Saya sangat setuju dengan usul Sdr. Sari ( saya gunakan Sdr. dan bukan Sdri. karena sesama wanita, kalau tidak salah ketentuannya begitu ? ). Daripada kita hanya sibuk berdebat politik, ada baiknya juga kita pikirkan apa tujuan kita kedepan. Setelah usai pemilu ini apa sebenarnya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jadi selain memilih Presiden, mentri, wakil-wakil di DPR/MPR dan lain sebagainya ada baiknya kita juga menyumbangkan pikiran berupa ide-ide yang membangun. Selain itu pembahasan seperti ini juga bisa berdampak positif dengan mengarahkan para anggota untuk berpikir positif dan membangun. Siapa tahu bisa berkembang juga ke milis-milis lain bahkan diluar milis. Sesuai juga dengan ide awal yang pernah saya ajukan ( mengenai akar pohon yang kuat ) dimana pembangunan bukan digerakkan dari atas saja melainkan juga dari bawah. Karena 'toh rakyat kita yang lebih tahu kebutuhan dan kemampuan mereka masing-masing. Membaca usul Sdr. Sari mengenai bidang pendidikan, saya jadi ingin bertanya : - Apa benar buku-buku pegangan di SD/SLTP/SLTA hampir tiap tahun diganti ? - Kalau benar, mengapa terlalu sering sehingga menimbulkan pemborosan karena buku-buku yang dipakai seorang pelajar SLTP misalnya, tidak bisa diwariskan kepada adiknya karena pada tahun ajaran berikutnya buku pegangan yang dipakai berbeda ? - Apa benar ketentuan mengenai buku pegangan yang dikeluarkan oleh P&K itu dipengaruhi unsur KKN ( antara P&K dan pihak penerbit ) ? - Kalau alasannya karena kemajuan ilmu pengetahuan, mengapa isi buku-buku tersebut hampir sama, hanya berbeda penyajian dan contoh soal ? Kasihan pelajar-pelajar kita yang dimasa krisis begini masih harus pusing karena perlu biaya mahal untuk membeli buku baru, sedangkan dulu waktu saya sekolah sebagian besar buku saya adalah warisan dari saudara-saudara saya yang lebih tua. wenny ---------- From: Sari -[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Thursday, June 10, 1999 11:49 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [Kuli Tinta] USULAN REFORMASI : (1) pelajaran bahasa Buat Bung Hercule, anda menulis bahwa anda berpendidikan di bidang pertanian dan sekarang bekerja di AS. Untuk membangun Indonesia baru yang maju kita tentu memerlukan pemikiran dan tangan-tangan ahli anak bangsa untuk membenahi sektor-sektor pembangunan di negeri kita termasuk yang sangat penting di sektor pertanian. Mungkin anda masih belum bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Namun mungkin anda punya pemikiran/konsep bagaimana memajukan pertanian sesuai dengan yang anda pelajari. Nah bagaimana kalau anda memulai menjabarkannya di sini misalnya bagaimana caranya sih buah-buahan kita bisa layak ekspor. Gemes kan melihat pasar buah kita malah kebanjiran buah impor. Atau apalah yang lain sesuai bidang anda. USULAN REFORMASI Buat rekan-rekan yang lain, sumbangkan juga pemikiran anda sesuai bidang anda masing-masing dalam mereformasi Indonesia secara riil. Dari pada anda buang waktu anda dengan percuma hanya untuk ikut menanggapi issue. Siapa tahu bisa ditindaklanjuti rekan wartawan dengan membuat reportase bertemakan usulan anda dan semoga bisa diserap oleh para wakil rakyat dan pemerintah kita dan pada akhirnya bisa menjadi sumbangan yang berarti bagi negara kita. Terlalu mulukkah harapan ini? Bagaimana kalau dicoba dulu...... Karena saya yang usul ya saya mulai duluan nih ,,,,,,konsekwen. USULAN REFORMASI: PELAJARAN BAHASA TERPADU Karena saya masih sekolah maka saya mulai saja dengan bidang pendidikan Saya ingin usul pembenahan kurikulum kita sehingga lebih terpadu. Selama ini mata pelajaran di sekolah cenderung untuk berdiri sendiri-sendiri. Matematika sendiri, Fisika sendiri sedang bahasa sendiri pula dan tidak saling kait mengait. Bahasa walaupun penting namun disekolah diajarkan dengan membosankan dan malah cuma menjabarkan teori lingistik yang kurang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang kita masih cenderung lemah dalam pngungkapan pemikiran dengan memakai bahasa yang baik dan benar tidak hanya dalam bahasa asing namun juga dalam bahasa Indonesia. Peneliti Indonesia juga belum mampu untuk masuk dalam percaturan elite peneliti dunia selain karena kendala kemampuan dan dana namun juga karena ketidakmampuan bahasa. Karena itu bagaimana kalau sejak SD pelajaran bahasa juga dikaitkan dengan pelajaran ilmu pengetahuan misalnya anak diharuskan membuat laporan pengamatan tugas dari pelajaran IPA, IPS dan Matematika bahkan juga pelajaran Olahraga/Kesehatan dan Agama kedalam karangan sederhana yang selain dinilai substansinya juga dinilai penggunaan bahasanya oleh guru bahasa. Demikian juga ketika anak harus maju memaparkan hasil kerjanya dengan presentasi oral maka yang menilai dan membimbing bukan hanya guru mata pelajaran yang bersangkutan namun juga para guru bahasa. Sehingga dalam hal ini para guru juga harus bekerjasama dengan guru bahasa dalam memberikan tugas-tugasnya. Di perguruan tinggi hal ini juga bisa dilakukan dengan adanya dosen bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang mungkin tidak usah mengadakan mata kuliah tersendiri namun selalu siap sedia untuk menerima konsultasi bagi mahasiswa yang merasa perlu bimbingan dalam pemakaian bahasa.Juga para dosen mata kuliah lainnya bisa mengajak dosen bahasa untuk menilai laporan mahasiswanya dari segi bahasanya. Dengan demikian diharapkan sumber daya manusia kita di masa depan mampu untuk mengemukakan gagasan dan bertukar pikiran baik lisan maupun tulisan dengan lebih baik lagi dari sekarang. Eh....maaf ya kuli tinta cuma untuk diskusi politik saja!!! Waduh ...kalau begitu ya mohon dimaafkan kelancangan beta.... Tapi ...kalau dipikir lagi dengan pelajaran bahasa terpadu tersebut maka di masa depan para politisi kita juga akan lebih mampu untuk menjabarkan pemikirannya dengan lebih runtut dan jelas serta mudah dimengerti oleh masyarakat umumnya disamping masyarakat juga bisa lebih kritis menilai calon pemimpinnya. Di lain pihak masyarakat yang terdidik untuk bisa mengemukakan pemikirannya akan dapat melontarkan ide dan aspirasinya yang dapat mudah pula ditangkap oleh para politisi yang mewakili mereka. Komunikasi yang terbuka antara rakyat dan pimpinan akan membuat arah kebijaksanaan negara menjadi transparan dan dapat dikontrol oleh masyarakat luas. Ini kan terkait dengan pembangunan politik juga. Atau...tetap tidak boleh karena tidak sesuai budaya timur??? He..he...he. Wassalam, SARI Catatan : Maaf kalau tulisan di atas kacau dari segi tata bahasa walaupun ehm....saya rasa masih ada teman yang lebih parah lagi. Ini hanya menandakan bahwa kita perlu pendidikan bahasa yang lebih baik di masa datang....... Titip juga untuk rekan wartawan : sudah tahukan anda apa beda kronis dan akut? Misalnya waktu ibu Rahmi Hatta meninggal ada koran yang menulis bahwa beliau meninggal karena penyakit jantung akut. Dalam pengertian saya beliau meninggal karena sakit mendadak. Namun di media lain dikabarkan bahwa ibu Rahmi sudah lama mengidap penyakit jantung. Kesimpangsiuran berita seperti itu membuat saya semakin yakin bahwa reformasi pelajaran bahasa perlu dilakukan dengan segera. ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia! ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
