Polisi (lagi, lagi)

Selalu saja ada yang salah dalam membaca posting, yang buntutnya adalah
salah memposisikan diri dalam membalas atau mengomentari posting. Saya
perhatikan, inilah penyakit terberat dalam sebuah milis. Sehingga
komentar-komentar lanjutannya pun keluar dari titik berat posting awal.

Soal Polisi.

Komentar pertama adalah, bahwa saya mengira polisi itu bodoh, dan perlu
dikasihani karena mereka berada di tengah terik, dan saya berada di
mobil yang ber-AC.

Mengira saya berada di sebuah kenikmatan mobil, ber-AC, dan menganggap
saya lebih kaya dari polisi, cuma kesalahan paham saja. Saya memang
tidak bercerita, dengan mobil apa saya berada di kawasan yang sumpeg
tersebut. Ini bukan kesalahan pemberi komentar. Untuk diketahui, mobil
saya memang ada AC-nya, tetapi kerap saya matikan, karena yang keluar
cuma angin panas (selera humor saya mengatakan, ini pasti kabelnya
terbalik, wong disuruh dingin kok malah panas). Maaf, saya memang belum
cukup duit untuk men-servisnya. Gajian abis melulu.

Juga mobilnya, cuma kijang tua, dan bolong semua di sekujur tubuhnya.
Bahkan pintunya terpaksa diganjel sandal jepit agar tidak rame ketika
diajak jalan-jalan. Mungkin mobil pak polisi tersebut jauh lebih bagus
dari saya (seperti pak polisi di depan rumah saya, yang Vitara-nya ada
tiga, belum mobil lain. Kalau rumahnya sih 4-5 kali lebih mahal dari
rumah saya).

Kedua, saya dikira menyatakan polisi bodo (lalu ditambah dengan level
pendidikannya segala). Sumpah, saya tak menyatakan kebodohan itu, atau
paling tidak (kalau aku pernah keliru bilang begitu), tak ada niatan
sama sekali.

Cuma aku sayangkan, mengapa tak muncul inisiatip (ada netters yang
numpang komentar, katanya antara polisi dan inisiatip bukan padanan
kata yang cocok), justru untuk ngentengin tugasnya. 

Bayangkan, kalau ia bisa keluar dari tugas ndhaplang-ndhaplang yang tak
perlu itu, bukankah ia bisa mengerjakan sesuatu yang lain dan bermutu?

Posting komentar lain adalah mengenai saran saya, mbok iya-o polisi itu
bikin alternatif membuat pemberitahuan jauh sebelum belokan, agar tak
membuat antrian tambah panjang, lebih macet, yang justru malah bikin ia
repot. 

Komentar yang saya terima adalah, dari mana polisi itu bisa mendapatkan
papan, lalu spidol atau kapur. Wira-wiri begitu, kalau ketahuan
komandannya malah kena damprat.

Ya, ampun. Padahal di posting saya jelas sekali, yaitu bahwa
pemberitahuan itu bisa dilakukan 'dengan cara apa pun'. Bukankah ia
bisa minta kepada mandor perbaikan jalan untuk melakukannya, juga entah
dengan cara apa. Pemborong jangan mau enak dapet duit, dong. Tetapi
juga jangan bikin berat tugas polisi. tegur tuh tukang mandornya. Suruh
dia bikin apa, kek, agar antrian bisa dibersihkan. Pasti, lah, mandor
akan takut sama teguran pak polisi.

Juga komandan yang lewat. Saya pikir, kalau komandan itu sekolahnya
bagus, pasti punya pikiran serupa dengan saya, mengenai inisiatif,
efisiensi, efektivitas, dan hal-hal positip lain. Kalau komandannya
juga sama dan sebangun dengan anak buahnya, wah, jadi kepengin juga aku
nih jadi polisi. Kan lebih pinter aku?

Komentar netters yang lain adalah mengira saya ini nyinyir. Ada polisi
ngeluh, nggak ada ngeluh juga. Untuk yang satu ini tak ada tanggapanku.
Karena dia sama sekali tak paham posting saya. Kalau ada
sedikit-sedikit pemahaman, baru aku mau komentari (lagi). Kalau sudah
sama sekali ndak bunyi kayak begini, mohon maaf, deh.

Masih ada pengalaman saya dengan polisi.

Di banyak kota, kecuali Jakarta, maka semua aktivitas lalu lintas
selalu menumpuk di jalan utama. Beda dengan Jakarta yang banyak jalan
alternatif, yang bisa menggemboskan tekanan di jalan utama.

Di kotaku pun demikian. karena bukan seperti Jakarta, maka semua
aktivitas lalulintas menumpuk di jalan utama. Seperti biasa, di situlah
pusat-pusat gedung pemerintahan berada. Seperti biasa, kalau ada
upacara-upacara, dipastikan akan membuat macet seluruh kota. Karena
jalan utama itu ditutup, dan jauh dari sempalan-sempalan alternatif,
maka menumpukklah ribuan kendaraan di jalan buangan (masih jalan utama
juga).

Dalam perjalananku ke kantor, bisa saja aku tidak melewati tempat yang
sering digunakan upacara itu (kediaman resmi gubernur). Tapi, lewat di
situ, banyak senangnya. Jalannya lebar, banyak hiasan, dan ketemu
(meski cuma lirak-lirik, nih) gadis-gadis cantik menunggu bis kota.
Tetapi akan terasa di neraka, kalau sudah terjebak macet karena ada
upacara.

Iseng-iseng aku menepikan kendaraan, dan mendekati polisi yang dengan
lihat pangkatnya, senior di antara mereka. 

Kaca aku buka, dan dengan sopan aku bilang 'selamat pagi'. 

'ADA APAH !'

(edan, aku pikir, apa aku tadi bilangnya 'SELHAMATTH PAGIEH !)

'Ini lho pak, saya usul. Bagaimana kalau di kantor polisi (beberapa
ratus meter menjelang jalan yang ditutup) dipasang pemberitahuan, kalau
jalan ini ditutup karena ada upacara. Sehingga para pengendara bisa
sejak jauh mencari jalan alternatif, daripada nglumpuk seperti ini'.
Saya, jelas sopan. Mana aku berani ngomong tak sopan (pakai huruf besar
semua) sama polisi.

'SUDAH SANNAAH !, PERGI ! MACEM-MACEM SAJAH !'

Cuma ngomong saja, nggak pa-pa, deh. Ini pake nggebuk kijang tuaku
tadi.

Nyaliku langsung kecut, baca istigfar, dan meneruskan perjalanan (masuk
dalam kerumunan kendaraan lain yang beringsut-ingsut, sehingga aku
harus kehilangan 2 jam untuk sampai di kantor).

Dalam hatiku berdoa, ya Tuhan, berikan kekuatan pada diriku, untuk
tidak mengomentari segala kesemrawutan yang terjadi di sekitarku.
Soalnya, jangan-jangan niat baikku dianggap merusak tatanan yang sudah
jadi prosedur standar ini (walau menurutku sangat belepotan). Ya Allah
(masih doaku, lho) jangan hendaknya aku dibiarkan punya pikiran
aneh-aneh (seperti menasehati polisi tadi).

GIGIH
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke