indoensia keluar dari Aceh, dan
seterusnya-dan seterusnya. Jika mengacungkan jempol kaki bisa dianggap
sopan, saya pun akan acungkan jempol kaki saya untuk militansi tadi.

Militansi itu juga mereka tunjukkan ketika Gus Dur, yang menurut mereka
cuma populer di Jawa, datang di daerah tersebut.

Namun seperti biasa, pertunjukan militansi tersebut juga banyak yang
membuat saya agak tak paham. Sebab, dengan melihat militansi mereka,
dan gaya mereka berucap atau berkabar, mestinya daerah ini sudah pasti
dekat-dekat ke angka 100 % siap pisah, dan benar-benar tak mau gabung
Indonesia.

Pertanyaan yang mengganjal itu adalah, mengapa masih ada berbagai
organisasi kemahasiswaan Aceh yang ada di kota-kota lain, yang mereka
sebut 'Indonesia' yang seolah-olah sudah 'luar negeri' bagi Aceh itu.
Kenapa mereka tak pulang saja semua ke Aceh? Atau, mereka ini berbeda
pemikiran dengan yang teriak-teriak di Aceh sana itu?

Untuk diketahui, banyak sekali orang-orang asal sana yang jadi pimpinan
di berbagai perusahaan besar, dan bergaji besar pula. Tanpa memandang
rendah terhadap apresiasi keacehan mereka, saya kok meragukan bahwa
mereka bakal merelakan kemerdekaan di luar Indonesia bagi Aceh. Bukan
karena mereka berat dengan posisi yang mereka miliki sekarang, tetapi
lebih kepada kesadaran mereka bahwa akan lebih baik jika Aceh tetap
berada di pangkuan Indonesia, untuk bersama-sama membangun Indonesia,
serta demi kemaslahatan warga Aceh sendiri.

Cukup banyak yang bisa dibicarakan dengan lebih santun, dibanding
dengan melecehkan Gus Dur. Negeri ini pasti bisa diatur untuk hidup
bahagia dan sejahtera bersama, berbeda dengan apa yang sudah dilakukan
oleh rejim sebelumnya. Di tangan tokoh-tokoh reformis, seperti Gus Dur,
Megawati dan Amien Rais, mungkin tak akan membuat Aceh merdeka. Tetapi
percayalah, bahwa penyelenggaraan negara akan lebih baik dalam jangka
panjang.

Kawan-kawan di Aceh, kami di Jawa pun punya penderitaan yang tak kalah
besar sepanjang rejim lama berkuasa. Jika cuma jalan-jalan licin dan
gedung menjulang saja yang kalian irikan, maka percayalah, selama ini
banyak di antara kami juga tak pernah memperoleh apa-apa dari itu
semua. Semua yang kami dapat juga kami peroleh dengan kerja keras,
merebut dari apa yang dikuasai oleh pihak lain yang dekat dengan
kekuasaan. Di gedung-gedung indah itu kami cuma bisa keluar masuk,
tanpa mampir untuk mereguk kenikmatan. Apakah sekedar jadi tukang
parkir dan satpam itu yang anda irikan?

Sebentar lagi, kami juga akan bergerak menuntut semua hak-hak kami yang
terbengkalai selama ini. Cuma kami melakukannya dengan cara membuktikan
diri akan kemampuan kami. Saat ini saya berhasil memperolehnya (antara
lain karena SIUPP yang gampang, dan banyak orang bikin majalah/koran)
karena keahlian jurnalis yang saya miliki.

Aceh, adalah Serambi Makkah. Jadikan cara perjuangan Anda sebagai
cermin agama Allah yang juga saya anut.

Gigih
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke