assalamu'alaikum wr. wb.

Pengantar
Sebenarnya tulisan ini direncanakan untuk dipublikasikan di mass-media. Akan tetapi 
setelah dicoba beberapakali, tidak ada balasan secuilpun dari pihak yang dikirimi. 
Mungkin karena tidak bermutu, atau temanya yang terlalu kampungan dan tradisionalis. 
Mungkin pula karena terdesak oleh berita-berita hangat akibat arus reformasi dan 
gejolak politik.
Namun karena sudah terlanjur menjadi tulisan, maka akan sia-sia saja seandainya hanya 
tersimpan di disket.  Dengan itu, penulis memberanikan diri merilisnya di dunia cyber. 
Setidaknya tulisan ini dapat dibaca oleh orang lain.
Selain itu, sekarang ini indonesia sedang menyambut pemilu istimewa. Pemilu 
multi-partai yang ke-2 sejak 1955 (yang penulis tidak pernah mengalaminya, kecuali 
sekedar cerita-cerita para pendahulu). Dalam menyambut pemilu istimewa itu, terjadi 
berbagai perkara, baik dalam rangka kampanye maupun anti-kampanye. Semua kejadian, 
hanya mampu penulis dengar dan baca, kadang-kadang terlihat dalam tayangan berita 
audio-visual. Ibaratnya sekarang penulis sedang menonton suatu pagelaran besar. 
Pagelaran nusantara dalam berbagai gara-gara dan kekisruhan. Dapatlah ditamsilkan 
sedang NONTON WAYANG.
Dengan pertimbangan bahwa seni pagelaran wayang kulit ini adalah kreasi para wali 
(Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, khususnya), dan sempat menjadi sarana dakwah ampuh 
mengislamkan tanah Jawa, sehingga menghasilkan suatu kepejalan budaya tangguh, penulis 
berpendapat pantas mengangkatnya sebagai sebuah tamsil. Kepejalan budaya jawa telah 
terbukti nyata. Walaupun dijajah 3.5 abad oleh budaya barat, tetap saja orang jawa 
tidak becus bahasa Belanda, apalagi budaya-nya.

Nah, selamat membaca, semoga bermanfaat. Dan ada esensi yang dapat dimanfaatkan dalam 
menyikapi kondisi negeri tercinta menjelang pemilu dan setelahnya nanti.  Tegur sapa 
atas tulisan ini sangat diharapkan untuk penyusunan seri berikutnya.

wassalamualaikum, wr. wb.
penulis,

Okayama, 19 May, 1999
------------------------------------------

SIMPINGAN, BERKACA DI CERMIN TUA
Refleksi Theatrimusical Tradisional � 1
oleh: Winarso Drajad Widodo

Menyaksikan pagelaran wayang kulit adalah salah satu kegemaran yang sulit dihilangkan. 
 Bukan hanya karena tertarik akan cerita yang disuguhkan Ki Dalang, melainkan pada 
hakekat pagelarannya.  Wayang adalah produk budaya yang lengkap, suatu pagelaran 
theatrimusical tradisional yang terkomplit dari budaya Jawa.  Pada pagelaran wayang 
kulit dapat dinikmati seni musik berupa karawitan, suatu simfo-harmoni dari alat musik 
yang hampir semuanya jenis tetabuhan atau perkusi. Dibunyikan dengan ditabuh, dipukul 
atau diadukan.  

Tidak seperti alat musik perkusi pada umumnya, bukannya menghasilkan suara hingar 
bingar pemekak telinga atau penggetar dada, seperti TAIKO-nya Jepang atau 
marching-band korps Marinir TNI, karawitan justru menghasilkan suara lembut bahkan 
kadang-kadang hanya lamat-lamat mengusik indera pendengaran, mewarnai suasana cerita 
yang diwacanakan Ki Dalang.  

Memang benar, bila alat per alat gamelan dipukul sendirian, sudah pasti suara 
pengganggu telinga yang terdengar.  Namun dalam karawitan, mereka dapat menjadi cermin 
keserasian hidup bermasyarakat yang bernuansa profesionalisme.  Tidak layak bila Gong 
ditabung secara �titir� ala saron, gambang atau bonang.  Atau gender dipukul dengan 
penabuh �peking� yang dari tanduk kerbau. Tak akan menghasilkan bunyi lembut menggema 
di resonan bumbung-bambungnya.  Juga seandainya demung ditabuh dengan pemukul gong, 
pasti melempem tidak berbunyi  Semua berperan sesuai dengan status struktural,  
fungsional dan profesinya.  

Satu alat saja diperbunyikan tidak selayaknya, maka rusaklah simfo-harmoni karawitan 
itu.  Nila setitik rusak susu sebelanga, berlaku dengan nuansa tersendiri pada 
karawitan.  Lagi pula suara karawitan itu ibarat sukma dan jiwa bagi jalannya 
pagelaran wayang.  Ia adalah energy yang merangkap sebagai media eternal bagi jalannya 
penggal-penggal sebuah lakon wayang.
***
Semua gelar seni-suara, orkestra simfo-harmonik itu pun dibawakan dalam keadaan niyaga 
(penabuh), pesinden, wirasuara serta pucuk komandonya, Ki Dalang, kesemuanya duduk 
bersila atau bersimpuh.  Suatu keadaan sikap badan paling ideal dalam berkomunikasi 
baik antar sesama maupun kepada Yang Maha Kuasa.  Betapapun menggebu irama tetabuhan 
yang dihasilkan, sikap badan pelakunya tetap dalam keadaan sama rendah, duduk bersila 
atau bersimpuh.

Dalam pada itu, orientasi arah (menghadap) para penabuh gamelan sudah bukan sesuatu 
yang mutlak. Tidak harus penabuh gemalen berjajar rapi seperti pemusik klasik dalam 
konser dan orchestra yang besar. Yang baku mereka menghadap gamelannya masing-masing 
dengan posisi duduk bersila/simpuh degan orientasi arah yang paling cocok bagi mereka 
(bebas menentukan arah fisik). Tidak harus satu arah. Bila perlu membelakangi ki 
dalang atau saling �ungkur-ungkuran�.  Paling-paling hanya  pengendang dan  perebab 
(merangkap pimpinan wirasuara) saja yang harus menghadap layar pagelaran. Mengapa, 
karena rebab adalah pembuka suatu adegan, pembuka aliran energi dan media pagelaran; 
dan gendang mejadi penentu derap langkah dan komandan irama karawitan, yang 
disesuaikan dengan adegan-adegan di layar pagelaran, mengikuti gerakan tangan Ki 
Dalang dengan peraga wayang-wayangnya.

Pada penabuh jenis gamelan yang lain, yang berperan adalah �pendengaran� dan perasaan. 
Kapan harus menabuh pelan-pelan, kapan harus berpacu dan kapan harus berhenti, 
terserah kepada bunyi �gedog� dalang atau �rengekan� rebab yang dilanjutkan oleh 
komando tepakan gendang.  Yang terpenting, gamelan yang dipukul haruslah sesuai dengan 
penguasaannya. Memperhatikan suatu, ilham, arahan, perintah dari rebab dan gendang 
untuk mewujudkan suksesnya suatu �pagelaran� utuh dalam bentuk lakon yang disuguhkan 
oleh Ki Dalang. Dalang dalam pengertian �Mudal Piwulang� dalam rangka menyenaraikan 
suatu ajaran, refleksi kehidupan insani seutuhnya. Mencakup hubungan vertikal kepada 
Pencipta, horisontal antar sesama insan dak optimal-mutual antara manusia dengan alam 
sekitarnya, alam makro dan mikro.
***
Bila gamelan diibaratkan sebagai ladang dan arena pekerjaan dengan suatu profesi, maka 
para niyaga dan pesinden serta wirasuara adalah kaum profesionalnya. Masing-masing 
terpaku dalam profesinya, bergiat di lahan masing-masing, dalam rangka mewujudkan 
pagelaran yang paripurna dari permulaan (tetalon) hingga akhir pagelaran (tancep 
kayon). Dari awal pencabutan gunungan kembali pada penancapan gunungan di tempat 
semula, setelah diketemukannya tokoh idaman, selesainya suatu masalah, berakhirnya 
suatu peperangan atau happy-ending-nya suatu kisah asmara.

Masing-masing profesi hanya menghadapi dunia keprofesiannya. Seorang penabuh bonang 
tidak etis bila mempengaruhi penabuh gender, gambang dan sebaliknya. Namun semua harus 
satu tujuan, memperhatikan arahan Ki Dalang, ilham penggesek rebab serta komando 
melangkah atau berhenti dari pengendang. Sekali lagi orientasi fisik, keseragaman arah 
yang mencerminkan pemaksaan dan pemerkosaan atas hakekat kemerdekaan insani, tidaklah 
mutlak dan kurang perlu. Itu semua hanya memperbaiki penampilan fisik dalam pandangan 
mata penonton saja. Cukuplah dengan menjaga disiplin diri dalam menangkap dan 
menterjemahkan kehendak Ki Dalang. 

Dengan begitu, sekelompok alat (baca profesi) dengan pengelolaan tertentu dalam 
kerangka mewujudkan satu tujuan bersama, lahirlah suatu simfo-harmonik theatrimusical 
kaya daya magis dan spiritual, pagelaran wayang. Itupun masih ada tambahan, bahwa 
tidak harus sesuatu itu berlaku dalam hitam-putih, berlebihan, memaksa, keterusan dan 
kebablasan lupa daratan. 

Dapatlah didengarkan alunan tembang palaran DURMA-RANGSANG yang menggambarkan dua 
seteru yang siap-siap bertempur. Dengan alunan tembang yang melengking tinggi dari 
pesinden dengan senggakan (suara sela) seenaknya dari wirasuara, yang menceritakan 
kesiapan masing-masing seteru dengan segala senjata dan kesaktiannya. Dan manakala 
pertempuran sedang terjadi dengan serunya di layar pagelaran, maka dengan iringan 
gamelan berdentuman, tetap saja pesinden atau wirasuara melantunkan nyanyian 
�man-eman.. ma-eman.. man-eman..kadang ku dewe� (sayang.. sayang.. sayang.... 
saudaraku sendiri). Suatu sikap hidup yang bijak, dimana ada kekerasan dan kekejaman 
berkecamuk ada yang mengingatkan dengan rendah hati dan kasih sayang. Bahkan dalam 
adegan terbunuhnya Dursasana yang dihirup darahnya oleh Sang Bima, wira swara 
melantunkan �surem-surem diwangkara kinkin, guayane sang layon..� (pudar dan semakin 
pudar mentari pucat menjelang tenggelam, seperti cahyanya yang bakal jadi mayat..). 
Begitulah sekeping cermin tua yang patut dijadikan tempat berkaca.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke