>From: "Hercule Poirot" <[EMAIL PROTECTED]> >Lihatlah orang Golkar spt Marzuki Darusman, lihat juga yang lain >spt Adi Sasono [yg dianugerahi gelar the most dangerous man]. >Dan juga yang lain. Tekad mereka untuk menegakkan keadilan nampak >dari >kegiatannya sehari-hari. >Saya memisahkan Golkar saat di bawah Soeharto dan kroconya, dan >Golkar di >bawah Akbar Tanjung. Secara organisasi...mereka juga sudah>berbeda. Yang >pertama Golkar [Soeharto], yang satu adalah >Partai Golkar [Akbar >Tanjung]. Mari kita bahas fenomena Marzuki Darusman di dalam tubuh Golkar, kaitannya dengan Akbar dan isu Habibie. 1. Bagaimana mungkin seorang Marzuki bisa berjas hitam sendirian di tengah pengurus lainnya yang berjas kuning? Simbol apa yang hendak disampaikannya? 2. Apakah Marzuki bersandiwara politik ketika ia dengan getol mendesakkan perlunya calon presiden lebih dari satu instead of Habibie seorang? 3. Bagaimana mungkin seorang ketua fraksi Karya Pembangunan di MPR berkampanye tentang hal itu dan Habibie himself tidak keberatan? 4. Sejauh mana hubungan baik Akbar-Marzuki (mereka kawan sejak mahasiswa) menjadi faktor tersembunyi yang menentukan dalam politik Golkar yang mereka mainkan? 5. Tidakkah pencalonan Habibie sebagai presiden oleh Golkar justru memberi peluang sasaran tembak oleh parpol lainnya, dan memberi peluang naiknya popularitas partai lainnya, serta memberi momentum aliansi strategis PAN-PKB-PDI-P dan aliansi kedua PPP-PAN-PK?? Apakah Golkar sebodoh itu dengan mencalonkan Habibie karena AKbar setahu saya bukanlah politisi kemarin sore. 6. Jika Akbar bukan orang bodoh, agenda tersembunyi apa yang tengah dimainkannya melalui pengajuan nama Habibie? Membusukkan nama Habibie? Sehingga dalam rapim sebelum SU MPR akhirnya desakan untuk menyingkirkan nama Habibie muncul sendiri dari bawah setelah para pengurus melihat betapa tidak menjualnya nama itu. 7. Lalu apa setelah itu? AKbar mengharapkan namanya sendiri dimajukan? Memangnya seberapa besar dukungan grass roots Golkar terhadapnya? DPD, DPC? 8. Atau, PERTANYAAN TERPENTING; Apakah ia cuma mau jadi broker politik? Sadar bahwa ia tidak mungkin naik jadi presiden (karena citra masa lalu Golkar di mata rakyat) dan tidak mungkin pula Golkar memimpin kabinet, ia akan bernegosiasi dengan pemenang mayoritas pemilu (yang tidaklah sama dengan penguasaan MPR) untuk mendapatkan kurs-kursi menteri. Marzuki sendiri sudah aman di kursinya yang lain, Ketua KOmnas yang akan memiliki wewenang luar biasa setelah UU itu disahkan. Apa pendapat netters? ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
