Saya setuju, Pak AR memang sangat realistis sekali !
Tidak seperti kebanyakan tokoh yang lain.
Hidup Pak AR !
Semoga konsolidasi PAN untuk berbenah dan berpartisipasi
dalam Pemilu 2004 akan lebih berhasil dengan lebih baik.


Salam,
bRidWaN


At 11:57 PM 6/18/99 +0700, Martin Manurung wrote:
>Wawancara TEMPO dengan Amien ini bagus sekali, saya sangat menyukainya.
>Terimakasih untuk pengirimnya.
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>


>-----Original Message-----
>From: David Muhammad <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 18 Juni 1999 22:19
>
>Ada tanggapan ???
>
>
>
>TEMPO Sites
>
>
>Wawancara Amien Rais :
>"Aneh, Kalau Saya Ngotot Jadi Presiden"
>
>Amien Rais kini adalah orang yang paling realistis. Cita-cita Amien Rais
>untuk
>menjadi orang nomor satu diIndonesia harus dipendam dulu. Pasalnya,
>Partai Amanat Nasional (PAN) yang dijadikan kereta untuk menuju
>singgasana kepresidenan tak mampu meraih suara terbanyak saat pemilihan umum
>yang baru berlalu. Sampai saat ini, dari 50 persen suara yang masuk ke
>komite pemilihan umum (KPU),
>PAN baru meraih 8 persen suara. Jauh dari yang diperkirakan semula,
>meraih 20 persen suara.
>
>Memang, PAN bukanlah partai yang dibangun berdasarkan massa, tetapi
>berdasarkan  kesadaran rakyat terhadap politik. Kehadirian Amien Rais,
>sebagai tokoh
>reformasi, menurut laporan penelitian LP3ES baru bisa diterima sebagian
>besar rakyat Indonesia yang tinggal di perkotaan dan berpendidikan. Nah,
>untuk itulah, reporter TEMPO Interaktif, E. Sutikna mewawancarai bekas
>ketua Muhammadiyah periode 1995-1998. Wawancara dengan Amien Rais
>dilakukan di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur , Rabu siang (15/06)
>setelah jumpa pers, beberapa jam sebelum Amien Rais berangkat umroh ke
>Mekkah, Arab Saudi. Berikut petikannya :
>
>
>----------------------------------------------------------------------------
>----
>
>Bagaimana perasaan anda setelah melihat perolehan suara PAN saat ini?
>
>Terus terang kami sangat kecewa dengan peformance PAN yang tidak sesuai
>dengan prakiraan semula.>Tapi keadaan ini dapat dimaklumi, karena PAN masih
>bayi, masih berumur sembilan bulan. Kami berterima kasih pada Tuhan, sebab
>sejauh ini PAN
>termasuk 5 besar partai peraih suara terbesar, walaupun paling kecil
>diantara kelimanya.
>
>Menurut anda apa penyebabnya?
>
>Saya kira, ada dua cara untuk melihat hasil pemilu ini. Kalau dari aspek
>kami (PAN), rakyat rupanya tidak cukup cerdas untuk menangkap gagasan
>reformasi. Karenanya gagasan PAN tidak cukup banyak dikuti rakyat, sehingga
>yang mencoblos PAN hanya 9-10 persen. Tapi pandangan itu tidak benar juga,
>sebab dalam demokrasi,
>apa yang menjadi kata rakyat, itu yang dimenangkan. Jadi saat ini
>PDI-Perjuangan merupakan pilihan rakyat yang dianggap mampu mewujudkan
>impiannya. Selain itu kami juga tidak bisa mengatakan rakyat itu bodoh,
>mungkin rakyat yang lebih mengetahui apa yang terbaik buat mereka.
>
>Apakah ada faktor intern partai yang menyebabkan PAN tidak dapat meraih
>suara sesuai prakiraan?
>
>Yang jelas, faktor utamanya adalah faktor usia partai. Karena usia PAN masih
>seumur jagung.
>Kami tidak mempunyai kesempatan untuk membenahi sistem network,
>pengkaderan dan organisasi partai dengan baik. Mungkin isu yang dijual
>PAN tidak relevan dengan keinginan rakyat, khususnya kalangan bawah dan
>urban. Imej PAN selama ini identik dengan partai golongah menengah dan
>perkotaan.
>
>Penyebab lainnya?
>
>Saya melihat, terkait dengan politik aliran yang muncul lagi pada
>partai-partai tertentu.
>Masyarakat kita masih terpesona dengan romantisme lama, baik romantisme
>tokoh ataupun sentimen agama.
>
>Dengan perolehan suara itu, apakah anda masih tetap mencalonkan menjadi
>presiden?
>
>Dengan perolehan suara PAN yang hanya 9 atau 10 persen, saya sadar harus
>realistis, tidak mungkin ngotot untuk mencalonkan diri menjadi presiden.
>Aneh
>rasanya kalau saya tetap ngotot untuk mencalonkan diri menjadi presiden.
>Artinya anda mengundurkan diri menjadi calon Presiden?Partai saya bisa
>marah,
>kalau saya mengundurkan diri. Tetapi, kan, kesempatan untuk menjadi
>presiden itu sekarang sangat kecil.
>
>Seandai nanti banyak mahasiswa ngotot mencalonkan anda menjadi Presiden?
>
>Saya tetap bilang, tidak. Walaupun saya bilang, ya, karena didukung
>mahasiswa dan
>mengacuhkan suara rakyat lewat hasil pemilihan umum, itu tetap tidak
>pantas. Kalau saya, menerima desakan mahasiswa itu, tandanya saya bukan
>seorang demokrat.
>
>Lalu apa tujuan anda melakukan rangkaian pembicaraan dengan beberapa tokoh
>partai politik belakangan ini?
>
>Philosofi dalam hidup saya, dengan banyak membuka komunikasi dengan orang
>lain,
>akan menjadikan diri saya bijaksana dan semakin baik menyelesaikan
>setiap masalah. Pertemuan dengan pemimpin-pemimpin partai politik tidak
>untuk mencari dukungan politik atau apapun. Alasannya untuk mendengarkan
>dan mencari informasi sehingga saya dapat tahu masalahnya secara
>komprehensif. Hal ini kemudian akan saya terapkan dalam PAN.
>
>Apakah PAN nanti akan ikut dalam pemerintahan atau menjadi oposisi?
>
>Kami akan menjadi oposisi. Karena kalau masuk ke pemerintahan, PAN hanya
>menjadi mitra yang sangat kecil.
>Gagasan-gagasan PAN untuk reformasi total bisa tenggelam, tidak jalan.
>Oleh sebab itu, lebih baik menjadi watchdog yang kritis,cekatan dalam
>mengawasi jalannya pemerintahan.
>
>Apa PAN tidak memilih berkoalisi?
>
>Kalau untuk menyelamatkan bangsa, misal terjadi deadlock, kita pasti akan
>memilih berkoalisi untuk melanjutkan reformasi.
>
>Siapa yang akan di pilih PAN menjadi Presiden, Habibie atau Megawati?
>
>Ini saya kira pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Pilihan ini tidak
>sederhana, Mega atau Habibie.
>Kalau kami memilih Mega, kami harus membicarakannya dengan Mega mengenai
>agenda reformasi PAN yang sangat mendasar ;amandemen UUD 45, pencabutan
>Dwifungsi ABRI, pengusutan dan pengadilan Suharto keluarga dan kroni
>,serta dialog nasional tentang wacana negara federal. Mega harus
>menegaskan sikapnya terhadap usulan PAN tersebut. Kalau Mega dan
>anggotanya bisa menerima usulan tersebut, kita akan memilih Megawati.
>Mengenai Habibie, jelas-jelas tidak. Karena kami sangat tidak respek
>terhadap kebijaksanaannya terhadap pengusutan Suharto dan kroninya.
>
>Kalau dalam SU MPR nanti terjadi deadlock dalam pemilihan presiden, lalu
>dipilih presiden alternatif di luar partai, apa anda menerima?
>
>Saya tidak setuju, kalau yang diminta untuk menjadi presiden orang yang di
>luar partai.
>Saya masih percaya pada sistem demokrasi, segala sesuatu itu masih
>diselesaikan dengan baik dan elegan. Terlalu naif memilih mereka yang di
>luar partai. Misalnya,, Sri Sultan, seandainya dia dipilih menjadi
>presiden dan dalam jangka waktu enam bulan tidak mampu mengatasi masalah
>nasional. Lalu Dia akan berkata, yang minta saya jadi presiden, kan,
>anda. Saya takut nantinya mereka tidak mempunyai tannggung jawab moral
>terhadap jabatannya.
>
>Menurut anda bagaimana tatacara pemilihan presiden di Sidang Umum MPR nanti?
>
>Sebaiknya setiap partai yang masuk ke MPR membawa calon presiden
>masing-masing. Kemudian diuji tanya jawab yang ditayangkan lansung oleh TV
>swasta keseluruh Indonesia, biar semua rakyat bisa menilai calon
>presidennya. Dari situ baru anggota
>MPR kemudian memilihnya. Cara itu saya rasa baik sekali.
>
>
>=================================================================
>David Muhammad
 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke