Info buat kumkum ([EMAIL PROTECTED]). Sekedar pelajaran politik
tambahan. Begini nak, ini ada contoh cara berpolitik yang ngawur, bikin
susah orang/kelompok lain pake simbul agama, tapi dia sendiri ngapusi yang
diperbudak. Jangan ditiru contoh yang kayak begini. 

Agama jangan dijadikan ALAT, kalau agama dijadikan ALAT, kamu kualat nanti.
Masak agama disamakan sama clurit buat mbacok kelompok lain, buat nyingkirin
orang lain, buat njatuhin orang lain.......!    wah kelompok itu ndak boleh
menang, ayo kita sikat............!      ndak boleh begitu ya nak, agama
adalah wahyu "seng nduwe dunyo", jadi mesti diamalkan dan bukannya dipake
neko-neko. Justru agama itu dipake sebagai udara, semangat, semangat yang
bakal nyatuin hubungan kita sama Gusti Alloh, juga antara kamu sama Hotman,
atawa Martin, atawa Hassan atawa yang lainnya. Itulah pentingnya agama.

Cepet besar ya nak.........!

> ----------
> From:         Solidamor[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Wednesday, June 16, 1999 2:33 PM
> To:   Solidamor
> Subject:      [reformasitotal] ADIL: Karyawan Menggugat
> 
> Pengantar SOLID-NET:
> 
> Pembaca yang budiman, redaksi Solid-Net menerima petisi dari karyawan Adil
> yang merasa tidak puas atas perlakuan pemilik (owner). Kawan-kawan dari
> Adil
> meminta kami untuk menyebarkan petisi ini. Atas perhatian pembaca yang
> budiman diucapkan terima kasih.
> ===========================
> 
> KARYAWAN TABLOID ADIL MENGGUGAT
> 
> Kepada Yth.
> Bapak Parni Hadi
> Komisaris Utama PT ADIL
> di Jakarta
> 
> Hal: Petisi atas pemasangan spanduk
> 
> Dengan hormat,
> 
> Pada Sabtu dini hari, 5 Juni 1999, di beberapa jalan utama Jakarta, mulai
> bertebaran spanduk berlogo Tabloid ADIL, dengan tulisan ukuran besar,
> berbunyi: Caleg Non-Muslim PDI Perjuangan Disorot. Kami mendapat
> informasi,
> spanduk dengan tulisan tersebut berjumlah 400 lembar dan dipasang di
> seluruh
> wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor dan Tangerang (Jabotabek).
> 
> Karyawan Bagian Usaha ADIL, mengatakan, pemasangan spanduk tersebut
> merupakan bentuk promosi bagi Tabloid ADIL, khususnya edisi 36, 9-15 Juni
> 1999, yang mulai beredar Sabtu siang, 4 Juni 1999. Menurut mereka, spanduk
> itu merupakan sumbangan dari Harian Republika. Dalam hal pencetakan dan
> penyebarluasan spanduk tersebut sudah mendapat persetujuan sepenuhnya Zaim
> Uchrowi, Direktur Utaman/Pemimpin Umum Tabloid ADIL.
> 
> Pembuatan dan penyebarluasan spanduk tersebut terasa sangat janggal.
> Sebab,
> selama ini, Harian Republika tidak pernah (berbaik hati) membantu ADIL
> untuk
> melakukan promosi. Selain itu, pemasangan spanduk yang bertepatan dengan
> berakhirnya maa kampanye, menunjukkan bahwa kegiatan "promosi" tersebut
> bermotif politik, yakni menyerang salah satu konstestan pemilu dalam hal
> ini
> PDI Perjuangan.
> 
> Sehubungan dengan pencetakkan dan penyebarluasan spanduk 'promosi' Tabloid
> ADIL tersebut, kami karyawan Tabloid ADIL yang bertanda tangan di bawah
> ini
> menyatakan protes keras.
> 
> Pertama, tulisan dan pesan spanduk tersebut mengganggu independensi ADIL
> dalam menjalankan tugas jurnalistik, sehingga bisa kehilangan nilai
> strategis dalam menjalankan visi dan missi ADIL. Kami tidak anti dakwah,
> tapi tidak rela menjadi corong kelompok kepentingan politik tertentu. Kami
> cinta Islam, tapi bukan untuk dipolitisir secara ekstrim melalui ADIL.
> 
> Kedua, tulisan dan pesan spanduk tersebut tidak sesuai dengan isi yang
> ditonjolkan Tabloid ADIL edisi 36 yang beredar pada Sabtu (4/6). Memang
> ADIL
> edisi tersebut menyinggung masalah caleg-caleg non-muslim di
> PDI-Perjuangan,
> tetapi tulisan itu bukan materi utama. Dengan demikian spanduk 'promisi'
> tersebut telah dengan sengaja menipu khalayak, khususnya pembaca ADIL.
> Dampaknya ADIL sebagai media yang selama ini banyak dijadikan rujukan,
> bisa
> rusak citranya dan jatuh reputasinya.
> 
> Ketiga, tulisan dan pesan spanduk tersebut jelas-jelas memposisikan ADIL
> sebagai media partisan. Padahal pendiri ADIL, Mbah Rono, sering memberikan
> pesan kepada karyawan, khususnya karyawan redaksi, agar ADIL menjunjung
> tinggi nilai-nilai jurnalisme dan menjadi media yang independen. Dalam
> banyak kesempatan, Pemimpin Umum ADIL, Zaim Uchrowi, juga sering memberi
> pesan serupa kepada segenap jajaran redaksi. Itulah sebabnya, kenapa
> selama
> ini, ADIL bisa menjadi media terpercaya dan bisa diterima oleh semua
> lapisan
> dan golongan masyarakat.
> 
> Keempat, tulisan dan pesan spanduk tersebut langsung atau tidak, telah
> menjebak ADIL kepada kepentingan politik sempit kelompok tertentu. Padahal
> Mbah Rono memberi amanat, agar ADIL menjadi media dakwah dan kontrol
> sosial
> bagi siapa pun. Karena sikap karyawan yang selalu memegang teguh amanat
> Mbah
> Rono itulah, menyebabkan media ini lebih mengutamakan kepentingan umat,
> bukan kepentingan kelompok politik yang dimanipulasi sebagai kepentingan
> ummat. Karena sikap itu juga ADIL bisa menjelma menjadi media yang
> dipercaya
> dan dirujuk oleh ummat.
> 
> Kelima, sejak awal Mei 1999 lalu, ADIL memang menjadi milik sepenuhnya
> Yayasan Abdi Bangsa (penerbit Harian Republika), setelah Timsco Grup
> mengembalikan seluruh sahamnya. Tetapi pengembalian saham itu tidak segera
> diikuti oleh rasa tanggungjawab Yayasan Abdi Bangsa, untuk memperhatikan
> ADIL dengan serius. Tiras ADIL kini berkisar antara 130.000 - 150.000
> eksemplar, malah sempat mencapai 280.000 eksemplar. Sebuah angka yang
> cukup
> tinggi di massa krisis ekonomi, tapi kesejahteraan ADIL -- mulai dari
> fasilitas kantor, operasional, dan gaji karyawan -- tidak mengalami
> peningkatan. Sebaliknya, kini Yayasan Abdi Bangsa, khususnya Republika
> yang
> dipimpin oleh Bapak Parni Hadi, justru menjadikan ADIL sebagai kuda
> tunggangan politik.
> 
> Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, kami karyawan ADIL meminta
> dengan hormat kepada Bapak Parni Hadi selaku Komisaris Utama PT ADIL dan
> sekaligus sebagai Pemimpin Umum Republika, untuk:
> 
> Pertama, menjelaskan kepada publik tentang motif dan proses pencetakkan
> dan
> penyebarluasan spanduk 'promisi' ADIL, sehingga bisa mengembalikan citra
> ADIL, sebagai media yang mengemban tinggi nilai-nilai jurnalisme, dakwah
> dan
> kontrol sosial sebagaimana diamanatkan Mbah Rono.
> 
> Kedua, tidak lagi menggunakan ADIL sebagai tunggangan politik kelompok
> tertentu dengan menggunakan sentimen agama, sebab ADIL adalah media yang
> ditujukan untuk kepentingan ummat, bukan kepentingan kelompok politik
> tertentu yang dimanipulasi menjadi kepentingan ummat.
> 
> Ketiga, meminta agar  Yayasan Abdi Bangsa --yang menjadi 'induk' Harian
> Republika-- bertanggungjawab atas kelangsungan hidup ADIL. Bila tidak bisa
> dan atau tidak mau, sebaiknya Yayasan Abdi Bangsa melepas kepemilikan
> sahamnya untuk dijual kepada pihak lain. Jangan mengombang-ambing nasib
> ADIL
> dan karyawannya dalam ketidakpastian masa depan.
> 
> Keempat, tumbuhkan moral agama dalam mengelola ADIL dan memperlakukan
> karyawannya. Jangan jadikan kami budak-budak pemuas ambisi politik,
> apalagi
> pribadi, dengan berkedok agama. Jangan pula kami dijadikan sapi perahan
> atau
> anak hilang yang hanya dirangkul bila menguntungkan.
> 
> Demikian surat ini kami buat, semata-mata demi menjunjung tinggi amanat
> Mbah
> Rono, profesionalisme dan kemajuan ADIL. Kami selaku karyawan ADIL merasa
> bertanggungjawab atas kelangsungan hidup dan reputasi ADIL.
> 
> 
> Jakarta, 8 Juni 1999
> 
> Hormat kami,
> Karyawan Tabloid ADIL
> 
> Tembusan:
> 1. Anggota Komisaris PT ADIL
> 2. Direktur Utama/Pemimpin Umum ADIL
> 3. Pemimpin Redaksi ADIL
> 
> Kami yang Menandatangani Petisi:
> Nama dan Jabatan
> 1.Christianawati (reporter)
> 2. Dikki Nursa (reporter)
> 3. Fajar Pratikto (asisten redpel)
> 4. Syahdan (reporter)
> 5. Asep Nurzaman (reporter)
> 6. Kurniawan (asisten redpel)
> 7. Evieta Pusporini (reporter)
> 8. Laksmi Nurwandini  (reporter)
> 9. M. Yani (reporter)
> 10. Johny (reporter)
> 11. Didik Supriyanto (redpel)
> 12. Suryawan (fotografer)
> 13. Purwanta BS (fotografer)
> 14. Edi Haryoso (fotografer)
> 15. Joko Prasetyo (sekred)
> 16. M. Mujib (koord. Pusdok)
> 17. Marjianto (staf Pusdok)
> 18. Syech Assegaf (manajer SDM)
> 19. Sri Handayani (staf SDM)
> 20. Riyadi (koord. Umum)
> 21. Sukadi (driver)
> 22. Slamet (office boy)
> 23. Ediyanto (office boy)
> 24. Gunawan (staf sirkulasi)
> 25. Alifi (staf sirkulasi)
> 26.  Budiyono (kolektor)
> 27.  Maman Taman (periset foto)
> 
> 
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> BrainPlay.com has all of your favorite Star Wars action figures,
> toys, video games and more. See details inside on how to receive 
> a FREE Star Wars Action Figure! "Feel the Force" today with 
> BrainPlay.com at:  http://clickhere.egroups.com/click/343
> 
> 
> SAPU BERSIH BAHAYA LATEN STATUS QUO: GOLKAR, DWIFUNGSI TNI, POLITIK SAR
> 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke