Kepadamu Aceh

Duh Aceh, namamu bak nama seorang gadis cantik yang mema- bukkepayangkan lelaki asing.
Antrian mereka merebut perhatianmu agar kamu, Aceh, simpati kepadanya. Di abad ke-18
lelaki Belanda memperkosamu dengan cara biadab. Mahkotamu (Masjid Baiturrahman)
mereka bakar dan istana sultan mereka porak-porandakan. Namun, engkau tidak menyerah.
Ayahmu Aceh, Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah rela dibuang ke pengasingan demi
martabatmu yang mulia.
Kemudian pria pendek bermata sipit dari negeri Sakura merebutmu dari tangan pria 
Belanda.
Kamu tak pernah dijadikan ratu yang pantas mendapat kehormatan, malah dijadikan budak
yang hina-dina. Setelah lelaki penyembah matahari itu minggat, engkau dilamar lelaki 
Indonesia
yang pandai merayu. Kepadamu diberi berbagai gelar yang bisa meninabobokkan kamu, Aceh
manis sayangku.
Lelaki itu menjulukimu ratu Serambi Mekkah, Bumi Iskandar Muda, Tanah Rencong, Daerah
Modal, dan yang terakhir Daerah Istimewa. Lalu ayah dan wali-walimu begitu bangga, 
mabuk
dengan pujian, dan tenggelam dalam persaudaraan yang munafik. Mulutnya memuji-mujimu
setinggi langit, tetapi hatinya busuk seperti bangkai yang menyengat indra perasa.
Tubuhmu dikuras berdarah, raut wajahmu terbayang luka, hatimu pedih bagai teriris, 
rencong
saktimu menjadi tumpul, baju adat kebesaranmu tinggal dalam museum, dan kopiah
meukutop-mu diinjak- injak oleh arogansi sentral kekuasaan. Kini Aceh kusayang, engkau
seperti wanita yang terus berduka. Di raut wajahmu yang sendu memang masih tersisa
kecantikan warisan Putroe Phang nan jelita.
Dalam penderitaan panjang, wajar engkau minta cerai dari suamimu sekarang. Sebab,
suamimu yang banyak "gundik" itu tak mampu memberi keadilan sebagaimana yang engkau
harapkan. Duh, nasibmu Aceh! Apakah engkau kurang diperhatikan karena jauh dengan pusat
kekuasaan? Atau karena engkau terkenal fanatik berpegang teguh kepada ajaran Islam?
Oh, Acehku malang! Saat orang lain bersenang-senang dengan lagu dangdut dan wayang
wong, engkau menangis dengan darah dan air mata. Tangisanmu kali ini semakin 
melengking,
jeritanmu semakin nyaring. Dunia sudah mendengarnya. Tapi, apakah dunia bersimpati
kepadamu atau tidak? Tak ada yang tahu wahai Acehku sayang, Acehku malang. Biarlah
sejarah akan mencatat, seorang putri cantik keturunan mulia, menjadi korban kebiadaban 
lelaki
tak bertanggung jawab.


***********************************
chickclick.com
http://www.chickclick.com
girl sites that don't fake it.
http://www.chickmail.com
sign up for your free email.
***********************************

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke