Reformasi tidak akan tamat! Apabila hasil SI nanti menunjukan gejala awal bahwa Pengusutan dan Pembongkaran kasus-kasus KKN sebagai tuntutan reformasi total terhenti maka rakyat pasti akan kembali bersatu. Saat ini, semua masih menunggu hasil SI. Saya rasa ini memang ban sekedar masalah Mega atau Habibie. Oleh karena itu, kembalinya pilar-pilar kekuasaan Orba ke pentas poltik dengan tujuan untuk mebuat abu-abu kasus KKN sebenarnya mengandung potensi cukup besar untuk membuat Indonesia kembali menjadi tidak stabil. Apakah ABRI kembali akan menghadapi mereka? Jelas berita korupsi puluhan trilyun di Pertamina dan Bulog serta kasus-kasus KKN sudah menyebar di tengah tengah masyarakat lewat media cetak maupun elektronik. Rakyat semakin well informed. Saya khawatir sumbu itu mudah sekali tersulut. -----Original Message----- From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Date: 16 July 1999 23:30 Subject: [reformasipolitik] Beri AR kesempatan Sekarang perhitungan suara hasil Pemilu sudah bisa dianggap konkrit. Dengan melihat data perolehan suara, tidak ada jaminan PDIP meloloskan Capresnya di MPR, sehingga sangat mungkin Golkar memenangkan pencalonan Habibie. Sebaliknya Faksi Islam mempunyai potensi muncul sebagai kuda hitam untuk menyelamatkan reformasi. Dengan asumsi bahwa Pemilu 99 dimaksudkan untuk memenangkan tujuan reformasi, maka sangat baik apabila Prof DR. Amien Rais (AR) diberi kesempatan muncul sebagai Capres yang terutama didukung Faksi Islam. Kemunculan AR akan cukup meredam kekhawatiran banyak orang tentang kekurangan Mega maupun Habibie dan sekaligus menjamin kemenangan pro reformasi. Potensi Golkar yang perlu dicermati adalah keunggulannya dilebih banyak Propinsi, sehingga mendapat keuntungan tambahan suara UD dan mungkin UG lebih banyak dibanding Partai lainnya. Skenario terbaik adalah : AR dan Mega sama sama maju sebagai Capres, sehingga ruang gerak Golkar cs dapat dibatasi. Dengan munculnya AR, maka bagi anggota MPR yang tidak menerima Mega masih punya pilihan AR sehingga tidak berbelok ke Habibie. Dalam skenario ini, perolehan Golkar cs diperkirakan sekitar 30%, sehingga terdapat kans yang sama bagi AR dan Mega untuk memenangkan pemilihan Capres, yaitu berbagi yang 70% itu. Kalaupun berbagi sama besar, Pemilihan ulangan hanya diikuti kedua Capres itu, nggak masalah siapa yang menang, tetap masih dalam barisan Reformasi. Skenario kedua adalah : PAN kembali ke Ciganjur/Paso dengan konsekuensi Golkar mendapat tambahan kekuatan dari PPP cs. Kompromi �tersulit� adalah siapa Capresnya. Dengan skenario ini, kemungkinan terbaik Golkar hanya 44%, sehingga Aliansi Reformasi punya kesempatan meraup 56%. Semuanya dengan asumsi bahwa suara TNI diperkirakan akan diberikan pada kelompok yang dengan tambahan suara itu akan keluar sebagai pemenang. Sehingga ketidak netralan TNI adalah memberi penguatan kepada calon pemenang. Dalam kedua skenario diatas, hampir pasti TNI tidak akan bergabung ke Golkar cs karena nggak bakal menang. Worst case-nya adalah apabila yang terjadi PAN bergabung ke Golkar cs. Dengan skenario ini hampir dapat dipastikan Golkar cs memenangkan pencalonan Capres, karena TNI pasti ikut main safe ke Golkar pula. Dari skenario ini Golkar cs akan memperoleh sekurangnya 60% suara MPR. Dan tamatlah cerita reformasi. Any comment? > ______________________________________________________________________ If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email; To subscribe: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
