Kemungkinan besar Anda telah pernah mendengar anekdot berikut ini:

Pada suatu siang, Nasruddin terlihat mencari-cari sesuatu di halaman
rumahnya. Seorang laki-laki lewat dan menegurnya: "Apa yang sedang kau cari?"
"Saya sedang mencari kepingan uang saya yang terjatuh!" Jawab Nasruddin.
"Di mana uang itu jatuh?" Tanya si laki-laki.
"Tadi di dalam rumah saya"
"Lho, kalau jatuh di sana, kenapa Anda mencarinya di luar sini?"
"Karena di dalam sana gelap, sedangkan di sini terang!" Jawab Nasruddin
dengan bangga, karena mengira dengan itu dia sudah pandai di mata orang lain.

Kira-kira kejadian seperti di dalam anekdot ini yang sedang terjadi dalam
kasus pemeriksaan terhadap Soeharto yang dilakukan Jaksa Agung Andi Ghalib.
Seharusnya sebagai seorang jaksa, apalagi pakai embel-embel "agung" Ghalib
sepenuh sadar kalau hampir mustahil dia akan bisa menemukan rekening atau
aset lain milik Soeharto atas nama Soeharto sendiri. Seorang koruptor yang
"biasa-biasa" saja tentu akan sedapat mungkin menghilangkan jejak uang
kotornya dengan berbagai cara. Cara yang lazim adalah dengan memakai nama
orang lain (misalnya kerabatnya) untuk rekening uang hasil korupsinya.
Apalagi orang sekelas Soeharto.

Saya pikir yang terjadi sebenarnya, Ghalib memang menyadari sepenuhnya
taktik penghilangan jejak seperti itu, tetapi dia dengan sengaja
terus-menerus menguber rekening atau aset atas nama Soeharto sendiri.
Karena dia tahu, tidak akan berhasil menemukannya. Sebab utamanya adalah
memang dia tidak bersungguh-sungguh mengusut Soeharto. Atau lebih tepatnya,
memang tidak ada niat untuk itu. Malah lebih baik kalau Soeharto tidak
diapa-apakan. Pemerintah sekarang hendak melakukan "pengusutan" tersebut
lebih karena takut dengan desakan rakyat, takut dengan ancaman kemarahan
rakyat yang bisa mengganggu kedudukan berkuasa mereka. Semua orang tahu,
kalau sampai Soeharto benar-benar diusut Habibie cs sendiri pasti akan
ikut-ikutan terseret. Di samping mereka sampai saat ini masih segan dengan
Soeharto.

Kalau Ghalib memang bersungguh-sungguh, pemeriksaan bisa dimulai dari
anak-anak Soeharto dan kroni mereka. Dari sini bisa diketahui dari mana dan
dengan cara apa kekayaan yang mereka peroleh.

Ketidakseriusan Ghalib juga terlihat dalam wawancaranya dengan majalah
TIME. Ketika TIME bertanya apakah dia mengetahui gaji Soeharto, Ghalib
mengatakan tidak tahu. Jadi bagaimana bisa pengusutan itu dinamakan serius.
Bagaimana bisa kita menyangka seseorang telah melakukan korupsi, kalau kita
tidak tahu berapa sebenarnya pendapatan orang tersebut? 

Ketika TIME mengutarakan hal tersebut, Ghalib malah ngotot mengatakan,
"Sangat, sangat sangat serius!" 

TIME: You've been investigating Suharto since December on suspicion of
corruption, but you don't know what his monthly salary was? Is this a
serious investigation? 
GHALIB: Very serious, you know, very serious, but this is just preliminary. 

Mungkin seperti Nasruddin dalam anekdot di atas, Ghalib berpikir orang lain
akan menganggap dia sudah pandai dengan berbicara seperti yang selama ini
dilakukan itu.




Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke