Berikut adalah surat saya yang dikirim ke Kompas via Fax, pada tanggal 9
Juni 1999, pukul 09.08 WIB
Jakarta, 9 Juni 1999
Kepada:
Yth. Redaksi Kompas
Di �
JAKARTA
Dengan hormat,
Membaca surat dari Saudara Rudy Rakhmadi pada harian Kompas, 9 Juni 1999,
halaman 5, pada rubrik �Redaksi Yth.�, ijinkan saya berkomentar sebagai
berikut:
1. Sungguh �nikmat� membaca pemikiran Saudara Rudy. Mengapa? Karena
pemikiran itu sangat lain dari yang lain. Dari sekian banyak orang yang saya
kenal, sangat menyenangi tulisan-tulisan Wimar dalam Asal Usul (Asus)
Kompas. Baru Saudara Rudy inilah yang secara terbuka menyatakan
ketidaksenangannya. Anehnya lagi, Saudara Rudy tidak menyatakan hal tersebut
via e-mail yang selalu diberikan Wimar dalam tulisannya, melainkan melalui
suatu forum terbuka. Tapi, itu sah-sah saja dalam demokrasi, meskipun etika
dan motif-nya sangat layak dipertanyakan.
2. Betul, �saya juga merasakan�bahwa Wimar Witoelar biasanya menyatakan
ketidaksamaan pendapat dengan penguasa yang ada sekarang, yaitu lanjutan
Orde Baru Soehartois dibawah pimpinan BJ. Habibie. Justru itulah yang
menjadi nilai lebih tulisan-tulisan Wimar. Ketika tokoh lain dengan �garang�
menyerang Habibie, Wimar justru tampil dengan gaya bahasa sederhana, biasa,
lugas dan santai untuk mencuri sekilas kejernihan dari kerancuan akibat
pernyataan-pernyataan pejabat. Contohnya, Asus �Tiga Kucing Dalam Karung�
yang ditulis Wimar dan juga dikutip dalam surat Saudara Rudy, ia dengan
santai membalikkan logika �membeli kucing dalam karung� dari Habibie. Jika
Habibie mengatakan, �Memilih Presiden jangan seperti membeli kucing dalam
karung�, maka Wimar dengan santai dan lugas memberikan kejernihan, �Lebih
baik membeli kucing dalam karung, karena masih mungkin mendapat kucing yang
baik, daripada membeli kucing di luar karung tetapi sudah pasti jelek�.
Mengapa saya katakan pernyataan Wimar itu suatu kejernihan? Sebab,
pernyataan Habibie justru membawa kerancuan. Bagaimana mungkin seorang tokoh
Orde Baru yang dipilih melalui mekanisme Pemilu 1997 yang dipertanyakan
(sehingga Pemilu 1999 perlu dilakukan untuk mengkoreksi Pemilu 1997), justru
memberi �wanti-wanti� kucing dalam karung? Pernyataan itu terlihat
bijaksana, tetapi penuh kerancuan. Dengan pernyataan Wimar, kejernihan bisa
didapat: bahwa tokoh yang sudah berpengalaman dalam pemerintahan (dengan
analogi �diluar karung�), tetapi track-record--nya buruk, tidak perlu diberi
kesempatan lagi. Sedangkan tokoh yang reformis, �dan sudah pasti� belum
berpengalaman dalam pemerintahan (dengan analogi �didalam karung�), lebih
layak diberi kesempatan memimpin negara ini, agar kita bisa punya masa depan
baru. Itulah yang dapat saya mengerti dari tulisan Wimar tersebut. Memang,
kejernihan berpikir dan kemauan untuk mengkoreksi logika sangat diperlukan.
3. Satu lagi keanehan surat Saudara Rudy adalah bahwa ia memakai logika
pejabat Orde Baru yang mengkategorikan semua bentuk perlawanan terhadap
rejim sebagai �pemaksaan kehendak�. Saya bingung sekali, karena
itu �lagi-lagi�merupakan perancuan logika. Saya tidak melihat tulisan Wimar
sebagai �pemaksaan kehendak�, karena ia toh tidak menggunakan kekerasan dan
senjata untuk memaksa orang lain sependapat dengannya. Ia membiarkan
pemikirannya terbuka, diketahui khalayak dan tidak tertutup untuk dikritik.
Karena itu ia memberikan media umpan balik, via e-mail yang selalu
dicantumkannya.
4. Terakhir, seharusnya bila Saudara Rudy mau jujur, tentu tidak
membanding-bandingkan Wimar Witoelar dengan BJ. Habibie. Perbandingan itu
tidak relevan. Academic track Habibie yang anda puji itu, bagi saya, bukan
merupakan suatu nilai unggul karena memang sudah seharusnya demikian. BJ.
Habibie adalah seorang akademisi, sudah seharusnyalah ia memiliki jenjang
pendidikan tinggi yang memadai. Tentunya, bukan suatu yang menakjubkan bila
seorang Guru Besar (profesor) seperti BJ. Habibie, memiliki gelar Doktor.
Sebab, �tanpa bermaksud merendahkan�itu memang lumrah, dan selayaknya memang
begitu. Jadi, perbandingan itu, tidak relevan.
5. Perihal mempertahankan ataupun mengganti seorang kolumnis Kompas, saya
rasa tidak pada tempatnya bagi saya untuk mengintervensi. Itu adalah hak
redaksi.
Demikian saya sampaikan, sebagai upaya memberikan sekilas kejernihan dari
kerancuan surat Saudara Rudy Rakhmadhy. Atas dimuatnya surat ini oleh
redaksi, diucapkan terimakasih.
Hormat Saya,
Martin Manurung
Mahasiswa Universitas Indonesia
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!