Maaf, Sepertinya kalau membaca tulisan ini dan melihat banyaknya pendompleng di partai banteng "gendut" ini, sepertinya akan muncul "monster" penguasa ketiga dalam sejarah bangsa ini, setelah "monster" pertama "Sukarno", dan "monster" kedua "Suharto". Maaf, kalau kata-kata nya agak kasar dan pada bung ADMIN saya berharap kebebasan pendapat kita dapat dijamin di milis ini. Tolong diingatkan kalau kata-kata nya sudah melebihi batas. Terimakasih. Raja Komkom Siregar On Mon, 14 Jun 1999, Abdur Rahim wrote: > > > ---------- Forwarded message ---------- > Date: Fri, 11 Jun 1999 20:58:17 +0700 (JAVT) > From: Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]> > Reply-To: [EMAIL PROTECTED] > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [ASISTEN] [barrac] Fw: Melihat Indonesia di Tangan Mega (fwd) > > > Tanpa tendensi apa pun. Tidak ada guna pertentangan antar partai. Lebih baik > melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan. > > > PERCAYA atau tidak, banyak orang mulai bertanya begini : > "Bagaimana ya nantinya Indonesia di tangan Mega?" Pertanyaan ini tidak saja > muncul dari luar kandang PDI Perjuangan (PDI-P), tapi juga dari para pejuang > banteng sendiri. Mengapa? Tentu saja karena Mega adalah kandidat presiden > yang paling diperhitungkan saat ini, dibanding Wiranto, Amien Rais, atau Gus > Dur sekalipun. Satu lagi --ini yang mengkhawatirkan--, lantaran konflik > internal yang dahsyat sekaligus ultrapelik di tubuh banteng bermulut putih > itu disinyalir juga bakal berimbas pada keutuhan bangsa ini. Itu sebabnya, > nasib Indonesia dan PDI-P sendiri bakal juga ditentukan performance pribadi > serta politik Mega. Apa maksudnya? DALAM sebuah percakapan di kafe hotel > berbintang, seorang pengurus teras PDI-P sempat berkeluh kesah kepada > Surabaya Post. Kata salah satu tokoh penting PDI-P ini, Mega sekarang sudah > berubah, tak seperti dulu lagi. Putri Bung Karno ini mengambil jarak dengan > banyak orang, bahkan yang dulu mendukungnya mati-matian dengan risiko darah > bahkan nyawa. "Saya dulu bebas masuk ke ruangan Mbak Mega. Ya makan bersama, > ngomong-ngomong enak. Jadi enak saja kalau mau ketemu Mbak Mega. Tapi > sekarang? Ibaratnya, makan semeja saja sudah nggak bisa," ujarnya mengudar > keluh. > > Keluhan serupa juga datang dari seorang kader PDI-P Surabaya, yang dua pekan > lalu berangkat ke Jakarta hendak menjumpai pemimpin besarnya. Tapi apa mau > dikata, di sekitar Mega ternyata berdiri pagar protokoler nan kukuh-ketat. > "Begitu nyampai di kantor, saya dicegat orang DPP. Saya tidak diizinkan > bertemu Ibu Mega. Katanya, pesan cukup disampaikan lewat dia...," ujarnya. > Walhasil, sang kader musti menelan kecewa. Dia harus balik ke Surabaya tanpa > sempat sedetik pun bertemu Mega. "Kok begitu ya? Perasaan, Ibu Mega dulu > ndak begitu?" katanya lagi dengan nada tanya. Ada apa memangnya dengan Mega? > Sebetulnya ini sudah rahasia umum dan terbeber jelas di media massa: bahwa > kandang banteng perjuangan itu tengah gelisah oleh konflik internal. Sudah > banyak terdengar bagaimana Mega dikepung beragam kubu yang diciptakan para > pengikutnya. Sudah menjadi cerita lama pula bagaimana sang suami, Taufik > Kiemas, amat ketat mengawal segenap kebijakan Mega. Begitu pula pertarungan > klik Taufik dengan kelompok Haryanto Taslam, Soetardjo Soerjogoeritno, dan > kelompok ITB (Laksamana Sukardi dan kawan-kawan). Belum lagi "pertarungan > tradisional" unsur PNI dan Parkindo akibat tak tuntasnya fusi. Dan > belakangan, seiring keputusan Mega mengibarkan PDI-P sebagai partai terbuka > dan kebutuhan partai akan SDM yang siap pakai, datanglah rombongan pensiunan > tentara dan bekas Golkar. Kedatangan para mantan pendukung gigih Orde Baru > itu membuat kandang PDI-P kian pengap. Apalagi, kafilah terakhir ini -- yang > dimotori Mayjen Purn Theo Sjafei, Brigjen Purn Sembiring Meliala, Jakob > Tobing, dan Prof Dimyati Hartono-- dinilai sukses mempengaruhi Mega, > sampai-sampai geng Taufik sendiri nyap-nyap. Kubu-kubu itu saling berebut > pengaruh ke Mega. Dan repotnya, seperti diungkapkan pakar politik dari UI, > Eep Syaefulloh Fatah, Mega bukanlah manajer konflik yang baik. Maka, jadilah > Mega terpencil kesepian di tengah pusaran konflik para pengikutnya. > "Akibatnya ya itu, Mbak Mega jadi menjaga jarak dengan semua pihak. Sekarang > ini, yang diajak omong Ibu Mega cuma Kwik Kian Gie, karena dia dinilai > paling netral dan jernih. Nggak punya ambisi apa pun, kepingin jadi menteri > saja tidak, apalagi cuma caleg," kata kader PDI-P yang tak mau disebut > namanya. Ini diperparah oleh gaya masing-masing kubu yang di mana-mana > mengklaim paling dekat dengan Mega. "Mereka memagari Ibu Mega sedemikian > ketat, sehingga kami-kami ini nggak bisa lagi leluasa bertemu beliau," ujar > kader itu lagi. > > Pertarungan Intern Yang jadi persoalan, menjelang proses pemilu -- terutama > masa penyusunan caleg -- pertempuran itu menjadi kian sengit dan cenderung > susah dikontrol. Masing-masing kubu, melalui kaki tangannya di > daerah-daerah, saling melakukan gerilya dalam penentuan caleg. Tak heran > kalau kemudian meruyak banyak protes dari daerah. Sebabnya macam-macam, tapi > menjurus ke satu arah : distribusi kue kekuasaan yang tak merata dan > cenderung meninggalkan kader-kader lama yang telah berjuang sekian tahun di > sisi Mega. Dalam penyusunan caleg misalnya. Banyak kader lawas yang militan > tersingkir. Sementara pendatang baru dari eks tentara-Golkar merajalela. > Tercatat, paling tidak 28 eks tentara-Golkar yang ada di DPP -- terutama di > Litbang -- sukses menjadi caleg. Belum lagi di daerah-daerah. Belum lagi > kasus money politics atau nepotisme. Pencantuman sejumlah kerabat Taufik > Kiemas, Yahya Nasution, atau Sabam Sirait sebagai caleg membuahkan belasan > protes dari daerah pemilihannya. Namun apa daya, ketidakpuasan itu rontok > terpangkas dengan berlindung di balik otoritas Mega. "Tapi beberapa protes > itu juga tak lagi murni. Mereka memang kecewa, lalu dikompori salah satu > kubu elite sebagai alat menyerang lawan kubunya," kata sumber Surabaya Post. > > Dan ini lagi. Diam-diam, yang sekarang dibidik bukan cuma kursi dewan, tapi > sudah kabinet. Sejumlah elite PDI-P mulai kasak-kusuk membicarakan peluang > masuk kabinet. "Sudah bukan rahasia lagi. Kemana-mana sejumlah elite partai > sudah berani mengaku akan masuk kabinet," kata sumber Surabaya Post sembari > menyebut beberapa nama. Mengapa pertarungan kian mengeras? Ternyata bukan > melulu lantaran fenomena rutin menjelang pemilu. Ada sebab lain yang cukup > mengejutkan. Seorang fungsionaris PDI-P, dengan wanti-wanti agar tak disebut > identitasnya, mengatakan, perebutan kursi ( baik caleg maupun kabinet ) > menjadi kian panas lantaran lima tahun pascapemilu mendatang adalah saat > yang amat menentukan, baik untuk PDI-P maupun karier politik mereka sendiri. > "Entah lima tahun lagi setelah itu, keadaan bisa berubah. Karena itu, mereka > sedapat mungkin memetik buahnya sekarang, mumpung masih ada," katanya. Apa > artinya ini? Ada semacam kegamangan dalam melihat masa depan PDI-P. Lebih > jelasnya, seperti diungkapkan fungsionaris tadi, ada semacam pesimisme di > kalangan elite PDI-P apakah lima tahun mendatang partai ini akan tetap > sebesar sekarang. Masing-masing kubu agaknya sama-sama mafhum, Mega bakal > kesulitan mengemudikan partainya jika kondisi internal berantakan. > Implikasinya, agak susah mempertahankan simpati massa yang pada lima tahun > mendatang sangat boleh jadi sudah berubah orientasi politiknya. "Karena itu, > royokan jabatan dan pengaruh juga makin menjadi-jadi. Istilahnya, kapan lagi > kalau bukan sekarang?" ujarnya dengan wajah sedih. Disintegrasi Bangsa Pakar > politik dari UGM Dr Riswandha Imawan menjelaskannya dengan pas. Kalau > kondisi ini dibiarkan terus dan Mega tak segera mampu menyembuhkan penyakit > internal ini, menurut Riswandha, harga paling murah yang harus dibayar PDI-P > adalah ditinggalkan pemilihnya pada pemilu lima tahun mendatang. Tapi, > lanjut dia, ongkos yang mutlak diperhatikan adalah yang harus dibayar bangsa > ini jika Mega terpilih menjadi presiden. Dengan belitan konflik intern para > pengikutnya yang separah itu, kata Riswandha, bisa-bisa seluruh bangsa ini > harus ikut membayarnya. Dan harganya, duh, teramat mahal: disintegrasi > bangsa. "Selama ini, pendukung PDI-P banyak menaruh harapan pada partai ini > untuk mengentas rakyat dari jurang krisis yang sudah sampai ke leher. Kalau > ternyata nanti Mega nggak mampu memenuhi harapan itu, kemarahan rakyat akan > memuncak. Akibatnya, apalagi kalau bukan disintegrasi bangsa, sesuatu yang > justru ditentang Mega habis-habisan," ujar Riswandha. Mengapa Riswandha > memberi sinyal yang begitu mendebarkan? "Bagaimana Mega mampu memimpin > bangsa ini kalau menuntaskan problem partainya sendiri saja nggak mampu? > Bagaimana Mega mampu mengurusi bangsa ini kalau dia tetap saja direcoki > pertikaian para pendukungnya yang pada rebutan kekuasaan itu? Inilah ujian > Mega yang sesungguhnya sebelum menjadi presiden," kata pengamat kelahiran > Madura itu. Lalu apa yang harus dilakukan Mega? "Mega ndak boleh lagi diam. > Kepemimpinannya harus dibuktikan sekarang untuk mencegah konflik internal > yang bisa membesar ke arah disintegrasi," tegas Riswandha lagi. > > Di sisi lain, seperti sempat diungkapkan beberapa kader PDI-P, di antaranya > kader yang gagal bertemu Mega tadi, muncul kekhawatiran di kalangan PDI-P > sendiri. Dengan gaya politik Mega yang susah ditebak dan tipologi konflik > intern yang mirip-mirip zaman Orba (Soeharto) itu, jika berkuasa Mega > dikhawatirkan akan terjebak menjadi Orba Jilid II. Bagaimana tidak? Dengan > merendahkan nada bicaranya, kader itu mengatakan, Soeharto dulu juga > melakukan hal yang sama dengan Mega. Di antaranya, enggan terbuka dan > cenderung membangun lingkaran pengikut yang kekuasaannya mengatasi struktur > organisasi resmi. Dia menunjuk contoh aspri Soeharto ( Ali Moertopo, > Soedjono Humardani dkk. ) yang kekuasaannya melebihi para menteri. Dan > cara-cara seperti itu tetap digunakan Soeharto hingga menjelang lengser. > Belum lagi tipologi konflik intern PDI-P, seperti gejala nepotisme, dugaan > money politics, serta fenomena top down dalam membagi kue kekuasaan, yang > lagi-lagi merupakan gaya Soeharto yang diterapkan di semua bidang, mulai > Golkar, birokrasi, sampai ABRI. "Ya kalau nggak ada perubahan, kayaknya sih > bisa-bisa seperti Orde Baru. Tapi semoga saja tidak," kata kader PDI-P itu. > Sekarang, ancaman itu memang belum terasa. Mega masih belum jelas akan > terpilih menjadi presiden atau tidak. Ia juga masih mampu menyamarkan > konflik internal itu dengan kharisma dan pengaruhnya. Sebagaimana diakui Ir > Heri Akhmadi, mantan aktivis mahasiswa Angkatan 1978 yang kini menjadi caleg > PDI-P untuk DPR RI dari daerah pemilihan Ponorogo, persoalan dalam tubuh > elite PDI-P akan mudah diselesaikan karena figur Mega. "Kalau ada persoalan, > tinggal diserahkan ke Ibu Mega. Semua akan beres jika Bu Mega yang membuat > keputusan. Kalau mau, Bu Mega tinggal mencopot orang-orang itu dan > permasalahan segera selesai," katanya. Tapi, sampai kapan semuanya > digantungkan hanya pada seorang Mega? Tidakkah ongkosnya terlalu mahal, > karena menyangkut nasib bangsa jika Mega benar-benar terpilih menjadi > presiden? > (Nanang Krisdinanto, Sunudyantoro, Dwi Eko Lokononto, Budi Hendrarto) > Surabaya Post Daily Newspaper > > > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > FREE email Newsletters delivered right to your in-box. > CNET, USAToday, RollingStone, and more� > Click Here Now! http://clickhere.egroups.com/click/314 > > > eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/barrac > http://www.egroups.com - Simplifying group communications > > > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > FREE email Newsletters delivered right to your in-box. > CNET, USAToday, RollingStone, and more� > Click Here Now! http://clickhere.egroups.com/click/314 > > > eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/pn94 > http://www.egroups.com - Simplifying group communications > > > > > > ______________________________________________________________________ > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia! > > > > > > > ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
