Numpang bicara.

Yang jelas Pemilu adalah memilih wakil rakyat, bukan Presiden.
Bahwa fenomena Megawati yang masih tetap "membisu" walau kemenangan 
Partainya nyaris nyata benar, justru menunjukkan sifat kenegarawanan, tidak 
asal clometan. Tanpa kita sadari, Habibie juga mengambil sikap "diam" dalam 
pencalonan Presiden, karena dia menyadari dirinya calon serius. Disadari 
benar bahwa kemenangan Pemilu baru kemenangan babak kualifikasi. Belum Grand 
Final. Mau bukti? Kemenangan David Coulthard di Silverstone barusan juga 
lebih karena dua peringkat utama kualifikasi (Schumy dan Hakkinen) terpental 
dari arena sebelum finish.

Lagipula selalu ada beban berbeda antara pemenang dan pecundang diarena 
politik.

Bagi pemenang, untuk mengkapitalisasi kemenangannya, orang harus lebih arif, 
tidak asbun, karena tanggung jawabnya bakal panjang. Sebisa mungkin 
mengurangi musuh, agar ketika kelak resmi memimpin mendapat dukungan yang 
luas. Apalagi kalau kemenangannya sekedar split decision.

Sedangkan bagi pecundang, ada dua hal yang perlu dilakukan.  Menerima atau 
melawan.

Untuk menerima, ada dua hal yang bisa dilakukan. Bergabung dengan pemenang 
atau resmi menjadi oposisi.

Untuk melawan, juga ada dua hal yang bisa dilakukan. Mendiskreditkan 
pemenang agar terbentuk opini publik yang menguntungkan ketika harus menjadi 
oposisi, atau menggalang fraksi pecundang untuk mengalahkan sang pemenang.

Itu sah sah saja dalam politik. Nggak boleh ada yang marah.

Kalau Megawati berhasil mengaktualisasikan kemenangannya dengan menggaet 
suara terbanyak di MPR, sahlah kemenangan dia.
Kalau Capres lain berhasil mengungguli Megawati dalam pengumpulan suara MPR, 
sahlah kemenangannya.

Lagian bukan sekedar Mega atau Habibie.

Kalau Amien Rais, atas dukungan Fraksi Islam dan lainnya berhasil menggalang 
suara terbanyak di MPR, sahlah kemenangan dia.

Nggak perlu 351 suara, yang penting mendapat suara terbanyak. Fidel Ramoz 
memenangkan kursi Presiden Philipina hanya dengan 20% suara Parlemen, dari 7 
calon yang bertanding. Clinton juga cuma 40% suara dari 2 calon, lawannya 
lebih sedikit, karena ada yang abstain. Dan itu sah kemenangannya.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada Hamzah Haz, Yusril, Dindin, atau 
Bintang, Agus Miftah dan sebagainya.

Nggak ada yang salah.

Suhu tinggi politik akan semakin menemukan bentuknya setelah tanggal 21 Juli 
1999, kalau KPU jadi mengumumkan hasil Pemilu. Yang jelas setelah pengumuman 
resmi hasil Pemilu 99. Entah kapan.

Disini semua aktor/aktress politik bermain dipentas demokrasi, dengan 
gayanya sendiri-sendiri. Asyik, isssue KKN mungkin akan tenggelam dengan 
sendirinya!!! Kasihan Teten.

Sebelum itu, semua perdebatan para elit yang terjadi selama ini nggak lebih 
dari kasak kusuk memposisikan diri. Bagi kita-kita, paling tinggi jadi arena 
pembelajaran adu argumentasi, untuk dipergunakan pada masalah riil yang kita 
hadapi sehari-hari. Termasuk kalau ada yang bercita cita jadi politisi.

Karena itu sebaiknya logic dan sedikit saja content emosinya. Supaya tetap 
berhubungan baik, walaupun secara pribadi nggak saling mengenal.

Salam,
Yap

"Cari musuh jauh lebih gampang daripada cari teman, tetapi untuk maju 
bolehlah diciptakan musuh bayangan (shadow enemy)".

>From: Raja Komkom Siregar <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Megawati adalah pilihan kebanyakan rakyat 
>Indonesia...
>Date: Wed, 14 Jul 1999 21:14:31 +0700 (JAVT)
>
>Mas Kojen - Duri wrote:
>
>Assalamu'alaikum wr.wb
>Semua rakyat yang memilih PDI Perjuangan  menginginkan Mega menjadi
>Presidennya. Demikian juga yang memilih Golkar tentu saja mengharapkan
>Habibie sebagai Presiden. Kenyataan sekarang bahwa PDI Perjuangan
>meraih
>suara terbanyak dibandingkan parpol-parpol lainnya. Dengan demikian tak
>bisa tidak Megawati adalah pilihan terbanyak rakyat Indonesia. Sebagian
>besar rakyat Indonesia ,memang menginginkan Mega sebagai Presiden mereka.
>Kemenangan PDI Perjuangan adalah kemenangan Mega dan kemenangan Mega adalah
>kemenangan rakyak Indonesia yang terbanyak.
>
>Tetapi sayangnya elite-elite politik dan sebagian parpol-parpol lainnya
>tidak menyadari kekalahan mereka! Dan mereka tidak memilih dan berpihak
>serta  mau menerima pilihan terbanyak dari rakyat Indonesia itu .
>
>
>Raja Komkom Siregar write :
>1. Rakyat Kita telah terbodohin dan tertipu oleh para elite politik baik
>itu dari PDIP, GOLKAR,PAN, PPP, dsb. yang telah mengkondisikan opini
>rakyat bahwa mereka itu milih presiden, padahal wakil rakyat.
>2. Sadarlah, anda milih wakil rakyat, bukan milih presiden.
>3. Seharusnya dari awal rakyat dikondisikan untuk berfikir secara benar,
>jangan dibodoh-bodohin lagi.
>4. Faktanya dibodoh-bodohin oleh elite-elite.
>5. Sadarlah, apakah anda sudah termasuk point 4 ?
>6. Aku sendiri sudah termasuk dalam point 4.
>7. Elit-elit politik kita baru dalam tahap belajar juga.
>8. Jadi sadarlah, dan baca point 7, jangan emosi, santai aja.
>9. Rakyat juga lagi belajar.
>10.Percayakan wakil rakyat untuk milih presiden.
>11. Setuju point 10 ?
>12. Kalau nggak, ganti warga negara atau ganti UUD, ganti konstitusi.
>13. bye.
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke