>
>Dear Franca,
>
>Saya mendukung logika dan keabsahan hukumnya, tetapi mengkhawatirkan
potensi berulangnya sentralisasi kekuasaan dengan segala dampaknya.
>
>Kita memang membutuhkan Pemerintah yang effektip, dan mudah diperoleh
dengan mengandangkan representasi semua Parpol (pemenang kursi) kedalam
Kabinet.
>
>Tetapi kita juga sangat memerlukan DPR yang effektip, sehingga diperlukan
adanya Parpol besar yang tidak punya representasi di Kabinet, agar dapat
tetap bersikap independent. Partai yang cocok untuk itu ada 2, yaitu Golkar
atau PDIP.
>
>Teorinya memang selalu mengatakan bahwa ketika kader Partai duduk di
Kabinet, dia harus meninggalkan kepentingan partainya demi kepentingan
Negara. Tetapi prakteknya tidak mudah mengatasi konflik kepentingan ini.
>
>Ide "non vote member" bagi fraksi jatah (ABRI-Utusan Daerah- Utusan
Golongan) perlu diterapkan secara selektif, misalnya tentang pemilihan
Presiden, sehingga pencederaan demokrasi dapat diminimalisir.
>
saya lebih setuju dengan kaolisinya PDI-P,PAN,PKB yang jelas jelas diakui
oleh rakyat. kalau PDI-P dan GOLKAR, seakan-akan kita mensahkan golkar
mendapatkan suara dengan cara tidak benar. saya menyakini bahwa golkar
masih tetap partai yang mesti kita matikan karena secara nyata partai ini
telah merusak bangsa, bahkan secara angkuh tidak mau meminta maaf kepada
rakyat indonesia ( pernyataan sih akbar tanjung ) padahal mereka mengakui
telah berhasil membangun negara ini. memang partai ini harus di brendel
seperti detik dan tempo yang dibrendel oleh harmoko

cinta damai
dinand


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke