Buat yang masih suka menggosipkan Amin Rais, PAN dan koalisi dll.......
ini nih ada tulisan pak Amin di KR. Maaf kalau sudah banyak yang baca.....
Katanya masih harus tunggu 2-3 minggu lagi. Setelah itu pasti ada juga bahan
gosip lainnya ........
Jadi selamat melanjutkan gosip menggosip sampai awal bulan depan dan
seterusnya he..he...(kuat amat sih nggak capek-capek .....)
Tolong jangan melupakan tugas-tugas utama kita sendiri dalam dunia nyata.
Selamat bekerja .....(gosipnya selingan saja ....)
======================================
Koalisi Konkrit Baru 2-3 Minggu Lagi
KALAU kita berbicara mengenai koalisi atau aliansi kekuatan-kekuatan politik
pasca Pemilu 7 Juni lalu memang sebaiknya ditunggu sampai perhitungan final
hasil Pemilu sudah usai. Satu hal yang merupakan misteri bagi para pengamat
politik adalah cara pengumuman KPU yang selain sangat lambat, juga bisa
menyesatkan. Sampai Senin 14 Juni kemarin KPU selalu membuat proyeksi nasional
bahwa dua partai yang ada di barisan paling depan adalah PDI Perjuangan dan
PKB - sementara jauh di bawah PKB adalah Golkar, PPP dan PAN. Padahal nanti
dalam kesudahannya perolehan suara Golkar akan jauh berada di atas PKB,
sedangkan PKB, PPP dan PAN tidak akan mengalami keterpautan yang mencolok
seperti diperlihatkan oleh pengumuman KPU sekarang ini.
Sejak semula saya sudah menduga ada oknum-oknum dalam KPU yang berusaha
melakukan semacam brain washing bagi masyarakat dengan cara pengumuman yang
misterius dan sangat lambat seperti siput yang malas berjalan itu. Walaupun
demikian seluruh perhitungan yang dibuat oleh partai-partai politik besar,
Bapilu Golkar serta para pengamat independen menunjukkan bahwa hasil akhirnya
memang PDI Perjuangan tetap pada urutan pertama. Disusul Golkar dengan selisih
yang tidak terlalu jauh, baru kemudian antara PKB, PPP dan PAN berada di
urutan yang lebih di bawah.
Berdasar perhitungan seperti itulah maka PAN sudah melakukan semacam brain
storming. Memang sampai hari ini belum ada keputusan resmi dari DPP PAN
tentang koalisi. Tetapi saya sebagai ketua umum sudah bisa memberikan gambaran
yang relatif mendekati apa yang akan diambil oleh PAN.
***
MENGINGAT perolehan suara yang hanya sekitar 9% maka tentu PAN menjadi satu
pihak yang tidak bisa aktif untuk membangun koalisi. Sebaliknya, partai-partai
yang perolehan suaranya lebih besar justru lebih aktif mendekati PAN. Ini
persis seperti yang saya prediksi sejak dulu. Bahwa apabila perolehan suara
PAN memang besar maka bisa melakukan pelamaran terhadap partai lain untuk
membangun pemerintahan koalisi. Sebaliknya kalau perolehan suaranya kecil saja
seperti sekarang ini maka PAN akan dilamar oleh partai-partai yang lebih
besar.
Dalam menyikapi koalisi itu, ada beberapa pegangan yang dijadikan rujukan oleh
PAN. Pertama, apapun yang ditempuh oleh PAN, yang penting cita-cita reformasi
harus terus menerus didorong secara mantap. Baik di dalam maupun di luar
kekuasaan PAN akan selalu memegang teguh komitmen pada reformasi itu. Kedua,
apabila PAN sampai masuk ke koalisi maka karena perolehan suaranya yang
relatif kecil, dalam arti termasuk Lima Besar yang memang mungkin terkecil,
harus melihat manfaatnya bagi PAN sendiri, bagi pembangunan demokrasi, maupun
bagi kepentingan bangsa secara luas. Demikian juga apabila PAN hanya akan
duduk di lembaga legislatif, pertimbangannya pun akan tetap sama.
Dalam menyikapi hal-hal tersebut, maka untuk sementara ini bisa kita buat plus
minusnya. Apabila PAN bergabung dengan PDI Perjuangan maka ada beberapa syarat
mutlak yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yaitu, PDI Perjuangan harus punya
komitmen yang jelas untuk bersedia melakukan amandemen terhadap UUD 1945,
melakukan reposisi TNI sesuai dengan UUD 1945 atau berani meninjau Dwifungsi
ABRI secara proporsional, berani membawa kasus Soeharto lewat pengadilan yang
terbuka dan jujur, harus memberikan otonomi yang luas kepada wilayah-wilayah
Indonesia, serta ada komitmen-komitmen demokrasi yang tidak bisa dielakkan.
Apabila PDI Perjuangan bersedia memenuhi tuntutan itu maka ada kemungkinan PAN
bersedia masuk ke koalisi dengan partai tersebut. Demikian juga pertimbangan
yang sama akan berlaku kepada partai manapun juga yang masih setuju pada
reformasi.
Mengenai apa yang dikatakan oleh sementara tokoh DPP PAN bahwa PAN bersedia
bekerja sama dengan Partai Golkar, itu jelas merupakan pendapat pribadi. Bukan
pendapat resmi DPP PAN. Seperti saya katakan berulang kali, hal terakhir yang
dilakukan oleh PAN di muka bumi ini adalah bekerja sama dengan Golkar
mengingat partai itu merupakan bagian dari Orde Baru yang paling menonjol dan
sulit dibayangkan dapat melakukan reformasi total seperti yang dilakukan oleh
PAN.
***
MEMANG sekarang kartu koalisi terletak di tangan PAN. Karena dengan perolehan
suara PAN yang 9 sampai 10%, maka baik PDI Perjuangan, PKB maupun Golkar dan
partai yang lain sulit untuk mendapat suara 51% lebih tanpa kesertaan PAN.
Namun di sinilah terjadi dilema yang sangat menarik bagi PAN. Karena kalau
melihat perolehan suaranya yang hanya sekitar 9-10% tetapi kemudian dalam
mempertimbangkan koalisi setiap partai akan merujuk kepada PAN.
Sikap PAN adalah wait and see, karena yang penting reformasi harus jalan
terus. Di dalam komitmen 100 hari pertama setelah hasil Pemilu dihitung secara
final sudah jelas bahwa baik di dalam maupun di luar kekuasaan PAN akan terus
mendorong reformasi. Bisa dibayangkan andaikata PAN hanya ada di lembaga
legislatif maka PAN akan berusaha membuat produk-produk legislatif yang pro
reformasi yang menguntungkan rakyat banyak. Tidak mungkin PAN akan membela
sebuah produk legislatif yang merugikan masyarakat.
Sekali lagi, untuk membicarakan koalisi secara konkrit dan partai-partai mana
saja yang akan membangun koalisi itu memang perlu bersabar sampai 2 hingga 3
minggu mendatang.
____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!